Minggu, 04 Juni 2017

Mindfulness dalam Perspektif Islam


Oleh Duddy Fachrudin

Di setiap tempat penulis mengajar mindfulness seringkali ada seorang partisipan yang bertanya asal muasal mindfulness. “Dari mana mindfulness berasal?,” begitu mereka bertanya. Tentu sebuah pertanyaan yang penting dan bagus sekali yang menstimulasi otak khususnya area kortikal bagian depan.

Mindfulness tidak berdiri pada suatu agama atau tradisi tertentu. Karena mindfulness yang di dalamnya terkandung konsep living in the present moment ada di berbagai agama maupun tradisi dunia (Siegel, 2007). Bahkan dalam tradisi Jawa, mindfulness merupakan ajaran luhur yang telah mengakar di tengah-tengah pusaran masyarakat Jawa, yaitu eling alias sadar.

Maka konsep sadar di sini yaitu menyadari setiap gerak gerik pikiran, perasaan, dan perilaku diri. Sebelum dapat menyadari ketiganya perlu adanya proses mengamati, mengecek, atau memperhatikan. Dalam konteks Islam, penulis berijtihad proses mengamati juga berarti “membaca” atau Iqra.

Iqra atau membaca gerak gerik hati tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa. Perlu adanya jeda atau hening bahkan kontemplasi termasuk bertanya. Lalu menyelam ke dalam samudera terdalam dari jiwa.

Sesuai potensi dasar manusia, yaitu hanif atau berada di jalan yang lurus dan jalan kebaikan, maka sesungguhnya manusia dapat selalu on the track jika saja ia senantiasa mengamati dirinya, menyadari siapa dirinya termasuk aktivitas yang ia lakukan dan konsekuensinya. Maka mindfulness sangat berperan penting dalam proses pengambilan keputusan yang terjadi di korteks prefrontal.

Peningkatan aktivitas pada korteks prefrontal dapat berpengaruh pada mindset dan sikap seseorang. Pikiran yang jernih menghasilkan tindakan yang tertata dan tidak terburu-buru. Keputusan diambil secara bijaksana. Dan tidak mudah melakukan penilaian atau judgment yang negatif.

Lebih lanjut lagi, mindfulness dalam sudut pandang Islam berarti menjadikan Allah Swt. sebagai Yang Selalu Diingat kapanpun dimanapun dan dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring. Living in the present moment berorientasi pada mengingat Allah (dzikrullah). Dengan mengingat Allah, niscaya pikiran pun tidak mengembara ke masa lalu yang kadang masih meninggalkan kesedihan dan kekecewaan atau ke masa depan yang berujung cemas dan takut.

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu'." (QS. Fussilat: 30)

“Mereka yang meneguhkan pendirian mereka” adalah orang-orang yang senantiasa berada pada jalan yang lurus dan ikhlas beribadah karena Allah semata. Maka Iqra (membaca niat) sebelum melakukan aktivitas tertentu sangatlah penting. Apakah aktivitas yang dilakukan diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah atau yang lainnya.

Implikasi dari ini semua tiada lain yaitu agar kita menjadi orang-orang yang berserah diri, menyadari dan menerima sepenuhnya diri kita adalah seorang hamba serta Allah Swt. adalah Tuhan yang wajib kita taati perintah-Nya, menerima kehendak-Nya apapun yang terjadi, dan kita dekati. Pada titik kesadan inilah manusia menjadi bukan siapa-siapa dan tidak ingin apa-apa, karena manusia telah melepas segala atribut dunianya, lalu bergerak menuju Yang Dirindukannya.




Maka dunia sesungguhnya merupakan perjalanan menuju surga. Janganlah takut dan bersedih hati. Bergembiralah.

Referensi:
Mushaf Al-Azhar Al Qur’an dan Terjemah.

Siegel, D. J. (2007). The mindful brain: Reflection and attunement in the cultivation of well-being. New York: WW Norton & Company.

Sumber gambar:
https://www.aliexpress.com/price/smiley-face-ball_price.html
Share:

0 komentar:

Posting Komentar