Senin, 19 April 2021

Perjalanan untuk Rehat


Oleh Tauhid Nur Azhar 

Allah memiliki sifat laisa kamitslihi syaiun, artinya Allah tidak bisa disamakan dengan apapun. Artinya sesuatu yang bisa dipikir atau dikonstruksi secara perseptual oleh manusia adalah syaiun, bukan Allah.

Maka kita diminta untuk pandai memilah, memillih, dan mengolah tanda serta fenomena untuk mencari jejak makna kehadiran dari Allah, Zat yang Maha Mencipta.

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. (QS. Al-Jaatsiyah Ayat 3)

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. (QS. Adz-Dzaariyat Ayat 20)

Kedua ayat tersebut sejalan dengan ayat tentang keutamaan ilmu dan iman sebagaimana dapat dipelajari di surat Al Mujadallah ayat 11 berikut:

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan. 

Dalam mencari dan berproses membangun kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam kehidupan berlaku prasayarat dan syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Yaitu terintegrasinya iman dan ilmu dalam suatu bentuk keselarasan jasadiyah, aqliyah, dan ruhiyah yang terimplementasi dalam konteks Iqra, Akhlaq, dan Adab yang terepresentasi sebagai aspek kebermanfaatan dan Rahmah bagi semesta sekalian alam.

Upaya manusia mencari makna kehadiran Penciptanya berjalan seiring dengan berkembangnya kemampuan manusia mengekstraksi tanda yang maujud dalam berbagai fenomena, interaksi, dan perubahan dinamis yang diolah melalui fungsi kognisinya. Cara berpikir menjadi konsekuensi logis dari dianugerahkannya kemampuan berpikir.

Mulai dari era Ibnu Sina dengan pendekatan peripatetiknya atau Suhrawardi dengan faham Isyraqiyyah atau iluminasinya, sampai ke pendekatan para muttakalimun atau teosofi transendentalis, al-hikmah al-muta'aliyah, pada dasarnya adalah sebuah gerakan terstruktur untuk mencari makna dan tujuan hidup.

Bahkan jika mengacu kepada pandangan Mulla Sadra yang menggagas prinsip gerak lintas substansi; termasuk materi, ruang, dan waktu, yang dikenal sebagai al harakah al jawhariyah, dimana ada penekanan bahwa setiap perkembangan manusia dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan yang memerdekakan dari keterikatan pada substansi yang melekat padanya sifat perubahan.

Kita semestinya mampu melihat esensi dari substansi, hingga meski kita sendiri bertumbuh, berkembang, dan pasti berubah, esensi dari kehadiran substansi adalah ajeg. Ada makna tunggal yang dapat kita sebut sebagai konsep Ahad.

Dan jika hidup itu adalah sebuah petualangan dalam perjalanan, kata Sadra, perjalanan pertama adalah perjalanan makhluk kepada kebenaran (safar min al-khalq ila al-haqq).

Perjalanan kedua adalah perjalanan bersama kebenaran di dalam kebenaran (safar bi al-haqq fi al-haqq).

Sedangkan perjalanan ketiga adalah retroversi atau kebalikan dari perjalanan pertama, sebab perjalanan ini berangkat dari kebenaran menuju makhluk (safar min al-haqq ila al-khalq).

Lalu perjalanan keempat adalah sintesis dari perjalanan kedua, karena perjalanan ini adalah perjalanan bersama kebenaran di dalam makhluk (safar bi al-haqq fi al-khalq).

Izinkan saya untuk merekonstruksi konsep perjalanan tersebut ke dalam satu konklusi yang dapat disebut istikmal al-nafs atau penyempurnaan manusia dan jiwanya.

Maka tak heran jika dalam fase kehidupannya, baik jin maupun manusia itu tugasnya cuma satu, beribadah, sebagaimana termaktub dalam QS. Az Zariyat Ayat 56 berikut:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ


Karena apapun dinamika dan perubahan non esensial yang terjadi, secara substansial esensi dari hidup adalah belajar mengenali tujuan dan pada akhirnya meraih kesadaran tentang makna kehadiran, penciptaan, dan tentu saja Sang Maha Pencipta. 

