Jumat, 23 Oktober 2020

Terapi Mindfulness: Agar Menerima dan Mencintai Diri (Self-Love)



Oleh Duddy Fachrudin 

Kadang-kadang tidak mudah menerima diri sendiri dan mencintai diri ini apa adanya. 

Kita sering melihat diri ini serba kekurangan: kurang tampan/ cantik, kurang anggun, kurang pede, kurang sejahtera, kurang kaya, dan sebagainya. Dan untuk menutupi berbagai kekurangan itu, kita seolah-olah menjadi orang lain. 

Kita ibarat memakai topeng yang menyembunyikan wajah sendiri.

Awalnya dengan menyembunyikan "wajah" kita, seolah-olah kita bahagia. Namun sesungguhnya kebahagiaan yang semu. 

Ini terlihat dari sebuah film yang berjudul 200 Ponds of Beauty yang mengisahkan seorang gadis tambun dan jelek, namun memiliki suara emas yang bernama Hanna. Ia sosok di belakang layar dari seorang penyanyi yang memiliki suara pas-pasan namun cantik dan seksi. Perpaduan dua orang yang berbeda fisik dan suara itu menghasilkan kolaborasi yang menawan. Namun karena suatu hal, Hanna sakit hati dan ia memutuskan untuk melakukan operasi plastik pada tubuhnya.

Bak dewi baru turun dari kayangan. Hanna menjadi bidadari nan anggun memesona seluruh jagad raya. Dengan penampilan barunya, ditambah suara emasnya, Hanna menjadi bintang baru industri musik dunia. Ia pun menyembunyikan identitasnya dan menggantinya menjadi Jenny. 

Ternyata popularitas yang diraih Jenny membuatnya lupa akan dirinya. Ia membuang dirinya dan seolah tak mengenal lagi dirinya. Silau kemilau dunia keartisan pun membuatnya lupa pada sahabat sejatinya, bahkan ayahnya sendiri.

Untungnya Jenny mulai sadar bahwa menjadi orang lain ternyata tidak baik. Jenny merindukan dirinya sebagai Hanna yang apa adanya, mencintai sahabat dan juga ayahnya, serta anjingnya yang selalu menemaninya. 

Hanna kemudian melepas topeng palsunya dengan mengatakan kepada semua orang bahwa ia bukanlah Jenny, namun Hanna yang gemuk dan jelek yang melakukan operasi plastik. Dan ia bahagia kembali menjadi seorang Hanna meski banyak fansnya kemudian membencinya.

Topeng-topeng palsu secara tidak sadar sering kita gunakan sehari-hari... itulah yang sesungguhnya membuat orang tidak bahagia di dunia ini. 

Maka biarkan kita menerima dan mencintai diri (self-love) ini apa adanya. 

Ya memang beginilah diriku dan kemudian berkata, “Terima Kasih Tuhan atas segala kreasi yang kauciptakan pada diriku ini.” 

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/

Senin, 12 Oktober 2020

Terapi Mindfulness: Konflik dalam Diri



Oleh Duddy Fachrudin

Permasalahan psikologis utama yang terjadi pada diri manusia adalah konflik dalam diri, karena hampir setiap hari manusia mengalami konflik. 

Saat bangun pagi, sebagian besar dari kita menengok jam lalu setelah mengetahui pukul berapa kita bangun, bagian diri kita berkata, “Oh masih jam 3 pagi”, lalu dengan refleksnya kita menarik selimut dan bersiap tidur kembali. Tiba-tiba sebelum kita terlelap lagi, terdengar sesuatu di dalam hati, “Hei... kenapa kau tidur lagi. Ayo bangun dan sholat tahajud.” 

Itulah konflik, dan dapat kita temui dalam kehidupan sejak bangun hingga bersiap untuk tidur kembali.

Contoh lain adalah ketika saya diminta seorang sahabat untuk memberikan terapi kepadanya agar ia bisa mengurangi frekuensi menonton drama Korea dan bisa lebih menggunakan waktunya untuk belajar. 

Kebiasaan sahabat saya menonton drama Korea ternyata mengusik agenda belajarnya. Atau... aktivitas belajarnya yang justru mengganggu kesenangannya menonton drama Korea?

Konflik dalam diri terjadi karena pertentangan antara dua atau lebih bagian diri dalam diri kita. Dalam kasus di atas, satu bagian diri sahabat saya mengatakan, “Nanti ya belajarnya, nonton drama Korea dulu”, dan satu bagian diri yang lain, “Tapi ini kan waktunya belajar, kenapa malah nonton?”

Dalam mindfulness, saat terjadi konflik antar bagian diri, kita perlu mengamati (pay attention) dan  menyadari (aware) kehadiran bagian-bagian diri tersebut. Lalu memahami apa tujuan yang diinginkan bagian-bagian diri tersebut serta menerimanya (acceptance). Langkah terakhir, diri kitalah yang mendamaikan mereka dengan kebijaksanaan tertinggi. 

Maka, teruslah berlatih mendamaikan diri... saat diri telah damai, maka kita tumbuh menjadi pribadi seimbang, kokoh, dan utuh. 

Sumber gambar:

Senin, 05 Oktober 2020

Kesehatan Jiwa untuk Semua: Sebuah Monolog



Oleh Duddy Fachrudin & Nita Fahri Fitria 

Rapuh, jatuh, meluruh. Hidupku tiada bedanya dengan pohon yang nyaris runtuh.

Aku selalu terburu-buru. Meski tak jelas apa yang diburu. Yang kudapatkan justru cemas, sedih, dan gaduh. Jiwaku bergejolak tak menentu.

Dalam rasa yang mengharu biru, kusadari ada yang salah dengan langkahku.

Ternyata ada yang lebih penting dari sekedar memburu keinginan-keinginan. 

Ketenangan... kedamaian pikiran... kemampuan mengelola perasaan... Itu yang aku butuhkan.

Menjalani momen demi momen dengan penuh kesadaran, penerimaan, dan kebersyukuran. Melepaskan diri dari jerat ilusi pikiran yang tidak memberdayakan. Memaafkan masa lalu, dan tak lagi mengkhawatirkan masa depan.

Hening, mengalir, selaras... hadir sepenuhnya. Mengisi ruang dan waktu dengan penuh makna dan keikhlasan.

Hidup dalam kesederhanaan, tanpa penghakiman.

Ah... Dipikir-pikir, perjalanan hidup itu menyenangkan. Seperti ketika kita memandang cahaya secara perlahan-lahan. Indah bukan? Maka bahagia itu nyata... ketika aku peduli pada kesehatan jiwaku.

Melalui hidup berkesadaran, tak lagi terdistraksi pada ambisi semu. Yang ada adalah tumbuh menjadi pribadi seimbang, kokoh, dan utuh.

Kini, dalam ketidakpastian, mencoba untuk tidak mengendalikan. Berfokus saja menebar cinta dan kebaikan.

Segala peristiwa yang hadir di esok hari adalah tamu yang perlu aku sambut dengan riang gembira. Mereka merupakan guru yang merawat serta memandu perjalanan rindu.

Kesehatan jiwa untukku dan untukmu.

Kesehatan jiwa untuk semua.


Sumber gambar:
http://www.mindfulnesia.id/2020/03/mengatasi-overthinking-dengan-mbct.html

Kamis, 01 Oktober 2020

Belajar Mengajar dan Health Promoting University




Oleh Duddy Fachrudin 

Dua hari itu di sudut Bandung nan dingin, kami--saya dan senior saya dan juga psikolog di salah satu fakultas di UGM, Mba Dina Wahida--bersua sekaligus ngobrol-ngobrol sedikit tentang Health Promoting University (HPU). 

Kebijakan mempromosikan kesehatan dalam ruang lingkup sivitas akademika merupakan suatu upaya yang tepat di kala individu menghadapi ragam varian stressor dan juga potensi penyakit yang dapat menghambat tujuan pendidikan.

Ini bukan hanya soal kampus bebas rokok, penyediaan fasilitas olahraga, dan menciptakan ekosistem hijau yang sehat, melainkan juga mengembangkan kebiasaan hidup sehat. Selain itu, menempatkan psikolog di fakultas atau universitas juga menjadi hal yang esensial untuk meningkatkan kualitas kesehatan mental. 

Sembari diskusi, pikiran saya melayang jauh ke masa lalu, melintasi waktu. Teringat pada sosok yang secara tidak langsung ikut mempromosikan kesehatan di sela-sela aktivitas belajar mengajar...

###

“Bukan tujuanlah esensi dari sebuah perjalanan, melainkan ‘berlayar’ dan ‘berpetualang’-lah nilai terpenting dari kehidupan.” (Tauhid Nur Azhar)

Apa yang Anda pikirkan ketika melihat seorang dosen masuk ke dalam kelas mengajar tanpa membawa buku teks, malah membawa komik, memakai jins belel, dan kemeja yang tampak lusuh. 

Mungkin sebagian dari Anda akan mempertanyakan kualitas keilmuannya, atau Anda kemudian berkata, “Kok ada ya dosen seperti ini?”

Pada kenyataannya memang ada dosen seperti itu, salah satunya Tauhid Nur Azhar atau Kang Tauhid—biasa kami memanggilnya. 

Beliau mengajar mata kuliah Biopsikologi dan Psikologi Faal pada semester satu dan dua. 

Aneh bin ajaibnya kami sekelas begitu nyaman dengan Kang Tauhid, bukan hanya karena penampilannya yang berbeda daripada dosen-dosen yang lain, namun pembawaannya yang lembut, dan cara mengajar yang menyenangkan. Kehadirannya pun ditunggu-tunggu oleh para mahasiswanya.

Kang Tauhid tentu memiliki alasan mengapa beliau berpenampilan tidak seperti dosen pada umumnya. Bukankah membawa komik ke kampus, memakai jins belel, dan kemeja lusuh adalah cerminan seorang mahasiswa pada umumnya? 

Kang Tauhid memposisikan dirinya sebagai seorang mahasiswa. Maka tentu saja tidak ada sekat antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa yang lainnya. 

Karena penampilannya tersebut, Kang Tauhid bahkan pernah dianggap seorang mahasiswa senior yang sedang mengulang mata kuliah oleh mahasiswanya.

Satu hal lagi mengapa kami mehasiswanya begitu nyaman saat diajar oleh Kang Tauhid adalah beliau tidak menekankan hasil dalam bentuk angka, namun esensi kuliah atau belajar adalah menikmati prosesnya. “Bukan tujuanlah esensi dari sebuah perjalanan, melainkan ‘berlayar’ dan ‘berpetualang’-lah nilai terpenting dari kehidupan,” begitu kata beliau.

Sehingga saat berlayar, atau bertualang, kita akan menemukan berbagai hal yang tak terduga. Kita takjub dan terperangah saat memandang keindahan lautan. Pada kesempatan yang lain mungkin kita terdampar di sebuah pulau tak bertuan. Dan dengan segala upaya, ikhtiar, dan do’a kita berjuang menaklukan badai lautan, hingga pada saatnya kapal yang kita nahkodai bermuara pada pelabuhan bernama kebersyukuran. 

### 

Maka pleasure experience itu seyogyanya hadir tidak hanya ketika menikmati es krim, tapi juga belajar. Ketika proses belajar dan mengajar adalah kebahagiaan, setiap tekanan yang menimbulkan stres berlebihan dan menggerus keseimbangan dapat terkelola dengan baik. 

Pada akhirnya, strategi ini dapat berperan sebagai meningkatkan kualitas kesehatan mental as part of kesehatan holistik bagi seluruh sivitas akademika di lingkungan universitas. 

Sumber gambar: 

Senin, 28 September 2020

Keajaiban Dunia dan Kesehatan Mental




Oleh Duddy Fachrudin 

Alkisah di sebuah kelas SD sudut kampung terpencil negara ini, ibu guru bertanya kepada murid-murid kelas enamnya yang cerdas-cerdas, "Hayooo anak-anak, siapa yang bisa menyebutkan keajaiban dunia?"

Seorang anak laki-laki yang duduk di sudut kelas mengacungkan tangannya, "Aku mau jawab Buuu..." Sang ibu guru melirik muridnya, "Ya Faul... silahkan..."

"Keajaiban dunia itu Candi Borobudur, Danau Toba, Menara Eiffel, Piramida, Taj Mahal, Ka'bah, Tembok Besar China, dan Colosseum," kata Faul. Beberapa saat kemudian setelah Faul menyebutkan keajaiban dunia, tiba-tiba seorang temannya mengacungkan tangannya, "Aku mau menambahkan guru..."

"Aisyah, silakan sebutkan keajaiban dunia yang lainnya," kata ibu guru.

"Bu guru... keajaiban dunia itu ketika aku melihat, mendengar, merasakan... menyentuh, berjalan, bermain, dan mencintai."

Seluruh kelas terdiam, termasuk ibu guru.

Lalu di saat keheningan tercipta, dan rasa telah merasuk di dada, seorang anak mengacungkan tangannya... "Keajaiban dunia itu... adalah diri manusia sendiri."

###

Menyadari diri kita ajaib itu sungguh ajaib.

Mengapa? Karena inilah pintu gerbang dari samudera kebersyukuran. 

Kita tidak lagi membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa cukup dengan diri kita sendiri dan apa yang kita miliki. Dan kita tak lagi mengeluh ini itu kepada Tuhan Yang Memberi Kehidupan ini.

Hidup ini pemberian ajaib. 

Dan tubuh dengan segala yang tersembunyi di dalamnya yang juga sangat ajaib ini adalah suatu anugerah paling indah yang Tuhan ciptakan.

Sayangnya manusia sering lupa bahwa dirinya ajaib. 

Hal itu terjadi karena manusia sering mencari ke luar dirinya. 

Mencari untuk memuaskan kehidupannya. Sehingga tak kadang karena hal ini pula hidupnya tergerus. Pikiran, perasaan, dan tubuhnya tak lagi selaras. Jiwanya tak lagi harmonis.

Maka orang yang bahagia sesungguhnya berhenti mencari. 

Ia mulai menggali ke dalam dirinya. Menyelam ke dasar lautan hati untuk menemukan mutiara terindah yang diciptakan Tuhan. 

Khusyu merindu dalam keheningan dan tak lagi berkeinginan. 

Oh cinta ini...
hanya ragu tentang waktu 
apa yang ku tunggu,

Hidup untuk ku tepati

Sumber gambar: 
https://www.instagram.com/duddyfahri/