Jumat, 10 Agustus 2018

Doa Untuk Lombok


Oleh Duddy Fachrudin

Semoga kau tabah
Semoga kau tegar
Semoga kau kuat
Semoga kau kembali bangkit
Semoga kau kembali menampilkan elokmu
Semoga kita pandai mengambil hikmah atas ujian ini

Sumber gambar:
http://www.thejakartapost.com/travel/2017/10/21/lombok-eyes-more-foreign-tourists-with-family-friendly-concept-.html

Selasa, 07 Agustus 2018

Gence Nan Kece Senikmat Latte (Review Buku)


Oleh Duddy Fachrudin

Gence: Membedah Anatomi Peradaban Digital.

Dari judulnya saja kita dapat menebak isi buku ini tidak hanya berbicara tentang satu hal. Ibarat membuka sebuah kulkas, maka kita akan mendapatkan beragam "makanan dan minuman" dalam buku Gence.

Ada kajian mengenai sejarah peradaban manusia, teknologi informasi dan komunikasi (ICT), tata kelola kota (smart city), smart tourism, kecerdasan buatan, kesehatan dan psikologi (perubahan perilaku di jaman now), diskusi mengenai hoak, manajemen dan leadership, fintech, otak dan neurobiologi, serta banyak lagi.

Semua itu dikupas secara cantik oleh Kang Tauhid Nur Azhar, dan penulis lainnya  yang memiliki keilmuwan yang beragam. Maka Gence adalah sebuah kolaborasi ciamik yang perlu kita baca oleh kita (baca: warga peradaban digital) agar mengoptimasi kemampuan iqra sehingga dapat "berselancar" di revolusi indutri ke 4.0.

Satu hal yang mungkin spesial dari Gence adalah kadang-kadang kita mengernyitkan dahi ketika membacanya, terutama saat menemukan istilah atau vocabulary yang sebelumnya belum kita ketahui.

Kalau dianalogikan dengan latte, maka itulah bagian espresso-nya. Pahit.

Namun karena kita terus membaca dan memiliki rasa ingin tahu yang besar, susu yang telah di-steam "mengguyur" espresso tersebut. Rasa pun berubah dan lebih berwarna.

Lalu setelah selesai membaca Gence, kita "merasakan" foam susu dari latte masih melekat dalam pikiran kita yang kemudian...

membuat kita memikirkan arti sesungguhnya dari spesies bernama manusia.

###

Judul Buku: 
Gence: Membedah Anatomi Peradaban Digital

Penulis: 
Tauhid Nur Azhar, Bambang Iman Santoso, Arwin Datumaya WS, Adang Suwandi Ahmad, Suhono Harso Supangkat, Supra Wimbarti, Shelly Iskandar, Elvine Gunawan, FX Wikan Indrarto, Budi Syihabuddin, NGX, Andhita Nurul Khasanah, Insan Firdaus, Dani Sumarsono, Dody Qori Utama, Ian Agustiawan, Alila Pramiyanti, Ina Kurniati, Santi Indra Astuti, Nugraha P. Utama, Duddy Fachrudin, N. Nurlaela Arief, Diana Hasansulama

Penerbit:
Tasdiqiya Publisher

Sumber gambar:
https://deskgram.org/explore/tags/PeradabanDigital

Minggu, 05 Agustus 2018

Menjalani Kehamilan dengan Mindful (Sebuah Pengalaman)


Oleh Delima Amiyati

Beberapa hari belakangan ini jadwalku memang padat. Revisi tesis dan laporan HIMPSI menjadi "makanan" sehari-hariku.

Selain tanggungjawabku sebagai mahasiswa, aku pun perlu memberikan perhatian pada kehamilanku yang sudah menginjak lebih dari 5 bulan.

Sungguh terasa berat jika dipikirkan menjalani dua peran sekaligus tanpa ada yang membantu. Aku tinggal di Bandung sendiri, jauh dari keluarga dan suamiku bekerja di Jakarta.

Namun, daripada berkeluh kesah, lebih baik menjalaninya dengan suka cita.

Dan untuk itu, aku belajar untuk hidup mindful

Efeknya sungguh menyenangkan. Saat mengerjakan revisi tesis misalnya, entah mengapa beragam ide tulisan tumpah ruah dan mengalir begitu saja. Biasanya aku lama dalam mengerjakan revisi, kini sejak mempraktikkan mindfulness, mengerjakannya lebih lancar dan juga cepat.

Saat asik-asiknya mengetik, janin dalam perutku bergerak-gerak. Biasanya aku langsung berhenti menulis, menutup laptop, dan kemudian merebahkan diri.

Namun kini...

Aku mengamatinya sejenak, menyadarinya, merasakannya, dan menerima sensasi tersebut lalu tetap melanjutkan mengetik revisi. 

Meskipun dalam kondisi hamil, aku menjadi lebih produktif, energi lebih berlimpah, dan dapat menikmati setiap momen saat mengerjakan tesis.

Lewat hidup yang berkesadaran (living mindfully) ini, aku sebagai Bumil bisa lebih menerima dan mengelola kekhawatiran yang muncul, lebih berpikir positif, dan bersyukur dengan kondisi yang saat ini aku alami serta jalani.

Maka, "la-in syakartum la-adziidannakum wala-in kafartum inna 'adzaabii lasyadiid." (QS. Ibrahim: 7)

Setiap momen merupakan suatu berharga dan patut untuk dinikmati dan disyukuri. Ketika living mindfully, kita akan melihat banyak keajaiban terjadi di dalam kehidupan kita.

Sumber gambar:
http://www.bamboofamilymag.com/summer-2012/mindful-pregnancy-traditional-chinese-medicine-an-approach-t.html

Jumat, 03 Agustus 2018

Yes, Akhirnya Merasakan "Living In The Moment"


Oleh Oka Ivan Robiyanto

Gegara video pemandangan super lambat berdurasi 6 menit itu pikiran saya semakin mengembara.

"Apa maksudnya ini?"

"Saya kan mau belajar mindfulness berbasis terapi kognitif, kenapa dikasih video yang nggak jelas seperti ini?"

Saya mengikuti pelatihan ini agar saya mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dan target seminar proposal cepat terealisasi.

Namun, nyatanya selama pelatihan hari pertama pikiran saya terus dibayangi target. Ditambah video itu... "Oh sepertinya gua dikadalin nih sama pematerinya..." 

Alhasil, pada hari itu, saya belum bisa merasakan hidup dengan memberikan perhatian sepenuhnya di setiap momen.

Pada pelatihan pertama, kami memang belum berlatih mindfulness. Kami banyak berdiskusi mengenai mindfulness dari berbagai pengalaman dan juga dari literatur-literatur ilmiah sesuai dengan tujuan pelatihan ini, yang salah satunya untuk kepentingan penelitian.

Pada hari kedua, barulah saya dan teman-teman berlatih mindfulness.

Hari itu diawali dengan apa yang disebut sebagai mindful walking. Berjalan dengan penuh kesadaran, bagaimana kaki ini melangkah dan merasakan apa yang tersentuh oleh kaki kami sebagai peserta.

Kasar, basah, kotor, pegal yang terasa oleh kaki ini ditambah suara angin hingga kendaraan yang melintas di sekitar wilayah pepohonan tempat kami berjalan. Lalu juga tampak kucing yang sedang tidur berbaring dan suara-suara tonggeret yang bertengger di pepohonan pinus disekitarnya.

Seolah saya bisa memberikan perhatian penuh saat mindful walking... 

Tapi pikiran ini ternyata masih mengembara pada proposal, pekerjaan yang tertunda, serta keinginan mengabadikan pemandangan nan asri ini melalui kamera.

Rasa cemas pun mulai muncul seiring pikiran yang mengembara tersebut. Namun, saat latihan mindful walking berikutnya pikiran ini mulai bisa ditata hanya untuk merasakan langkah kaki dan apa yang terinjak dibawahnya.

Saat otot-otot paha ini melangkah secara bergantian, tumit yang menyentuh tanah dilanjutkan dengan jari-jari kaki yang menyentuh ranting-ranting yang berserakan sungguh amat terasa.

Perasaan nyaman dan tenang pun mulai muncul meskipun sesekali pikiran ini kembali mengembara ke tempat lain namun bisa kembali lagi untuk merasakan sentuhan pada kaki ini. 

Selain berlatih mindful walking di hutan pinus yang asri itu, kami juga berlatih mindful hearingmindful eating, breathing, meditasi duduk, dan body scanning.

Pikiran mengembara tetap muncul, bahkan tidak jarang berupa judgement. Sensasi tidak nyaman terjadi, seperti pusing. Puncaknya ketika latihan body scan, rasa pusing dan mual tersebut tidak tertahankan, yang akhirnya membawa saya untuk segera bangun di pertengahan sesi dan berlari menuju ke toilet.

Lega terasa karena sudah membuang racun yang bersarang di dalam tubuh.

Rasa mual ini terjadi mungkin karena saya cemas akan target proposal atau juga karena minum kopi saat sesi coffe break.

Maka saat ada sesi berlatih mindfulness lagi yaitu pada pelatihan hari keempat (pelatihan hari ketiga membahas desain intervensi mindfulness), saya tidak minum kopi, dan tentunya saya juga melepaskan kecemasan saya. Dan, I'm really fine and yes, finally i feel "living in the moment".

Non-striving kuncinya. Tidak berambisi karena semua akan sampai pada waktunya.

Living in moment.

Sumber gambar:
http://healthcoachpenny.com/strive-to-non-strive/

Rabu, 01 Agustus 2018

Meletakkan itu... Indah



Oleh Duddy Fachrudin

Saat mengikuti sebuah pelatihan biasanya hal yang paling berharga yang kita dapatkan adalah materi pelatihan dan juga pengalaman serta relasi baru.

Namun, yang saya temui pada pelatihan itu bukan hanya ketiganya.

Seorang narasumber yang baru saja menikmati coffe break itu berdiri lalu berjalan perlahan mendekati tempat piring dan gelas kotor. Dengan lembut, ia meletakkan piring kecil dan gelas bekas kopinya di tempat itu.

Indah kami memandangnya.

Lalu pikiran ini tetiba membayangkan semua orang melakukan hal yang sama dalam kehidupannya seperti yang beliau lakukan barusan. Maka kelak tercipta sebuah keselarasan dan harmoni dari sebuah tata perilaku manusia.

Bukan hanya kecantikan nan asyik mengerik kesombongan yang begitu terik. Tapi semesta akan bersenandung memujinya dan berdoa kepada Tuhan agar ia dimasukkan ke dalam surga.

Meletakkan itu indah, bukan?

Apalagi jika kita pandai meletakkan yang tidak berguna seperti sampah yang dapat mewabah.

Tidak hanya sampah fisik.

Yang lebih penting adalah sampah pikiran.

Mereka adalah kecemasan, kesedihan, kekecewaan, iri, dengki, memori yang tidak menyenangkan, kesombongan, prasangka negatif, dan amarah, serta rasa memiliki yang belebihan.

Maka, meletakkan itu indah, bukan?

Orang yang berada di sebelah saya mengangguk.

Sumber gambar:
https://freedomandfulfilment.com/stop-feeding-your-mind-garbage/