Senin, 05 Oktober 2020

Kesehatan Jiwa untuk Semua: Sebuah Monolog



Oleh Duddy Fachrudin & Nita Fahri Fitria 

Rapuh, jatuh, meluruh. Hidupku tiada bedanya dengan pohon yang nyaris runtuh.

Aku selalu terburu-buru. Meski tak jelas apa yang diburu. Yang kudapatkan justru cemas, sedih, dan gaduh. Jiwaku bergejolak tak menentu.

Dalam rasa yang mengharu biru, kusadari ada yang salah dengan langkahku.

Ternyata ada yang lebih penting dari sekedar memburu keinginan-keinginan. 

Ketenangan... kedamaian pikiran... kemampuan mengelola perasaan... Itu yang aku butuhkan.

Menjalani momen demi momen dengan penuh kesadaran, penerimaan, dan kebersyukuran. Melepaskan diri dari jerat ilusi pikiran yang tidak memberdayakan. Memaafkan masa lalu, dan tak lagi mengkhawatirkan masa depan.

Hening, mengalir, selaras... hadir sepenuhnya. Mengisi ruang dan waktu dengan penuh makna dan keikhlasan.

Hidup dalam kesederhanaan, tanpa penghakiman.

Ah... Dipikir-pikir, perjalanan hidup itu menyenangkan. Seperti ketika kita memandang cahaya secara perlahan-lahan. Indah bukan? Maka bahagia itu nyata... ketika aku peduli pada kesehatan jiwaku.

Melalui hidup berkesadaran, tak lagi terdistraksi pada ambisi semu. Yang ada adalah tumbuh menjadi pribadi seimbang, kokoh, dan utuh.

Kini, dalam ketidakpastian, mencoba untuk tidak mengendalikan. Berfokus saja menebar cinta dan kebaikan.

Segala peristiwa yang hadir di esok hari adalah tamu yang perlu aku sambut dengan riang gembira. Mereka merupakan guru yang merawat serta memandu perjalanan rindu.

Kesehatan jiwa untukku dan untukmu.

Kesehatan jiwa untuk semua.


Sumber gambar:
http://www.mindfulnesia.id/2020/03/mengatasi-overthinking-dengan-mbct.html

Share:

0 komentar:

Posting Komentar