Bukankah dalam hadist qudsi disampaikan bahwa:
Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u`rafa fa khalaqtu ‘l-khalq li-kay u’raf.

Dari balik misteri dan khazanah rahasia (termasuk proses penciptaan), maka Allah Swt. Sang Maha Pencipta menghendaki kita mengenal-Nya. Dan segenap proses dalam "mengenal" itu maujud dalam isti'mal al nafs.

Pencarian dan penelusuran jejak untuk menemukan jalan kembali dapat saja merambah pendekatan quantum seperti pengertian super posisi ataupun jika berbicara tentang konsep hakikat materi kita dapat menelisik lebih mendalam soal berbagai kondisi anomali. Antara lain kondisi tersebut dapat dilihat pada Einstein Bose Condensat dan berbagai varian hubungan panjang gelombang, frekuensi, dan energi, sampai teori Zero Kelvin , dimana dalam kondisi super fluida, Helium-4 yang didinginkan 2° K dapat menentang arah gravitasi.

Artinya? 

Kita tentu saja mendapat gambaran tentang Zat yang Maha Merencanakan dan Mengendalikan melalui beberapa instrumen yang menjadi bagian terintegrasi hukum alam, Sunatullah, yang berlaku secara universal di semesta yang kita kenal.

Dari proses eksplorasi pengetahuan itu juga manusia melahirkan suatu kemampuan adaptif akumulatif: prokreasi. Dimana manusia yang dikaruniai kemampuan prokreasi melalui melekatnya fungsi kognisi dan afeksi serta motorik aksi yang berkonsekuensi kita dapat berkontribusi pada sub sistem pengelolaan semesta,


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ


Dari penafsiran terhadap QS. Al Anbiya ayat 107 tersebut tampak nyata bahwa proses pengelolaan dan belajar menalar sesuai kadar tertakar adalah prasyarat untuk mengonstruksi sadar. Kehadiran yang harus menjadi rahmah adalah sebentuk pengejawantah dari spirit utama Bismillah.

Penjabaran sifat welas asih menjadi kata kunci untuk membangun piranti kewaskitaan yang tak lain adalah piranti inti, sokoguru ke-Tauhidan. Persoalan akidah adalah meta konstruksi dari segenap proses dalam hidup.

Tasqiyatun nafs menjadi metoda purifikasi terhadap faktor distortif yang dapat menginterferensi niat yang menjadi titik acuan dalam melempangkan jalan ikhlas dengan rambu sabar dan safety guidance berupa rasa syukur holistik.

Maka jika kembali pada prinsip al harakah al jawhariyah, dimana setiap elemen kesemestaan termasuk kita, terkena Sunatullah untuk terikat pada konsep motion in substance and space sebagai konsekuensi telah ditetapkannya waktu, maka tak pelak satu simpulan sederhana adalah, mulailah bersyukur, sabar, dan ikhlas menjalani hidup secara substansial untuk mengenali esensi. Lalu di satu titik hakikat dapat datang merapat. 

Mungkin itulah saat tepat untuk rehat. 

Sumber gambar:

Sikap Mindfulness: Trust (The Will to Believe)


Oleh Tauhid Nur Azhar 

Pada tahun 1896 William James menyampaikan suatu konsep yang dinamainya The Will to Believe. Hipotesa James amat menarik, karena beliau mengajukan pernyataan yang kira-kira berbunyi: beberapa hal harus diterima berdasarkan kepercayaan, meskipun kita tidak bisa membuktikan kebenarannya.

