Minggu, 08 Desember 2019

Self-Compassion: Aku Bahagia Menjadi Wanita


Oleh Nita R. Fitriantini

Aku bahagia menjadi wanita yang otentik. Maka aku sangat yakin bahwa wanita lain juga bahagia dengan keotentikannya. 

Aku memahami bahwa dia, mereka, dan aku diciptakan sebagai sesama wanita yang ukuran sepatu, baju, warna kesukaan, dan hal-hal lain yang sangat beragam. 

Dunia ini menjadi indah karena di setiap tempat kita akan menemukan definisi cantik yang khas.

Aku bahagia menjadi wanita yang memahami bahwa Allah Swt. punya cara untuk menjadikan orang lain mendapat predikat hebat dengan cara yang tidak sama denganku. 

Banyak sekali kisah perjuangan wanita-wanita hebat yang mungkin alur ceritanya sulit aku mengerti, tapi aku yakin itu menjadikan mereka mulia di hadapan Allah Swt. 

Aku bahagia menjadi wanita yang menyadari bahwa anak dari setiap wanita memiliki garis takdirnya sendiri. Mereka bertumbuh dalam proses yang kompleks dan memiliki ritme perkembangan yang sangat personal. 

Aku bahagia menyaksikan betapa anak-anak dari para wanita di seluruh dunia ini menambah rona indah di bumi yang kupijak.

Aku bahagia menjadi wanita karena aku dapat menyerap banyak sekali inspirasi dari variasi pilihan yang diambil oleh setiap wanita di dunia ini. Mereka memiliki mekanisme berpikir yang berdasar pada pengalaman dan pengetahuan yang tentu saja sangat sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Aku bahagia menjadi wanita dan aku yakin setiap wanita di dunia ini bahagia menjadi wanita yang versi mereka.

Dan untuk menjadi wanita yang bahagia nan menawan aku hanya perlu mencintai diriku dan membagikan cinta yang kumiliki untuk seluruh wanita di dunia ini. 

Sumber gambar:

Kamis, 05 Desember 2019

Mindful Couple: Jika Engkau Ingin Menikah... (Bagian 2, Habis)


Oleh Nita R. Fitriantini

Yang kita perlukan adalah membuka diri terhadap segala perbedaan yang dihadapi, kemudian bertoleransi akan hal-hal yang mungkin tidak kita sukai, gak gue banget, agar mempermudah diri kita untuk menghadapi tantangan lain yang sudah pasti akan datang.

Menerima dan berdamai dengan harapan-harapan kita yang mungkin belum bisa dipenuhi oleh pasangan. Serta menerima dan berdamai dengan situasi pasca menikah yang mungkin tidak seindah bayangan. Di situlah pentingnya kesediaan untuk terus belajar.

Begitu kita membuka diri, ok suami aku begini, situasi saat ini begini dan aku terima dengan hati yang terbuka. Kita akan secara otomatis belajar beradaptasi dengan semua itu. Untuk menghadapi sifat pasangan yang begini, kita harus bagaimana atau untuk menjalani situasi begitu, harus bagaimana, dan seterusnya. 

Dan melalui proses belajar itulah kita akan menemukan cara untuk terus berjalan seimbang dan harmonis, tidak lagi sikut-sikutan, ingin jalan duluan, atau saling menyalahkan. Kalau sudah begitu, tantangan apapun yang dihadapi akan membuat hubungan kita semakin solid. 

Coba bayangkan jika dalam satu tubuh, kaki kanan memakai flat shoes sementara kaki kiri menggunakan sepatu setinggi tujuh senti, dan disuruh berjalan di atas hamparan kerikil. 

Terbayang? Itulah gambaran pasangan yang tidak bisa saling membuka dan menyeimbangkan diri. Baru beberapa langkah saja pasti sudah jatuh tersungkur. Maka, mari seimbangkan.

Tentu saja proses membuka diri agar bisa saling menyeimbangkan dengan pasangan ini tidak hadir begitu saja. Kemampuan ini perlu dibangun sejak masih sendiri. 

Untuk membangunnya kita perlu banyak memberikan kesempatan pada diri untuk menerima tantangan baru seperti bepergian ke tempat asing, bertemu dengan banyak orang, serta melakukan banyak aktivitas yang memungkinkan diri kita untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda. 

Hal-hal tersebut akan melatih diri kita untuk memiliki kemampuan adaptasi yang baik serta terbiasa untuk belajar dan menerima hal baru.

Jadi, jika engkau ingin menikah...

Bepergianlah, merantaulah, berteman dengan banyak orang, belajar hal baru, ijinkan diri sendiri untuk menerima hal yang gak gue banget. 

Sumber gambar:

Mindful Couple: Jika Engkau Ingin Menikah... (Bagian 1)


Oleh Nita R. Fitriantini

Termasuk kategori life event dalam teori perkembangan, menikah memang momen super penting bagi setiap insan. Life event adalah sebuah kejadian/ pengalaman yang menghadirkan perubahan yang signifikan terhadap kehidupan manusia. Tentu saja, menikah menghadirkan begitu banyak perubahan pada diri kita, bukan?

Perubahan dalam pernikahan tidak hanya sekedar perubahan dulu tidur sendiri sekarang berdua, atau dulu ngurusin diri sendiri sekarang ngurusin suami. Tapi dalam pernikahan ada banyak sekali perubahan yang detail, rumit, dan penuh kejutan. Maka tidak heran, mereka yang melewati masa berpacaran sekian tahun saja mengatakan bahwa setelah menikah semuanya berbeda.

Setelah menikah kita akan menghadapi pasangan dengan karakter, latar belakang, sudut pandang, kebiasaan, dan segalanya bisa jadi benar-benar berbeda dengan kita. Di hadapan kita juga ada keluarga pasangan yang terdiri dari ayah dan ibu mertua, saudara ipar, keponakan, om, tante, kakek, nenek, sepupu yang masing-masingnya juga memiliki detail kepribadian yang berbeda dengan kita. Terhampar pula di hadapan, perbedaan budaya, tradisi keluarga, bahasa, cara pengelolaan keuangan, hobi, dan sederet detail lainnya. Belum lagi soal manajemen diri, waktu, dan pekerjaan pasca menikah yang tentunya juga akan mengalami perubahan.

Banyak orang kemudian merasa seperti terpenjara, tidak nyaman, ingin kembali membujang, atau sekedar melarikan diri sejenak karena tidak siap menghadapi sederet perbedaan tadi.

Bahkan ada yang berpisah dengan dalih terlalu banyak perbedaan, tidak lagi cocok, buntu, dan sebagainya di usia pernikahan yang masih seumur jagung. 

Jadi sebetulnya pernikahan itu apa sih? Kok orang-orang begitu mendambakan pernikahan, tapi kemudian merasa stress, depresi, merasa terpenjara, dan menjadi sebal setengah mati pada pasangan yang dulu dicintai, justru setelah hidup bersama dalam ikatan yang katanya membahagiakan itu?

Pernikahan adalah soal membuka diri. Dalam mindfulness, sikap membuka diri dinamakan beginners mind

Sepasang pria dan wanita yang tengah dimabuk cinta dan ingin melewatkan sisa hidup bersama, perlu untuk terus saling membuka diri untuk saling belajar, saling bertoleransi, dan saling berupaya agar bisa berjalan seimbang sebagai sepasang kaki yang menapaki jalan menuju satu tujuan. 

Sekali saja kita menutup diri dan berkata, “Aku gak mau ya, itu gak aku banget.”, maka sejatinya kita tengah membangun tirani kita sendiri. Lantas, apakah kita harus menjadi orang lain? Tidak juga...


Sumber gambar:

Kamis, 21 November 2019

Kepemimpinan ala Orbital Intelligence


Oleh Tauhid Nur Azhar

Pemimpin itu harus mampu membangun pola pikir waskita yang dapat mengintegrasikan 4 sumbu sekaligus dan dapat pula membangun konstruksi sistem pengelolaan pengetahuan secara berkesinambungan.

Adapun ke-4 sumbu yang dimaksud adalah sumbu vertikal yang berarti seorang pemimpin harus berpikir menyintas waktu dengan selalu mengacu kepada nilai rujukan yang semata berlandas pada kebenaran (Haq). 

Pemimpin yang mampu memutar dan memusar segenap potensi pemangku kepentingan sehingga menghasilkan efek sentripetal yang mendekati titik pusat (Ahad). 

Di satu sumbu vertikal vektorial, selain ada arah terdapat pula waktu, yang meski selalu maju tetapi juga mengekalkan masa lalu sebagai kenangan yang kita kenal sebagai pengalaman serta dapat pula kita artikan sebagai pelajaran. 

Untuk itu seorang pemimpin harus mampu membangun fondasi integritas yang dapat menghasilkan sifat ikhlas sebagai compliance terhadap ketetapan dimensi ruang-waktu. 

Ilmu menjadi kata kunci, gaya sentripetal yang bersifat kinetik harus dicatudaya oleh energi potensial yang ditambang dari perut bumi kearifan yang kaya akan data dan informasi termaknai yang menjadi bagian dari konstruksi pengetahuan yang berperadaban. Knowledge based management atau Iqra adalah suatu keniscayaan dalam hal ini. 

Dua sumbu lain terletak pada bidang horisontal dan oblique atau menyilang alias menembus serta terletak di antara absis dan ordinat. Gaya sentripetal yang menarik semua energi ke satu titik disertai dengan eksitasi yang menghasilkan radiasi sirkuler yang memberikan dampak sebidang. 

Kemaslahatan harus dapat diradiasikan seluas mungkin. Sebagaimana paket quanta yang dapat mengelana di media semesta, berbagi secara adil tanpa subjektifitas preferensi (Rahmatan lil alamin). 

Pada akhirnya keempat sumbu di bidang horisontal dan vertikal-sagital akan dihubungkan oleh ruang maya dimensi berbentuk bola. Tak bersudut dan menyediakan lapang pandang multi perspektif dengan persepsi yang relatif akan lebih utuh. Satu cara pandang baru yang dapat mengakomodir kebutuhan holistik dalam memaknai sebuah fenomena di suatu titik di koordinat ruang, waktu, dan juga hubungan atau korelasi asosiasinya dengan berbagai titik lain di dalam bola yang terpisah ordinat waktu ataupun absis lokasi. 

Ball Vision bahkan dapat menjadi salah satu cara pandang yang dapat mengoptimasi konsep mobilisasi dan orkestrasi yang diinisiasi oleh Prof. Rhenald Kasali. Karena setiap elemen dapat kita identifikasi karakter berikut pola-pola interaksinya secara berkesinambungan dan dinamis dalam konteks ruang dan waktu. 

Kemampuan membangun cara pandang inilah yang pada gilirannya akan menginisiasi terpantiknya satu genre derivatif dari kecerdasan waskita, Orbital Intelligence alias OI

Suatu kecerdasan yang dapat mengakomodir perbedaan sudut pandang dan "membaca" berbagai percabangan algoritma dalam sebuah reaktor "chain reaction" yang membutuhkan kapasitas prediktif yang juga dikenal sebagai foresight ability

Dalam konteks iman, mungkin konsep ini adalah gambaran paling sederhana dari kompleksitas Lauh Mahfudz yang sedemikian canggih dan agung. Melihat dan meraba rencana yang Maha Merencanakan dalam sebuah peta algoritma berbentuk bola. 

Maka dengan Ball Vision yang mengakses data secara mengorbit, kita dapat mengoptimasi waktu dan mereduksi jarak karena kita kanalisasi dalam resultante non vektorial dari cara pandang tak bersudut (bola). 

Kita dapat menjadi satelit yang "melihat" dan melaju (bahkan tanpa energi), lalu memantulkan atau memancar ulangkan respon terukur dan teraugmentasi (diperkaya) berdasar stimulus yang diterima secara sangat proporsional. 

Khalifah yang terus belajar (melihat dan mendengar dengan karunia sistem sensoris; sam'a, abshor, dan fuad ) hingga mampu menjadi katalis (enzimatik) yang setiap pikiran, perkataan, dan perbuatannya senantiasa menghasilkan rahmat bagi semesta sekalian alam. 

Fungsi fuad sebagai regulator dan transformator dari ranah gagasan menjadi rencana aksi yang dieksekusi antara lain tentu melibatkan berbagai fungsi sistem limbik dan memori, reward system, dan tentu saja area fungsi eksekutif di korteks prefrontal yang dilandasi konstruksi kesadaran yang antara lain diperankan oleh Insula, dkk. 

Demikianlah bola-bola sederhana nan bersahaja dari pikiran cupu dan tak punya maksud suatu apa ini, siapa tahu dapat menjadi alternatif untuk bersama mengoptimasi potensi diri.

Sumber gambar:

Rabu, 20 November 2019

3 Cara untuk Menjalani Hidup Tanpa Keruwetan


Oleh Duddy Fachrudin

Kadang saya iri dengan gunung. Ia begitu elok, tempat bersemayam beraneka rupa flora serta fauna, dan pastinya banyak dikunjungi manusia.

Gunung tak mengeluh saat didaki manusia yang terkadang malah mengotorinya. Ia juga tak menampakkan kemarahan saat badai hujan menerpa. Pun saat terik matahari menyengat, ia tetap tabah.

Gunung mengajarkan keteguhan, kemantapan, sekaligus bagaimana menjalani kehidupan tanpa keruwetan. Ia tetap istiqomah menjalankan tugas menjaga keseimbangan di bumi tercinta.

Dibalik tugas besarnya, ia tak memiliki keinginan apa-apa, ia pandai menerima dan melepas segala sampah kotoran yang dibawa manusia, serta begitu ikhlas menjalani ketidakpastian.

Maka belajar dari gunung berarti belajar bagaimana menjalani kehidupan ini dengan santuy, mindful, tanpa keribetan, tanpa keruwetan. Bagaimana?

1. Memilih dan memilah mana yang menjadi kebutuhan kita. Hidup adalah tentang keseimbangan. Berlebihan akan menggerus keseimbangan. Mengecek keinginan yang muncul segaligus mempertanyakannya, "apakah saya benar-benar membutuhkan ini?"

2. Melepas. Kurangi hal-hal yang tidak penting: barang-barang yang memenuhi space (ruang), sampah pikiran dan perasaan yang terus mengendap, serta informasi tidak penting yang terus membanjiri indera. Melepas berarti menata hidup, menjadi sadar sepenuhnya akan kehidupan kita.

3. Menjalani ketidakpastian dengan keyakinan, kesabaran, keikhlasan, dan kebersyukuran. Suatu hal yang pasti adalah ketidakpastian tersebut, bukan? Selalu ada ujian, tantangan, penderitaan. Dan itu adalah kewajaran. Justru jika tidak ada semua itu, apa asyiknya mengarungi kehidupan?

Maka berfokus saja memberi kebermanfaatan. Meniatkan diri untuk menjadi baik dan menebar kebaikan.

Sumber gambar: