Senin, 13 September 2021

Pelatihan Intervensi Psikologi Berbasis Mindfulness: Acceptance and Commitment Therapy


Oleh Duddy Fachrudin 

Lasse Rouhiainen dalam bukunya yang sangat fresh yang terbit di tahun 2019 yang berjudul Artificial Intelligence: 101 Things You Must Know Today About Our Future menuliskan 11 skills yang dibutuhkan di masa depan. 

Salah satu keterampilan tersebut ialah mindfulness, suatu kemampuan dalam memberikan perhatian penuh terhadap suatu hal.

Jauh sebelum Rouhiainen mencantumkan mindfulness sebagai keterampilan penting di era masa kini dan mendatang, 15 tahun sebelumnya, mindfulness menjadi komponen utama bersama acceptance, metakognitif, personal values, dan spiritual dalam terapi “third wave cognitive behavioral”[2,3]. 

Salah satu terapi berbasis third wave, yaitu Acceptance and Commitment Therapy (ACT) mengakomodasi mindfulness sebagai tools untuk mencapai psychological flexibility dan terlepas dari penderitaan psikologis[3].

Penderitaan psikologis (psychological suffering) dalam ACT bermula ketika individu kaku secara psikologi[3]. Sebagai contoh penderita depresi yang mengembangkan experiential avoidance melalui alkohol sebagai pelarian sekaligus solusi semu atas permasalahan psikologisnya. 

Pada titik ini yang diperlukan adalah mengetahui akar masalah dengan berhenti sejenak mengamati dan menyadari (mindful) pikiran, menerimanya, tapi juga tidak terjerat dengannya, lalu mengembangkan tujuan dan nilai-nilai penting penuh makna serta mengarahkan perilaku sesuai dengan nilai yang telah ditetapkan. 

Itulah ACT yang mengajarkan individu untuk berpindah dari kekakuan psikologi menuju fleksibilitas psikologi.

Pada era yang serba tidak pasti saat ini dan isu mengenai kesehatan mental yang semakin menjadi perhatian, keterampilan-keterampilan dalam ACT perlu dikembangkan individu. 

Pelatihan ACT memfasilitasi siapapun para pembelajar untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang menunjang fleksibilitas psikologi, yaitu mindfulness, acceptance, cognitive defusion, self as context, dan living with values, serta committed action yang dapat diaplikasikan kepada diri sendiri maupun orang lain.

Terdapat tiga capaian pembelajaran yang dapat dicapai peserta pelatihan ACT: 1) peserta dapat memahami konsep dan cara kerja ACT; 2) peserta dapat membuat desain modul ACT; dan 3) peserta dapat menggunakan dan mempraktikkan elemen-elemen keterampilan dalam ACT dalam permasalahan psikologi sederhana.


Cek pelatihan mindfulness terbaru di sini >>>


Referensi:

[1]   Fachrudin D. #2019HidupLebihMindful (internet). Mindfulnesia. 2019 (dikutip 8 September 2021). http://www.mindfulnesia.id/2019/01/2019hiduplebihmindful.html

[2]   Hayes SC, & Hoffman SG. Third wave of cognitive behavioral therapy and the rise of process-based care. World Psychiatry. 2017; 16(3): 245-246. DOI:1 0.1002/w ps.20442

[3]   Luoma JB, Hayes SC, & Walser RD. Learning ACT: An acceptance and commitment therapy skills training manual for therapists. Oakland: New Harbinger, 2017.


Sumber gambar:

Kamis, 02 September 2021

Mindful Couple: Hal Terpenting yang Wajib Dilakukan Sebelum Mengenal Pasangan



Oleh Duddy Fachrudin

Perceraian (lagi). 

Mengelola sebuah pernikahan tak semudah jatuh cinta lalu mengatakan i lup yu semata. Dan juga bukan karena aku kamu (baca: kita) terdapat kesamaan lalu membuat janji suci dalam sebuah ikatan. Karena... pernikahan sejatinya adalah manajemen ketidakcocokan. 

Maka belajar saling mengenal pasangan adalah suatu keniscayaan: 

Yaa ayyuhan naasu inna khalaqnaakum min zakariw wa unsaa wa ja'alnaakum syu'ubaw wa qabaa 'ila lita'aarafu, inna akramakum 'indallahi 'atqaakum, innallaaha 'aliimun khabir. (Al-Hujurat)

Namun, mengenal pun bukan hanya tertuju pada pasangan. Mengenali diri seringkali dilupakan dan dinomorduakan.  

Blind self, saat buta tentang diri artinya di saat itu tidak menyadari sepenuhnya diri. Karena jarangnya memberi perhatian, kita tidak mengetahui dan mengenali pikiran, dorongan-dorongan, kebiasaan-kebiasaan, dan keinginan-keinginan, yang pada akhirnya kita "seolah" tidak memiliki pilihan dalam mengambil keputusan. Reaktif berdasarkan pikiran yang melintas dengan super cepat dalam kepala.


Dialektika kesadaran semestinya dibangun menembus lapis-lapis ego. Tapi... seringnya membangun mekanisme pertahanan akhirnya luput dari kewaskitaan. 

Tanpa disadari, waktu terus berlalu  menjadi bom waktu yang meledak tanpa ampun menyisakan rasa malu. Bukannya refleksi diri, tapi saling menghakimi penuh caci maki. 

Awalnya cinta berujung benci. 

Begitulah cerita sang jiwa berliku luka antara rasa dan logika. 

Sumber gambar: 

Senin, 30 Agustus 2021

Hidup Seimbang ala dr. Song Hwa


Oleh Nita Fahri Fitria 

Memasuki episode kesepuluh pada musim keduanya, Serial Korea Hospital Playlist masih saja menjadi kesayangan banyak orang. Drama ini disebut sebagai drama yang punya efek “healing” bagi penonton akibat jalan cerita yang menyentuh. Menyoroti kehidupan lima orang dokter spesialis yang bersahabat sejak lama, Hospital Playlist juga banyak menggambarkan nilai-nilai kehidupan dari kisah para pasien dan tentu saja para tenaga medis di sekitar lima tokoh utamanya.


Chae Song-hwa adalah pemeran utama wanita yang merupakan seorang dokter spesialis bedah syaraf. Karakternya yang cerdas, baik, dan suka menolong, membuat Chae Song-hwa dikagumi banyak orang. Uniknya, meski memiliki pekerjan segudang tapi Song-hwa selalu Nampak ceria dan Bahagia. Dia benar-benar tahu bagaimana cara menjalani hidup yang bahagia…

Jika kita amati lebih detail, Chae Song-hwa punya beberapa kebiasaan yang membantunya untuk tetap seimbang. Apa saja itu?

Pertama, Chae Song-hwa adalah individu yang objektif. Mungkin sifat ini terbentuk karena ia adalah seorang dokter berpengalaman yang juga senang belajar. Seorang dokter memang terlatih untuk menilai sesuatu secara objektif karena perlu mengambil keputusan penting terkait kondisi pasien. Chae Song-hwa menunjukkan objektivitas itu dengan sangat baik. Ia adalah senior yang baik dan senang membantu juniornya, tapi di sisi lain ia juga akan dengan tegas menegur dan menyampaikan kesalahan apa yang dilakukan oleh juniornya dengan akurat. Inilah yang membuatnya dihormati oleh banyak orang.

Kedua, Chae Song-hwa punya kesadaran yang baik akan kebutuhan dirinya. Meski terkesan nggak enakan saat ada yang meminta bantuannya, tapi Song-hwa sejatinya memahami batasan untuk menjaga dirinya tetap seimbang. Di season pertama, Chae Song-hwa mengalami masalah kesehatan yang cukup serius akibat beban kerja yang berat. Ia kemudian mengajukan pindah tugas ke cabang rumah sakit di daerah yang tingkat kesibukannya lebih ringan. Chae Song-hwa mengatakan, “Aku sakit dan aku butuh istirahat.”. Hal ini juga ia lakukan saat tengah kalut setelah mengetahui bahwa ibunya sakit keras, Song-Hwa dengan tegas membatalkan semua janji temu dan memberikan jeda untuk dirinya sendiri agar ia bisa benar-benar mengalirkan kegalauannya akibat kondisi sang ibu.