Banyak hal dalam model interaksi antar manusia menggunakan pendekatan ini. Kita cenderung percaya dan memberi kesempatan kepada orang-orang yang kita cintai dan sayangi, meski terbukti beberapa kali kita dikecewakan. Dari sudut pandang psikososial adanya ikatan emosional dapat menjelaskan banyak hal terkait dengan mekanisme resiprositas, atau munculnya rasa bersalah jika kita mengecewakan orang yang telah menaruh kepercayaan kepada kita.

Tidak hanya William James yang memiliki pendapat demikian, Roberto Cialdini yang mendalami psikologi persuasif pun banyak mengelaborasi aspek ini sebagai salah satu dasar dari metoda persuatif yang dikembangkannya.

Mungkin sebagian dari kita tidak melihat aspek lain selain keterkaitan dan keterikatan psikologis belaka. Tetapi suatu penelitian di Harvard University yang dilakukan oleh Bob Rosenthal pada tahun 1963 membuktikan bahwa kelompok tikus yang "dipercayai" sebagai tikus-tikus cerdas terbukti unggul dalam tes labirin dibanding kelompok yang dianggap biasa saja. 

Apakah memang kelompok tikus itu memang terdiri dari tikus-tikus jenius? Ternyata tidak! 

Mereka tikus yang sama dengan kelompok kedua. Hanya saja para peneliti diyakinkan oleh Bob Rosenthal bahwa kelompok tikus pertama adalah tikus-tikus jenius yang extra ordinary. Harapan, kepercayaan, serta keyakinan dari para peneliti rupanya berkorelasi dengan hasil uji performansi dari kelompok tikus yang dianggap jenius. Bagaiamana hal itu bisa terjadi?

Selanjutnya Rosenthal tidak hanya berhenti di tikus saja, ia penasaran dengan spesies nya sendiri, manusia. Apakah manusia akan menunjukkan hasil yang serupa jika diberi kepercayaan?

Rosenthal melakukan eksperimen di SD Spruce dan "menguji" sekelompok siswa dengan alat tes intelijensia. Sebenarnya itu adalah alat tes IQ biasa, dan hasilnya pun tidak dipergunakan karena seluruh peserta penelitian memiliki basis intelijensia rata-rata. Adapun tujuan dari tes akal-akalan itu adalah sekedar untuk memberi kesan bahwa ada kelompok terpilih yabg jenius, dan sisanya adalah mereka yang biasa-biasa saja.

Selanjutnya pada kedua kelompok pasca tes intelijensia itu dievaluasi hasil belajarnya selama semester berjalan. Ajaib! Kelompok "jenius" mendapat nilai yang jauh melebihi rata-rata kelas.

Para guru juga memberi perhatian dan keyakinan yang tinggi terhadap kinerja murid-murid kelompok jenius. Dan sesuai dengan hipotesa Rosenthal, hasil kelompok jenius memang sangat bagus.

Rosenthal menamakan efek dari eksperimennya adalah efek Pygmalion. Dimana Pygmalion adalah seorang pematung Yunani yang karyanya sedemikian estetik dan begitu sempurna. Hingga ia sendiri meyakini bahwa patung karyanya itu seorang dewi yang nyata. Sampai-sampai para dewa pun meyakininya demikian, sehingga patung itupun hidup dan menjelma menjadi dewi yang nyata.

Tetapi secara paradoksal kelompok yang tidak mendapat perhatian khusus serta limpahan keyakinan mendapat efek Golem. Yaitu efek yang diambil dari nama monster penjaga kota Praha yang berbalik menyerang penduduk kota nya sendiri. 

Kelompok yang kurang mendapat perhatian serta tidak menerima curahan keyakinan pada akhirnya mengalami kondisi kontraproduktif dan terpuruk dalam lingkar kegagalan. Mereka kehilangan dukungan lingkungan dan pada akhirnya mereka meraih hasil-hasil yang jauh dari harapan, meski sebenarnya mereka memiliki potensi yang sama dengan kelompok yang dilabeli "jenius".

Pertanyaannya adalah, apakah piranti dan infrastruktur sosial mampu mentransmisikan kepercayaan itu pada suatu kelompok secara aktif? Atau adakah mekanisme lain? 

Pada manusia dan primata terdapat suatu area di daerah korteks premotorik dan supplementary motor area/ SMA, korteks sensorimotorik primer, dan korteks inferior yang kerap disebut juga area F5 atau Mirror Neuron, yang fungsinya antara lain adalah mencerna dan mereplikasi hal-hal yang dilihat dan dirasakan dari stimulus yang berasal dari lingkungan. 

Kondisi yang tercipta karena adanya kepercayaan dan keyakinan yang ditumbuhkan akan "terbaca" dari berbagai keluaran berupa fenomena yang meliputi berbagai perubahan sikap dan sifat yang maujud dalam model-model interaksi yang terjadi.

Selain itu tentu saja kita tidak bisa mengabaikan hipotesa dari Roger Penrose dan Stuart Hameroff dalam teori Orchestrated Objective Reduction yang telah mengakomodir pendekatan super posisi dan entanglement di ranah biologi quantum. Karakter fisis keyakinan tampaknya dapat ditransmisikan melampaui batasan ruang dan waktu.

Mungkin konsep ini pula yang melandasi esensi dari terealisasinya doa-doa yang dipanjatkan dengan kekhusyu'an dan keyakinan tinggi. Demikian pula pengejawantahan dari efek nocebo dan Self Fulfilling Prophecy.

Semua berangkat dari keyakinan dan keimanan serta harapan yang tentu saja dibahanbakari oleh Cinta sebagai sumber catudaya.

Pertanyaan lanjutan yang muncul adalah, mana yang mau kita tumbuhkan sebagai kesadaran kolektif sebuah bangsa; keyakinan bahwa bangsa kita cerdas, berkualitas, dan mampu berjuang secara ikhlas. Atau sebaliknya, apakah kita mau mengundang Golem?

Sumber gambar: 

Cara Kerja Sel Dendritik yang Dapat Membantu Proses Pengenalan Terhadap Patogen


Oleh Tauhid Nur Azhar 

Selama pandemi terjadi kita mendapat banyak sekali tambahan informasi dan pengetahuan terkait berbagai perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran, farmasi, dan bioteknologi. Di antaranya terkait dengan sistem imunitas dan berbagai pendekatan imunologi yang terus dikembangkan untuk dapat diterapkan sebagai bagian dari pengelolaan wabah yang bersumber dari mikroba patogen, yang dalam hal ini adalah virus.

Kita sedikit banyak jadi mengenal berbagai istilah, mulai dari teknik dan metoda pemeriksaan RT-PCR sampai ke berbagai jenis vaksin yang semuanya membuka wawasan kita tentang kemajuan ilmu kedokteran dan farmasi berbasis bioteknologi.

Dalam tulisan ini akan sedikit dibahas respon imun dan efektornya yang cukup penting dalam proses pengenalan patogen dan dapat menjadi acuan dalam mempelajari bagaimana cara bekerjanya sistem imun kita.

Salah satu mekanisme yang amat menarik dalam proses pengenalan (identifikasi) dan stimulasi respon imunitas berjenjang adalah peran dari mekanisme yang dikenal sebagai APC (antigen presenting cell). Adapun elemen dari sistem imunitas yang terlibat dalam mekanisme APC ini antara lain adalah sel dendritik, makrofag, dan juga sel limfosit B. Sebagai sel APC profesional sel dendritik memiliki mekanisme kerja yang cukup kompleks dan menarik untuk dipelajari.

Secara umum jika terdapat suatu pajanan antigen tertentu yang masuk ke dalam tubuh manusia, sel dendritik akan "menangkap" dan "menelan" antigen yang diduga merupakan patogen yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Proses tangkap telan itu dinamai fagositosis atau endositosis. 

Setelah antigen ditelan, maka antigen akan ditempatkan di dalam suatu kantong khusus di sel dendritik yang dinamai fagosom. Selanjutnya setelah sel dendritik menelan antigen, ia akan kembali ke markas besarnya yaitu kelenjar limfa regional untuk seterusnya memproses "tahanan" yang telah ditangkap rekannya tersebut.

Di dalam fagosom sel dendritik, antigen akan diproses dengan cara meleburkannya dengan kantong lain yang bernama lisosom. Dimana akan terbentuk suatu struktur baru bernama fagolisosom (seperti penggabungan Kemenristek dengan Kemendikbud ya?). Di dalam fagolisosom itu antigen (dari virus) akan dipotong-potong menjadi peptida yang terdiri dari 7 sampai dengan 14 asam amino. Proses pemotongan itu dilakukan oleh enzim Protease yang semula terdapat di lisosom.

Sementara itu secara paralel, di dalam sel dendritik ada organela lain yang juga giat bekerja dan teraktifkan dengan kehadiran antigen tadi. Organela itu adalah retikulum endoplasma yang sibuk memproduksi molekul-molekul yang bernama Major Histocompatibility Complex atau MHC, tepatnya MHC kelas II. Mengapa kelas II? Karena antigen yang diproses oleh sel dendritik sebagai APC profesional adalah antigen yang berasal dari luar ekosistem alias bersifat eksogenous.

Selanjutnya molekul MHC-II yang diproduksi oleh retikulum endoplasma tersebut akan dipindahkan ke organela lain yang bernama aparatus golgi dan ditempatkan dalam kantong (vesikel) khusus. Lalu apa yang terjadi? Vesikel berisi molekul MHC-II akan bergabung dengan endosom berisi peptida hasil pemotongan di fagolisosom, lalu gabungan keduanya akan menghasilkan kompleks MHC-II+Peptida yang akan diekspresikan ke permukaan sel dendritik melalui mekanisme yang menyerupai proses eksositosis.

Kompleks peptida MHC-II inilah yang akan dikenali oleh sel-sel T Penolong Naif atau Limfosit T-CD4+, kerap dikenal pula sebagai sel Th0.

Proses berikutnya, peptida antigen virus akan berikatan dengan reseptor sel T (TcR) dan MHC-II akan berikatan dengan molekul CD4 di permukaan sel Th0.

Selanjutnya ikatan ini akan mengaktifkan sel limfosit CD4 atau sel T Penolong ini yang akan mengaktifkan proses polarisasi fungsi dari sel Th0 untuk menjadi sel T Penolong 1 (Th1), Th2, dan sel T Memori.

Proses ini juga disertai dengan terjadinya produksi sitokin atau zat komunikator sel. Sitokin yang diproduksi pada jalur polarisasi Th2 antara lain adalah: IL-4, 5, 6, 10, dan 13. IL adalah singkatan dari interleukin.

Mengapa jalur Th2 yang dibahas dalam tulisan ini? Karena melalui jalur Th2 inilah, dengan bantuan IL-4 dan IL-13 yang berikatan dengan reseptornya di sel limfosit B akan terjadi proses yang dinamakan isotype switching yang akan menghasilkan molekul antibodi spesifik. Dimana molekul antibodi khas, imunoglobulin G/IgG, yang diproduksi sel B dapat berperan sebagai elemen sistem imunitas spesifik terhadap patogen yang telah disajikan oleh sel-sel dendritik.

Demikian sekilas kisah tentang kecanggihan sistem imunitas tubuh kita, yang dalam tulisan ini diwakili oleh peran sel dendritik yang unik. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, sebagai bagian dari upaya untuk mensyukuri anugerah Tuhan yang telah mengaruniai kita dengan berbagai sistem tubuh dengan berbagai mekanisme kerja yang istimewa dan dapat melindungi kita dari berbagai bentuk marabahaya.

Sumber gambar:

Selasa, 30 Maret 2021

Pesan Sunan Gunung Jati untuk Transformasi Layanan Konseling Mahasiswa


Oleh Duddy Fachrudin 

Setahun yang lalu, World Economic Forum (WEF) merilis top 10 skills yang perlu dimiliki para pekerja pada tahun 2025. Keterampilan-keterampilan tersebut dibagi ke dalam 4 aspek: problem solving, self-management, working with people, dan technology use & development.

Dari 10 keterampilan, terdapat keterampilan yang tergolong "newbie". Keterampilan di dalam aspek self-management yang meliputi active learning & learning strategies dan resilience, stress tolerance, & flexibility termasuk di dalamnya. Keduanya menempati rangking 2 dan 9 dalam top 10 skills tersebut. 

Kedua skills tersebut terselip diantara keterampilan-keterampilan yang sudah familiar sejak tahun-tahun sebelumnya seperti analytical thinking & innovation, complex problem solving, leadership, & creativity. Namun, di era disrupsi, active learning & resilience ditambahkan seiring dengan perubahan jaman yang sangat cepat dan uncertainty

Isu kesehatan mental pegawai juga tidak lepas dari pengamatan WEF dan menjadi alasan pentingnya sumber daya manusia memiliki resiliensi dan toleransi terhadap stres yang tinggi, yang didalamnya juga terintegrasi dengan kecerdasan emosional. World Health Organization (WHO) sendiri sudah mewanti-wanti adanya pandemi baru di masa depan berupa depresi yang menyerang siapa saja dan mengakibatkan disabilitas dalam kehidupan individu itu sendiri.

Jauh-jauh hari, satu dari 40 dawuh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kepada anak cucunya adalah selalu mawas diri. Dalam ranah psikologi, mawas diri (self-awareness) adalah kemampuan mengamati diri, baik pikiran, laku, dan perasaan. Ini penting bukan hanya dalam mencegah korupsi, tapi juga upaya dalam mengembangkan kesehatan mental di dunia yang tidak pasti. Al-Qur'an menyebut mawas diri sebagai wa fii anfusikum afalaa tubsiruun yang mengajak manusia untuk tadabbur dan tafakkur ke dalam diri sehingga tidak terjebak dalam ilusi dan delusi.

Pertanyaan sesungguhnya dimanakah tempat untuk belajar mawas diri?

Keluarga melalui ayah bunda seyogyanya menjadi sarana perkembangan psikologis anak-anaknya. Namun tidak jarang mereka luput atau bahkan tidak tahu atau tahu tapi tidak mau karena terlalu sibuk dengan segala aktivitasnya. Padahal salah satu kunci keberhasilan seorang anak (yang kemudian menjadi remaja) adalah memiliki keterampilan mawas diri. Ia mengenal dan memahami emosi, pikiran, dan bagaimana mengelolanya menjadi perilaku yang adaptif dan berdaya guna bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Maka, di sinilah peran Tim Pelaksana Bimbingan Konseling (TPBK) di setiap universitas yang menjadi wadah mahasiswa untuk mengenal diri dan membimbing dalam pengembangan kesehatan mental mereka. Setelah lulus, kelak para mahasiswa sudah memiliki bekal kompetensi keterampilan resiliensi dan memiliki toleransi terhadap stres yang tinggi yang bisa meningkatkan performansi dan menjadi solusi, yang akhirnya maujud dalam prestasi. 

Adanya layanan konsultasi dan konseling kesehatan mental bagi mahasiswa bukan lagi perihal akreditasi, tapi merupakan bagian terpadu dari health promoting university. Ini salah satu kunci menuju World Class University.  

Sumber gambar:

Rabu, 17 Maret 2021

Metafora: Si Belalang dan Lompatannya


Oleh Mira Seba

Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain, namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran dia bertanya,

“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?”

Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan,

“Dimanakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.”

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan semua itu membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.

Sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir lebih dalam apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acapkali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tahukah bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan tali yang terikat pada pancang kecil? Gajah sudah merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kakinya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…

Sebagai manusia kita mampu untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala impian positif yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang, tapi jika kita sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

Sumber gambar: