Selasa, 12 Februari 2019

Ikhlas Melepas: Selamat Jalan Orang-Orang Tercinta


Oleh Tauhid Nur Azhar

Selamat jalan mereka yang terkasih. Sungguh hidup pada hakikatnya hanyalah sebuah persinggahan singkat tapi sangat indah dan penuh makna yang terangkum dalam kenangan...

Kadang kita bertanya mengapa Allah mengaruniakan kita ingatan? Memori dan kenangan yang merajai hipokampus dan amigdala kita. Lalu karenanya kita merindu pada mereka yang terpisah jarak dan waktu. Orang-orang yang kita cintai, mereka yang memberi arti dalam hidup kita, mereka yang tidak sekedar singgah tapi juga memberikan banyak hal indah yang mengkristal menjadi kenangan. 

Meski kadang cinta dan rindu itu seolah mampu menaklukkan waktu, pada nyatanya tak ada yang abadi di dunia yang memang fana ini. Semua akan pergi dan kita harus belajar ikhlas untuk melepas. 

Usia akan melaju dan kita pun akan kehilangan sekurangnya 5 perkara: muda, sehat, kaya, sempat, saudara dan sahabat , dan pada gilirannya kita akan sendiri meski tak sepi untuk mempertanggungjawabkan secara mandiri apa yang telah kita rencanakan, lakukan, dan lalui dalam kehidupan. 


كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al Ankabut: 57)


كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَڪُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. 
(QS Ali Imran : 185)

Rasulullah Saw. memberikan kita panduan yang bernas tapi sangat cerdas, mengingat manusia pada dasarnya eksploitatif, egois, serakah, dan tak mau susah dalam ibadah dan riyadah. Maka indikator keberhasilan hidup kita dibuat sederhana: seberapa bermanfaat kita bagi semesta dan sesama? Khoirunnas anfauhum linnas. 

Karena kita cerdas dan manipulatif maka kita kerap menimbulkan kerusakan di muka bumi. Sifat tamak yang eksploitatif tak terarah sering mendestruksi keseimbangan dalam kehidupan. Akibatnya dunia lambat laun rusak dan mengalami pelapukan katastropik yang analog dengan kondisi patologis degeneratif pada tubuh manusia. 

Maka sekedar seulas senyum yang dapat hangatkan suasana sudah teramat sangat berdayaguna bagi sesama. Di dunia yang lelah ini nasehat Ayah dan kasih sayang Ibu yang senantiasa mendoakan dengan cucuran air mata di sepertiga malam adalah telaga berkah: Danau Kautsar yang penuh dengan linangan kenangan dan banjir peluh tanpa keluh. 

Semua terseduh dalam doa yg hadirkan teduh... itulah makna dari hadirnya orang-orang yang kita kasihi yang mungkin hari ini sudah terlebih dahulu kembali ke hadirat Illahi. 

Kenanglah mereka dengan senyum, dengan zikir, dan dengan pikir... bahwa kebaikan, kehangatan, dan cinta mereka yang tuluslah yang telah menghantar kita menjadi pribadi yang mampu memaknai arti hadir dan indahnya hidup di karunia usia yang tengah kita jalani ini.

Al Fatihah untuk mereka semua yang telah ikhlas mencintai kita apa adanya...

Sumber gambar:
https://picgra.com/user/duddyfahri/10148958272

Minggu, 10 Februari 2019

Berlatih Sabar dengan SOBER


Oleh Duddy Fachrudin

Alkisah seorang cowok keren berkelana dari kampungnya nun jauh di sudut Sanur menuju Jakarta, sebuah kota yang penuh ambisi dan memiliki tingkat stres yang tinggi. Meskipun begitu kota tersebut merupakan kota cinta dan penuh hikmah, setidaknya bagi pemuda ini.

Ia merantau mencari ilmu dan karena kecerdasannya ia diterima di jurusan psikologi di kampus ternama. Kadek nama pemuda itu, yang selama menempuh studi lebih banyak melakukan eksperimen kehidupan dibanding membaca buku. Ia bahkan jarang terlihat belajar oleh teman-teman atau dosen-dosennya. Namun nilai-nilainya justru yang paling tinggi dibandingkan dengan teman-teman satu angkatannya.

Semua orang curiga bahwa ia melakukan kecurangan, seperti mencontek atau bahkan menyogok. Teman-temannya berkomentar negatif tentangnya, bahkan ia juga mulai dijauhi oleh mereka. Hanya seorang karib yang senantiasa menemaninya, meskipun ia berada di kota sebelah tempat Kadek menempuh studi.

Sendiri ia menghadapi kenyataan yang sebenarnya fiksi. Jiwanya gelisah ingin marah serta membuktikan diri bahwa ia tak bersalah. Namun kemudian ia teringat pesan gurunya di Sanur, "Orang-orang yang berkomentar menjelekkan adalah mereka yang belum mengenal kebenaran dan tersentuh cinta dalam hatinya."

Maka pesan itu yang menjaganya untuk tetap bijaksana layaknya Arjuna yang tak ternoda dan bercahaya mengendara kereta di Padang Baratayudha sembari ditemani Krisna.

"Mereka (Kurawa) juga saudaraku, maka jika aku menjelekkan atau berkomentar negatif kepadanya sama seperti melukai diriku sendiri."

Begitulah Kadek berbagi rasa dengan teman satu-satunya di suatu senja di Kedai Kopi 372 Dago Pakar.

Tak ada yang kebetulan. Sore itu diskusi menarik tentang "Menerima dan Memaafkan" tersaji bersama hangatnya kopi dibawakan oleh Bu Diana, seorang Guru Mindfulness dari kaki Gunung Ungaran dan muridnya mba Fefi.

Kadek dan temannya mengikuti diskusi interaktif yang diselingi musik dan latihan mindfulness nan asyik. Salah satu latihannya adalah SOBER.

SOBER merupakan konsep dari sabar yang merupakan bagian dari hidup mindful. "Carilah pertolongan, salah satunya melalui sabar..." Begitu ujar Bu Diana di hadapan audiens yang begitu antusias...

Bu Diana kemudian meminta mba Fefi menjabarkan SOBER. Dengan mindfulnya, wanita berparas lembut itu menyampaikan SOBER yang ternyata merupakan sebuah singkatan dari:

Stop
Observe
Breathing
Expand
Respond


"Bisa dijelaskan lebih lanjut"?, tanya seorang peserta bernama Anisa, seorang staf riset dan pengembangan di sebuah sekolah bisnis yang saat itu sedang mempelajari mindfulness.

Mba Fefi kemudian melanjutkan:

Stop: disaat mendapatkan suatu kejadian yang tidak menyenangkan, kita tidak langsung merespon. Tapi ijinkan diri kita untuk sejenak berhenti.

Observe: lalu amati pikiran dan perasaan kita, termasuk amati lingkungan juga.

Breathing: kemudian tarik nafas. Ijinkan diri kita nyaman, rileks dan dalam kondisi yang tenang serta penuh kedamaian.

Expand: setelahnya kita mungkin mendapatkan berbagai alternatif respon yang bijaksana atas peristiwa negatif yang baru saja terjadi.

Respond: kalau sudah mendapat respon terbaik, lakukan respon tersebut.

"Itulah SOBER," lanjut mba Fefi.

Kadek yang menyimak diskusi itu semakin yakin bahwa komentar negatif hanya bisa dikalahkan dengan mempraktikkan SOBER.

Sumber gambar:
Dokumentasi Pribadi

Kamis, 24 Januari 2019

#2019HidupLebihMindful


Oleh Duddy Fachrudin

Lasse Rouhiainen dalam bukunya yang sangat fresh yang berjudul Artificial Intelligence: 101 Things You Must Know Today About Our Future menuliskan 11 skills yang dibutuhkan di masa depan. Salah satu keterampilan tersebut ialah mindfulness, suatu kemampuan dalam memberikan perhatian penuh terhadap suatu hal. Setidaknya ada 3 hal penting mengapa keterampilan ini perlu dimiliki oleh kita:

1. Perkembangan jaman yang begitu cepat membutuhkan sebuah cara bagi kita untuk mengelola pikiran, perasaan dan juga perilaku. Mindfulness berperan di sini agar kita pandai dalam menata kondisi mental kita. Tidak jarang bagi mereka yang kesulitan mengelola jiwanya terjerembab dalam kesepian, depresi, dan kecanduan internet--tiga permasalahan psikologis yang berkembang pesat di era digital.

2. Dunia telah berubah dimana setiap insan dituntut untuk semakin cerdas (smart people). Maka pengambilan keputusan menjadi suatu hal yang krusial, khususnya bagi kita. Mindfulness mengembangkan kehati-hatian, sadar dan waspada daripada keterburuan sehingga keputusan yang diambil merupakan hasil dari olah nalar yang bijaksana.

3. Setiap manusia meyakini kedamaian dan ketenangan adalah kondisi yang selalu diperjuangkan. Kedamaian tidak akan tercipta tanpa adanya cinta kasih (compassion). Mengembangkan cinta kasih merupakan bagian dari kehidupan yang mindful yang juga turut serta menciptakan keseimbangan pada alam semesta.

#2019HidupLebihMindful

Sumber gambar:
http://www.lasserouhiainen.com/artificial-intelligence-book/

Rabu, 23 Januari 2019

Melakukan Respon ala Five Facet Mindfulness

Oleh Duddy Fachrudin

Bayangkan Anda adalah seorang audiens yang sedang menyimak sebuah seminar. Lalu seseorang presentasi di depan Anda dengan terbata-bata. Tak jarang salah kata menyertai komunikasinya. Namun ia terlihat sangat berusaha menyampaikan makna dari setiap ucapnya.

Respon apa yang Anda berikan?

Berbagai pikiran, perasaan, ingatan, persepsi, prasangka turut campur dalam pengambilan keputusan, yaitu respon atas apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan.

Hampir sebagian besar stimulus yang tidak menyenangkan akan disikapi negatif, bukan? Seperti halnya contoh di atas, mungkin kita akan nyeletuk, "Tidak bermutu", atau "Jelek, kok bisa sih dia bicara di depan umum?"

Kata-kata negatif keluar dari pikiran, hati, dan mulut kita mengotori semesta yang indah.

###

Bersikap mindful adalah upaya untuk tidak melakukan judgement dan merespon secara reaktif. Untuk bisa berada pada titik tersebut ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui.

Maka, Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) hadir untuk melihat sejauhmana seseorang dapat mindful dalam kehidupannya. Alat ukur ini merupakan pengembangan dari Kentucky Inventory Mindfulness Skills (KIMS).

Terdapat penambahan satu aspek mindfulness, yaitu non-reactivity pada FFMQ, yang melengkapi aspek observing, describing, act with awareness, dan acceptance without judgement/ non-judging yang sudah ada sebelumnya di KIMS.

Mari satu persatu kita lihat aspek-aspek dalam FFMQ ini:

Observing, kita belajar memberikan perhatian atau mengamati stimulus yang hadir dan juga dunia internal (pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh) kita.

Describing, di titik ini kita dapat menggambarkan sekaligus mengungkapkan apa yang ada dalam dunia internal dan eksternal dengan tepat.

Act with awareness, saat dimana perhatian tertuju sepenuhnya pada objek yang kita hadapi. Atau kita sepenuhnya bertindak secara sadar dalam aktivitas kita. Biasanya supaya benar-benar menyadari sepenuhnya, kita tidak multitasking.

Acceptance without judgment, menerima pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh tanpa melakukan penilaian. Hmm... mungkin disini Anda akan mengernyitkan hati. Tanpa melakukan penilaian? Apakah bisa?

Non-reactivity, maksudnya tidak prematur memberikan respon, kita berusaha untuk tenang dalam mengambil sebuah keputusan. Dan saat ketenangan tercipta, kebijaksanaan menaungi keputusan yang kita ambil.

###

Ikuti alur aspek-aspek mindfulness dalam FFMQ, lalu bayangkan kembali presenter yang terbata-bata tersebut dalam imajinasi Anda.

Respon apa yang Anda berikan?

Good Job!

Sumber gambar:
https://www.freepik.com/free-vector/good-job-sticky-note-illustration_2631963.htm

Kamis, 17 Januari 2019

Keliling Singapura 5 Hari Hanya 525 Ribu


Oleh Duddy Fachrudin

Bersama Prof. Aviad Haramati, Pencetus Mind-Body Medicine
 (Mindfulness Approach) di Georgetown University dan rekan-rekan FK UGM

Ongkos di atas tentu tidak termasuk penginapan, biaya transportasi Indonesia-Singapura-Batam-Jakarta, melainkan biaya hidup selama 5 hari di Singapura, membeli simcard lokal, plus membeli oleh-oleh sederhana.

Adalah undangan untuk melakukan short communication di Asia Pasific Medical Education (APMEC) ke-15 pada tanggal 9-13 Januari 2019 di National University of Singapore (NUS) yang membuat saya berkunjung ke Lion City tersebut.

Pada saat berangkat saya hanya menyiapkan 100 SGD dan 250 ribu rupiah di dompet. Saya terbiasa tidak membawa uang banyak ketika melakukan perjalanan, apalagi di Singapura terdapat ATM BNI di kawasan Robinson Road.

Selain uang, roti sobek 2 bungkus menjadi bekal untuk berhemat di sana, setidaknya selama 2 hari pertama. Satu hal lagi yang wajib dibawa adalah botol minum yang siap sedia di-refill di penginapan, bandara, atau masjid-masjid di Singapura.

Hari 1:
Pengeluaran wajib ketika tiba di Changi Airport sore hari adalah melakukan top up kartu MRT. Kartu ini dipinjamkan oleh rekan kerja saya, sehingga saya tidak perlu membeli yang baru. Isi ulang saldo 15 SGD.

Agenda hari pertama ini menuju penginapan di daerah Chinatown. Melalui Terminal 2 Changi kita bisa fare menggunakan MRT. Untuk bisa ke Chinatown kita perlu transit di Expo. Sesampainya di penginapan lalu jalan-jalan di sekitar Chinatown. Makan malam hanya roti yang dibawa dari Indonesia.

Hari 2:
Karena hanya mengikuti Main Conference yang dimulai pada tanggal 10 Januari, maka agenda hari ke-2 adalah jalan-jalan. Jalan-jalan di Singapura berarti benar-benar jalan kaki, karena pejalan kaki sangat diutamakan. Setelah check out, saya menuju Masjid Jamae Chulia yang malam sebelumnya juga saya kunjungi untuk sholat maghrib dan isya.

Tidak sengaja, saya bertemu mahasiswa S-2 IPB yang sedang solo traveling. Akhirnya kami menjelajah Pura Sri Mariamman Temple, Buddha Tooth Relic, Singapore City Gallery, Stasiun Chinatown - City Hall (transit di Dhoby Ghaut) lalu menuju St. Andrew's Cathedral dan National Gallery Singapore untuk ngadem (istirahat).

Siang yang terik tetap membuat kita melangkahkan kaki ke Esplanade Park. Di taman yang teduh, 1,5 SGD ditukar dengan es krim durian yang lezat lalu menikmatinya sebelum bertolak ke Esplanade Bridge. Jalan setapak menuju Helix Bridge dari The Float Marina Bay sayangnya ditutup membuat kami kembali ke Esplanade Bridge-Merlion-Stasiun Raffless Place. Di kawasan Raffles sejenak sholat di sebuah basement gedung perkantoran dan mengisi botol air lalu dengan tenaga tersisa menuju Botanic Garden.

Karena kelelahan dan waktu juga sudah sore, kami hanya berkunjung ke satu tempat di Botanic Garden, yaitu Eco Lake. Dari Botanic Garden menuju Bugis mencoba mee goreng telor dan es kopi dengan total harga 6,5 SGD di sebuah warung halal di belakang Masjid Sultan. Kami berpisah setelah makan, dan saya menuju penginapan kedua yang terletak di kawasan Farrer Park Little India. Setelahnya check in, jalan-jalan seputar Little India dan sholat di Masjid Malabar sekaligus memasukkan 1 SGD ke kencleng masjid.

Hari 3:
Agenda hari ketiga adalah menuju Fort Canning Park, beli tiket ferri di Harbourfront, dan mengikuti pembukaan Main Conference APMEC. Untuk menghemat saldo di kartu MRT, setelah check out, saya berjalan kaki dari Farrer Park ke Fort Canning melewati kios demi kios di Little India. Keliling di sana hingga puas kemudian memandangi boat yang lalu lalang di Singapore River di Quark Clay sebelum bertualang kembali ke Harbourfront.

Pengeluaran hari ketiga lumayan banyak, yaitu 29 SGD, namun uang sebanyak ini digunakan untuk membeli tiket ferri menuju Batam (25+3 SGD karena mengubah jadwal). Sementara 1 SGD digunakan untuk membeli air mineral dingin di Masjid Temenggong Daeng Ibrahim di seberang Sentosa Gateway. Jadi jika menihilkan pengeluaran transportasi ferri, maka pengeluaran hanya 1 SGD.

Malamnya, berbagai menu asyik nan mewah terhidang di saat gala dinner setelah opening APMEC.

Check in di hotel terakhir di kawasan Bugis. Saya menyewa untuk 2 malam, namun ternyata i've made a mistake! Saya menyewa kapsul di female dorm! Untungnya ada 1 kapsul kosong di hari ke-3 ini di mix dorm, tapi tidak untuk besoknya.

Akhirnya saya menanyakan ketersediaan kapsul di hotel yang sama di daerah Chinatown, dan masih tersisa 2 kapsul, namun jika saya memesannya perlu menambah 30 SGD karena harganya berbeda. Sebenarnya bisa ada opsi lain, yaitu meminta penghuni wanita di mix dorm pindah ke female dorm. Namun karena saat itu sudah larut, dan saya membutuhkan kepastian untuk besoknya, saya menyetujui opsi itu.

Hari 4:
Mengikuti berbagai diskusi di APMEC dan siangnya sebelum sholat jum'at bertemu Mas Dody (alumni Teknik Elektro ITB angkatan 2003) yang bekerja di kawasan Buona Vista. Diajaknya saya mencicipi Chicken Rice Edmond yang nikmat, dan rasa nikmat itu bertambah ketika saya ditraktir olehnya.

Malamnya tidak makan karena sudah mengisi perut dengan aneka cemilan di sesi coffe break sore APMEC. Hanya jalan-jalan (kembali) di Chinatown sambil mencari oleh-oleh.

Pengeluaran hari keempat untuk top up hotel 30 SGD dan membeli coklat 3 bungkus 12 SGD.

Hari 5.
Hari terakhir Main Conference APMEC sekaligus melakukan presentasi. Tidak ada pengeluaran di Singapura sampai akhirnya menyebrang ke Batam. Saldo MRT yang digunakan selama 5 hari sebesar 14 SGD, sesuai perkiraan ketika top up 15 SGD ketika pertama kali tiba di Changi.

Sisa roti 2 buah dihabiskan di Harbourfront sebelum menyebrang ke Batam Center.

Pengeluaran Selama di Singapura
Top up kartu MRT: 15 SGD
Es krim: 1,5 SGD
Mee goreng telor: 5 SGD
Es kopi: 1,5 SGD
Tiket ferri dan ubah jadwal: 28 SGD
Infak: 1 SGD
Air mineral: 1 SGD
Top up hotel: 30 SGD
Oleh-oleh coklat: 12 SGD
Total: 95 SGD

Jika dikurangi tiket ferri dan top up hotel hanya 37 SGD atau 400 Ribu ditambah simcard lokal 125 Ribu (beli sebelum berangkat), sehingga total 525 Ribu Rupiah.

Thank you.

Sumber foto:
Dokumentasi Rekan FK UGM