Ketiga, Chae Song-hwa punya hobi tidak melakukan apapun dan menikmati waktu mengalir begitu saja. Chae Song-hwa punya hobi berkemah sendirian. Setelah mendirikan tenda dan menyeduh secangkir kopi, ia akan duduk dengan nyaman sambil menikmati suasana area perkemahan yang ia datangi. Selain itu, Chae Song-hwa juga punya hobi duduk diam sembari menikmati rintik hujan dari balik jendela. Ia benar-benar hanya duduk diam dengan mata berbinar memandangi air yang turun dari langit.

Memiliki pandangan yang objektif membuat kita lebih mudah menata pikiran agar tidak ruwet akibat mudahnya menilai sesuatu. Kita akan terlatih untuk melihat dari sudut pandang yang luas sehingga tidak perlu terjebak dalam situasi overthinking yang melelahkan. Punya batasan dan kesadaran akan apa yang diperlukan oleh diri sendiri juga amat penting agar kita tahu kapan harus berhenti sejenak untuk memberi ruang napas pada diri. 

Dan salah satu cara terbaik memberi ruang napas pada diri adalah dengan tidak melakukan apa-apa, tetapi hadir seutuhnya menjalin keterhubungan dengan diri sendiri untuk mengisi ulang energi yang kita butuhkan untuk melanjutkan hidup.

Sumber gambar:

Selasa, 24 Agustus 2021

Mindful Parenting: Warisan Terbaik Orang Tua Adalah...


Oleh Duddy Fachrudin 

Sebelum lebaran tahun ini saya kedatangan seorang wanita muda. Ia mengaku pernah didiagnosis depresi dan bipolar. Selama sebulan terakhir ia melakukan meditasi bersama temannya di Jakarta. Wanita itu bisa merasakan ketenangan saat meditasi, namun ketika berhadapan dengan sumber stresnya, yaitu ibunya sendiri, ketenangan itu menjauh darinya.

Ibunya. Ya, ibunya adalah stressor utama.

Menurut tantenya yang mengantar wanita muda ini menemui saya, bahwa ibunya menitipkan ia ke kakek-neneknya sejak usia 2 hingga 9 tahun. Sebelum itu ibunya banyak mengalami konflik dengan ayahnya. Perceraian dipilih sebagai jalan akhir. Sang ibu kemudian fokus melanjutkan studi dan karier dalam bidang kedokteran kecantikan. Singkatnya, pola asuh dinomorduakan.

Hubungan sang ibu dan anak disharmonis. Kurangnya pemahaman tentang pola pengasuhan dan ketidaktepatan dalam penerapannya memperburuk relasi antara mereka berdua. Saling menghakimi dan menang sendiri, serta menutup diri dari berbagai perspektif hanya meluaskan konflik yang tak kunjung usia.

Experiential avoidance dengan merokok dan meminum minuman beralkohol yang kemudian dilakukan wanita ini memang menghasilkan ketenangan. Namun, rasa itu hanya sesaat, palsu, dan pastinya tidak akan pernah menjadi solusi bagi penderitaannya. 

Ibunya juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi bingung dan tidak tahu cara menyelesaikan permasalahan ini. 

Siklus berulang atau fraktal tentang disharmonis dan disfungsi keluarga mungkin terjadi selama nirdukungan dalam membenahi mental masing-masing. Padahal keluarga memainkan peran vital bagi pembentukan kesehatan mental individu di dalamnya. Maka warisan terbaik keluarga atau orangtua kepada anaknya bukanlah harta mereka, melainkan keindahan perilaku yang mereka pancarkan dalam setiap gerak pengasuhan.


Wanita ini berencana pergi ke Ubud, Bali dan melanjutkan meditasinya sambil mengerjakan skripsi. Sementara tantenya masih terheran-heran dengan rencananya tersebut. "Ke Bali, meditasi? Untuk apa? Meditasi kan ritual agama hindu?," tanya tantenya yang juga adik kandung dari ibu wanita muda ini. 

Saya hanya bilang, "good" kepada wanita muda ini, lalu bertanya mengenai skripsinya. 

She seemed pleased with my attention. Dan ketika saya mendengarkan penjelasannya, she felt good... she felt happy to be heard. Seolah-olah selama ini ia jarang didengarkan oleh keluarganya. 

Lantas saya bertanya kepada tantenya, "Pernahkah ia dipeluk selama ini?". Sang tante hanya diam. Maka biarkan wanita ini memeluk masa lalu dan dipeluk ketenangan melalui meditasi.   

Sumber gambar: 

Senin, 02 Agustus 2021

Mindfulness ala Psikologi Jawa (Bagian 3, Habis)




Oleh Duddy Fachrudin 

Waras adalah maturitas yang meretas dari rahim keheningan.

Itulah mengapa Nabi bermeditasi di Gua Hiro lalu diperintahkan padanya untuk “membaca” atau iqro. Iqro... apa yang perlu dibaca? Perintah ini tentu tidak hanya tertuju padanya, melainkan kita semua umat manusia.

Melalui sunyi pula, Raden Mas Said bertransformasi menjadi Sunan Kalijaga yang bijaksana, yang mengajarkan kepada kita untuk waskita di jaman kalatidha melalui kidung wahyu kalasebo, syair cinta yang sarat akan hikmah.

Hening, mentafakkuri dan mentadabburi diri adalah saat-saat yang tepat untuk kembali ke “rumah”. Di kala hiruk pikuk gempita dunia, menyelami diri adalah ekstase menyejukkan yang mengobati derita.

Masa-masa di rumah saja selama pandemi corona seharusnya menjadi momen peningkatan kualitas kewarasan diri. Namun bagi sebagian orang, menyepi dalam sunyi adalah aktivitas yang membosankan. Wajar, karena manusia jaman sekarang begitu mengagungkan materialisme. Mereka tidak menyadari sumber atau awal petaka kehancuran diri dan umat manusia adalah buta akan alam ruhaninya dan terpedaya dengan hedonisme.

Mereka yang waras juga bertindak dan berperilaku menahan diri, berempati, dan mencegah transmisi selama pandemi. Keengganan untuk peduli merupakan wujud dari patologi dalam diri yang kemudian menyebar lebih luas ke ranah sosial.

Maka waras adalah soal regulasi diri, tentang mempuasai hasrat yang dapat menimbulkan gawat. Manusia waras bertindak dan hidup dengan seimbang, proporsional, tidak berlebihan, selaras, dan harmonis.

Kolaborasi dikedepankan, eksploitasi demi kepentingan pribadi disingkirkan. Thus, kualitas waras memproduksi welas (asih).

Welas adalah cinta dan kelembutan, yang berfokus pada aktivitas memberikan kebermanfaatan bagi sesama dan semesta. Jika tahapan manusia di level waras sebagai seorang hamba, maka pada tingkatan ini (welas) adalah khalifah.

Manusia yang khalifah memiliki makna sebagai wakil mandatori Tuhan untuk mengelola wilayah bernama bumi seisinya dengan segenap cinta.

Selama proses tersebut (mengelola), terdapat kecenderungan pada diri manusia untuk berbuat destruktif. Manusia mengikuti hawa nafsunya dan kembali lupa (baca: kembali tidak waras) bahwa dirinya manusia.

Maka, terdapat peringatan dalam bentuk ujian, musibah, bencana, atau wabah seperti corona yang diberikan Tuhan kepada manusia saat lalai menjalankah misinya dengan baik.

Di saat itulah, proses wawas-waskita-waras-welas menjadi daur yang perlu ditempuh (kembali) oleh manusia.

Ingat bahwa sesungguhnya kita ini bukan stasi. Kita, manusia yang memegang janji-janji, terikat waktu dan ruang, yang mendamba tenang, dan merindu untuk pulang.

Sumber gambar: