Kamis, 11 April 2019

Mindful Learning: Mengelola Stres dan Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan (Bagian 2, Habis)


Oleh Duddy Fachrudin

Tomoe Gakuen ibarat pelipur lara seorang Totto-Chan yang mendamba pembelajaran yang menyenangkan. Pendidikan berbasis cinta mengeliminir segala rasa negatif yang mungkin muncul dan berpotensi mereduksi kehausan akan ilmu pengetahuan. Terbukti, buku yang ia tulis: Totto-Chan, The Little Girl at The Window adalah sekumpulan memori yang jujur tentang pengalaman bahagianya selama dididik Sosaku Kobayashi.

Maka, seorang Guru adalah orangtua, dan orangtua adalah Guru bagi anak-anaknya. Perilaku yang dihadirkan anak dalam keseharian mencerminkan didikan keduanya.

Guru menandai kebangkitan Jepang setelah negara tersebut hancur lebur di Perang Dunia II. Guru juga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan psikologis negara paling bahagia bernama Finlandia.

Negara ini (Indonesia) membutuhkan guru, yang bukan sekedar mentransfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan menanamkan nilai-nilai kehidupan. Guru yang juga mengajarkan anak didiknya mengenal pikiran serta perasaannya. Guru yang mengajarkan kebahagiaan. Dan Guru yang membebaskan penderitaan murid-muridnya.

Tak ada lagi derita, stres, atau intimidasi yang mengganggu (bullying) secara verbal maupun fisik.

Yang ada hanyalah sebuah perjalanan dalam mencari ilmu dengan penuh bahagia dan penuh cinta.

<<< Halaman Sebelumnya

Sumber gambar:
https://www.youtube.com/watch?v=8MzuL6swFIg


Kamis, 04 April 2019

3 Kali ke Psikolog, Apa yang Saya Dapatkan?



Oleh Duddy Fachrudin

Good Will Hunting, film yang meraih 9 nominasi di edisi yang ke-70 Academy Awards menjadi salah satu referensi terbaik mengenai proses konseling dan terapi psikologi.

Terbukti, Robin Williams (Dr. Maguire) yang berperan sebagai psikolog memainkan akting yang ciamik layaknya seorang profesional dengan jam terbang yang tinggi. Penghargaan Best Supporting Actor digondolnya.

Selama 7 sesi ia berhasil membuat Matt Damon (Will) menyadari sekaligus menerima diri serta masa lalunya dan kemudian mengambil keputusan terhadap apa yang akan dilakukannya.

Tujuh sesi bukanlah waktu yang singkat dan kadang dilalui dengan proses yang tidak mudah. Jika konseling dilaksanakan 1x selama 1 minggu, maka waktu konseling secara keseluruhan 7 minggu. Lalu, tak jarang terdapat resistensi dari klien untuk menjalani konseling yang pada akhirnya menghambat proses tersebut. Stigma "tidak waras" ikut menyertai klien yang datang ke seorang psikolog.

Sehingga akhirnya muncul pertanyaan: untuk apa saya datang ke psikolog? Saya baik-baik saja kok!

Namun, Will yang awalnya menolak, justru merasa nyaman dengan psikolognya. Bahkan ketika sesi telah berakhir, ia merasa masih membutuhkan pertemuan tersebut.

Itulah proses.

Bahwa manusia berproses selama hidupnya adalah suatu keniscayaan, dan kehadiran orang lain dapat memberikan makna dalam perjalanan hidupnya.

Maka sesungguhnya, perubahan tidak diukur dari seberapa lama kita menjalani sebuah proses, namun seberapa mau kita menyelaminya.

Ada seorang klien yang sudah cukup dengan 1 kali sesi. Sementara klien lainnya 2, 3, hingga belasan bahkan puluhan sesi.

Seorang klien yang baru selesai menjalani 3 sesi berkata bahwa ia baru menyadari selama ini kurang peduli terhadap dirinya sendiri dan lebih banyak menyakiti psikis dan fisiknya. Kesadaran baru yang positif telah muncul. Membawa segala luka dan merangkumnya dalam penerimaan. Lalu mengolahnya menjadi seberkas cahaya.

Sumber gambar:
https://picgra.com/user/duddyfahri/10148958272

Rabu, 20 Maret 2019

Pikiran Saya Doing or Being Mode Ya? (MBCT Workshop Batch 3)



Oleh Duddy Fachrudin

Seorang kolega, sahabat, sekaligus guru bercerita tentang pengalamannya mendapatkan klien yang "aneh" menurutnya. Penasaran dengan kata "aneh" tersebut saya membuka kedua telinga menyimak sebaik mungkin.

"Klien tersebut seorang pengusaha, datang dengan mobil bagus, lalu menemui saya..." ujar kolega saya. "Lalu ia berkata, 'Saya takut miskin'..."

Mendengar cerita tersebut saya terperangah, how come? Bagaimana mungkin ia mengatakan hal yang realitanya adalah sebaliknya?

Namun hal itu sangat mungkin karena ia berada pada doing mode.

Doing mode merujuk pada cara kerja pikiran yang serba otomatis, berfokus pada masa lalu dan masa depan, menghindari ketidaknyamanan, dan pikiran tersebut seolah-olah realita yang sebenarnya.

Doing mode kadang bermanfaat dalam kehidupan individu, tapi seringnya ia menggangu karena menjadi penjara yang membelenggu. Doing mode berpotensi berulang yang kemudian menjadi ruminasi (rumination thought).

Kebalikan doing mode adalah being mode. Cara kerja pikiran ini lebih terjaga, tertata, dan tidak terburu-buru. Pikiran hanyalah sebuah bentuk imaji mental, bukan sebuah kenyataan. Individu yang mengembangkan being mode lebih menyadari pikiran yang datang dan mengolahnya menjadi sebuah keputusan yang tepat.

Memunculkan being mode dalam keseharian seolah mudah, namun nyatanya butuh latihan, apalagi bagi mereka yang memiliki gangguan, seperti depresi dan kecemasan.

Itulah mengapa doing vs being mode menjadi satu sesi yang amat penting dalam Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT). Di sesi ini, klien diajarkan untuk mengenali dan menyadari pikirannya, apakah itu termasuk dalam doing mode atau being mode. Setelah berkenalan dengan pikirannya sendiri (yang kenyataannya lebih banyak doing mode), tahap selanjutnya adalah berlatih mindfulness.

Banyak jenis latihan mindfulness yang bisa dilakukan, seperti breathing, body scan, dan walking. latihan-latihan tersebut bukan hanya dilakukan selama sesi bersama terapis, namun juga di rumah. Sampai akhirnya, klien dapat mengevaluasi sendiri, "Pikiran saya masih sering berada pada mode doing atau sudah being ya?"

Sumber gambar:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10214649653734221&set=a.1564506191783&type=3&theater

Rabu, 13 Maret 2019

Terminal 4 Changi, Sebuah Pelabuhan Pelepasan Hati


Oleh Tauhid Nur Azhar

Tak saya duga sebelumnya sebuah embarkasi paling canggih di dunia yang dilengkapi dengan orkestrasi teknologi terkini yang serba terotomasi ternyata menyimpan segenggam kehangatan hati.

Betapa tidak terpukau, bahkan terperangahnya kita menyaksikan serangkaian "atraksi" teknologi yang dimulai dari garda depan layanan penerbangan, area check in. Semua dikerjakan mandiri dengan bantuan teknologi yang telah mumpuni dalam pengolahan citra dan pengenalan pola (image processing & pattern recognition).

Bahkan konsep ini telah berhasil diterapkan di counter imigrasi digital dan titik pemeriksaan keamanan (security check point). Koper dan tas dengan benda mencurigakan akan dipisahkan ke jalur khusus dan mendapat penanganan yang terukur sesuai dengan kategori potensi bahaya yang dapat ditimbulkan.

Permutasi penumpang menjadi sangat efektif, waktu tunggu yang singkat membuat kondisi awal penerbangan nyaman dan menyenangkan.

Selepas prosedur rutin di setiap titik embarkasi, kita akan memasuki area layanan sebelum gerbang keberangkatan yang didesain lapang dan memberi kesan menenangkan serta menyenangkan. Atraksi seni gerak perpetual dengan pilihan musik mesmerizing yang mendamaikan serta menentramkan jiwa-jiwa kembara yang kadang gelisah dan sedih karena perpisahan dipadu padankan dengan sangat sempurna.

Pilihan desain sofa dan kursi tunggu di area layanan dan bisnis sungguh unik dan menarik. Bentuk organik asimetris seolah tak beraturan menjadi pilihan. Tak dinyana, desain tersebut ergonomis dan amat nyaman saat digunakan.

Tapi sungguh yang di luar dugaan adalah konstruksi hiper realitas yang dibangun melalui pendekatan multimedia yang lebih advanced dibanding sekedar citra augmented reality.

Sebuah layar LED raksasa tersembunyi diantara desain toko peranakan yang salah satunya cukup membanggakan, karena terselip nama Bengawan Solo di sana, kedai kopi Indonesia, di waktu tertentu akan menampilkan sebuah film pendek nirkata, Peranakan Love Story.

Film ini ciamik karena begitu interaktifnya "melompat-lompat", "out of the frame" karena bisa berpindah dari satu balkon toko ke tingkat lainnya, dan terjalinlah romansa antar tetangga yang melahirkan dan menghadirkan lagi Bunga Sayang dari komposer keren Dick Lee. Sebuah lagu dengan lirik dan melodi yang sangat kuat dan pasti melahirkan rindu dan genangan airmata bagi siapa saja yang menyimaknya.

Tetiba ada rasa rindu, kangen, yang menyeruak dan membuat kita sesaat terpaku dan terhenyak. Gesekan biola yang ditimpali bersahutan denting piano dan vokal mendayu ala Melayu pasti membuat kita termangu. Seolah ada seberkas kenangan yang merusak hipokampus dan memaksanya membuka kembali lembar-lembar album lama yang selama ini tersimpan berdebu di sudut sana.

Ini bukan semata soal kinerja Broca dan Broadman dalam menafsir dan memproduksi bahasa, tanpa lirik pun lagi ini mampu membuat kita afasia, membisu kehilangan kata. Fragmen cinta di layar multimedia membawa kita dalam pajanan cerita kita sendiri  yang pasti pernah mengecap asmara.

Ini mengguncang banyak area, membakar kawat-kawat caraka yang melintasi nukleus geniculatum, dan kedua kolikulus superior dan inferior untuk pada akhirnya sampai dan menggedor hipotalamus untuk hadirkan gelenyar hormonal yang akan membuat tubuh kita sejenak lumpuh dalam badai rasa rindu yang kembali hadirkan mimpi-mimpi berserotonin yang diikuti tumbuhnya harap berkelindan dopamin.

Tak lama setelah melangkah memasuki garbarata di gerbang pelepasan nomor 16, seolah hati berasa terpisah dan tertinggal bersama gaung suara Dick Lee yang seolah terus bernaung bersama kenangan tentang sebuah senja di tepi desa dengan berpayung langit lembayung... memang benar kiranya, selalu ada pohon di setiap desa yang benihnya terjatuh dari surga.

Dan pohon itu terus bertumbuh dengan pupuk berupa cerita DNA cinta juga mungkin disirami air mata... tapi bunganya hanya satu jua, bunga sayang namanya...

Siapapun yang mendesain Terminal 4 Changi, anda dengan kurang ajarnya telah berhasil merampok sebagian ruang hati saya dan mengisinya dengan rindu... yang anehnya tidak masuk dengan dipaksa melainkan sukarela. Terminal 4 adalah contoh nyata bagi kita bahwa tak semua teknologi akan meninggalkan hati. Ada banyak teknologi yang akan membuat kita menjadi jauh lebih manusiawi.

Sumber gambar: 
https://www.instagram.com/tauhidnurazhar/?hl=id

Selasa, 26 Februari 2019

Coaching & Behavior Shifting [Mindfulness-Based Coaching Event]


Oleh Duddy Fachrudin

"Dan apa artinya menjadi Dragon Warrior?"

Pertanyaan yang diajukan Shifu kepada Po di pembuka Kungfu Panda 3 ini membuatnya terdiam sejenak, lalu berkata, "It means, you know, just going around and punching, kicking. Defending the Valley..."

Jawaban sederhana dan apa adanya dari Po memang bukan yang diinginkan Shifu dan tentunya Oogway, namun karena hal itu pula Po merenungi kembali makna menjadi Ksatria Naga? Untuk apa?

Premis yang ditampilkan dalam Kungfu Panda 3 tentang makna menjadi seorang pendekar sekaligus menjawab siapa sesungguhnya saya, atau who am I? Sebuah pertanyaan yang bagi Oprah Winfrey menjadi syarat mutlak yang perlu diajukan dan dijawab oleh dirinya sendiri.

Keterampilan bertanya sendiri nyatanya tidak mudah dan penuh tantangan. Sebagai seorang leader atau mentor, termasuk konselor dan psikolog kadang lebih nyaman memberikan masukan atau nasehat kepada tim atau kliennya. Cara ini kadang kurang berhasil karena saran yang diberikan tidak cocok untuk diterapkan.

Maka Shifu, tidak pernah meminta Po untuk melakukan meditasi untuk menemukan jawaban atas "who am I?"

Inilah proses coaching dimana seorang guru mengarahkan muridnya lewat berbagai pertanyaan bukan sekedar nasehat, masukan, dan juga penilaian (judgement).

Namun tantangannya, di era digital yang serba cepat dan terburu-buru menggeser sikap dan perilaku manusia. Terjadi behavior shifting yang sangat nyata dimana orang-orang tanpa filter berkomentar, cyber bullying, dan yang terbaru tidak adanya pencegahan pada seorang pemuda di Lampung yang melakukan bunuh diri. Masyarakat hanya bisa menonton dan merekam (disertai canda tawa) yang sangat tidak beretika.

Salah satu makna dari shifting, yaitu change the emphasis, direction, or focus. Telah terjadi perubahan arah yang semakin kurang terkendali karena kurangnya jeda dan tanya mengenai hakikat manusia. Salah satu fungsi dari korteks prefrontal, yaitu sebagai inhibitory control telah menurun, yang berefek pada pengambilan keputusan yang tidak waskita dan bijaksana.

Maka coaching berbasis pendekatan mindfulness adalah skill bagi siapa saja yang sedang menuju peradaban baru, yang saat ini sedang bergolak (bukan hanya fisik tapi juga pikiran)

Keseimbangan hanya akan tercapai saat manusia kembali bertanya dan saling menanyakan serta menemukan jawaban mengenai apa hakikat menjadi seorang Ksatria Naga?

Sumber gambar:
https://www.yooying.com/p/1987849270557269484_8428988123