Jumat, 19 Mei 2017

Mengajarkan Jeda Pada Anak Sehingga… (Bagian 1)


Oleh Nita R. Fitriantini

Apa yang mungkin terjadi jika Anda menyalakan keran air sepanjang hari? Maka tentu saja, air akan meluap dan memenuhi kamar mandi bahkan ruangan-ruangan lain di rumah Anda. Dengan kata lain dapat terjadi banjir di rumah Anda.

Banjir itu pula yang nampak pada banyaknya komentar pada sebuah postingan foto selebritis yang terkena skandal atau berita politik yang penuh pro dan kontra. Komentar-komentar yang mengalir tanpa jeda, melelebar ke mana saja, memasuki setiap celah, menggenangi hampir semua permukaan. Komentar yang kadang tanpa pertimbangan rasa bahkan moral. 

Inilah realita dunia sekarang. Dunia yang penuh dengan informasi, tanpa sekat, tanpa batas, dan setiap orang dapat mengaksesnya. Dunia yang banjir informasi, termasuk banjir komentar, baik yang positif maupun negatif. Sayangnya manusia lebih suka memberikan penilaian secara negatif, baik itu kata-kata yang menyerang, memaki, menyindir, dan menghakimi. Mengomentari dengan kalimat yang destruktif memiliki pola yang khas, yakni tiba-tiba, tanpa perencanaan, tanpa pertimbangan, reaksi yang terlalu spontan dan biasanya disertai dorongan yang menggebu-gebu atau impulsif. 

Reaktif dan impulsif tidak sepenuhnya buruk karena bayi hingga usia pra-sekolah sering melakukannya. Hal ini masih wajar karena mereka berada pada periode yang belum bisa meregulasi emosi dengan baik. Jadi jika anak-anak di Taman Kanak-kanak masih sulit untuk fokus pada hal yang butuh konsentrasi lama, atau tiba-tiba bicara sebelum lawan bicaranya selesai bicara, serta tindakan lain yang bersifat spontan tanpa pertimbangan, maka hal ini masih tergolong wajar. Itulah kenapa, di sekolah sangat penting anak diajarkan mengantri, memakai mainan bersama teman atau saling berbagi, diajak sering-sering mendengarkan cerita, tidak lain adalah agar anak belajar mengelola dorongan dalam dirinya untuk tidak bersikap impulsif. 




Jika pada masa anak pemberian stimulasi ini gagal maka bisa jadi perilaku tersebut terbawa sampai dewasa. Perilaku impulsif ringan pada orang dewasa misalnya berbelanja di luar rencana karena dorongan diskon. Perilaku impulsif yang lebih serius bisa nampak pada perilaku yang dibahas pada awal tulisan ini, yaitu bertindak atau berkata-kata yang bersifat menyerang pada orang lain, tanpa mempertimbangan rasa, nilai-nilai moral, dan agama. Terjadi kehilangan kontrol dan seperti air yang mengalir tanpa jeda. Jika perilaku ini tidak ditangani serius bisa mengarah pada permasalahan yang lebih besar. 

Berikutnya 1 2

Share:

3 komentar:

  1. Bu nita....tengkyu so much reminder nya....bermanfaat banget....masih terus mencoba utk menjadi guru tk yg penuh dg kesabaran hati memghadapi segala prilaku anak anak ini....terus dan terus beri semangat ya bu nita utk saya.....nuhun pisan

    BalasHapus
  2. Bu nita....tengkyu so much reminder nya....bermanfaat banget....masih terus mencoba utk menjadi guru tk yg penuh dg kesabaran hati memghadapi segala prilaku anak anak ini....terus dan terus beri semangat ya bu nita utk saya.....nuhun pisan

    BalasHapus
  3. Sama-sama Bu Tita, semoga kita terus belajar dan mengaplikasikan sedikit ilmu-Nya ini untuk kebaikan bersama

    BalasHapus