Seringkali ketika diminta untuk menjadi narasumber, panitia meminta saya untuk mengirimkan curriculum vitae (CV). Sebagai generasi jadul yang tidak kreatif dan malas untuk merangkum CV maka halaman dokumen tersebut berjumlah cukup banyak. Isinya sebagian besar hanyalah pengalaman hidup yang sekedar mampir dan hadir. Dan saya sebenarnya agak malu saat panitia menyebutkan bahwa CV yang jumlahnya berlembar-lembar itu sebagai suatu prestasi. Karena selain isinya cuma "resume", semua yang tertulis pun hanyalah kebetulan.
Seperti kebetulan saja belajar mindfulness karena saya pun mengalami overthinking seperti kebanyakan orang. Bukan karena memang ahli dalam mindfulness. Meskipun kemudian orang-orang mengatakan ahli dalam bidang tersebut. Padahal aslinya tidak seperti itu. Saya cuma belajar untuk kemudian dikembangkan kepada diri sendiri. Selain itu, kebetulan juga tesisnya tentang mindfulness. Sudah.
Semuanya tentang kebetulan. Dan mengalir begitu saja. Tapi...
Untuk saat ini, di jaman yang acapkali membuat kita "overwhelming" ini, kita memang butuh skill atau kecakapan tertentu yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan. Seperti diskusi kemarin bersama Mas Dio Irmansyah, mahasiswa berprestasi dari UMMADA Cirebon tentang mindfulness dan budaya scrolling. Mas Dio menjelaskan bahwa sebagai manusia jaman now, scrolling sudah menjadi budaya bahkan kebutuhan sehari-hari.
Maka di saat ini, memiliki skill adalah suatu kewajiban. Salah satunya agar bisa beradaptasi dan tidak tergerus arus. Mindfulness yang dulu dipelajari hanyalah suatu kebetulan bagi saya. Tapi kini bagi siapapun yang hidup di era digital ini, mindfulness bisa jadi merupakan keterampilan yang wajib dimiliki. Bahkan kemampuan ini menjadi bagian dalam area kompetensi lima pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) yang terbaru.[1]
Mindfulness juga menjadi bagian dalam keterampilan masa depan. Dalam bukunya yang berjudul Future Skills, Perttu Pölönen, seorang komposer, futuris, dan inventor, memasukkan mindfulness ke dalam skill terkait well-being dan self-knowledge. Pölönen menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental, memahami emosi diri sendiri, dan tahu kapan harus "berhenti sejenak" di tengah gempuran dunia digital yang serba cepat. Ini adalah inti dari mindfulness.
Seperti kebetulan saja belajar mindfulness karena saya pun mengalami overthinking seperti kebanyakan orang. Bukan karena memang ahli dalam mindfulness. Meskipun kemudian orang-orang mengatakan ahli dalam bidang tersebut. Padahal aslinya tidak seperti itu. Saya cuma belajar untuk kemudian dikembangkan kepada diri sendiri. Selain itu, kebetulan juga tesisnya tentang mindfulness. Sudah.
Semuanya tentang kebetulan. Dan mengalir begitu saja. Tapi...
Untuk saat ini, di jaman yang acapkali membuat kita "overwhelming" ini, kita memang butuh skill atau kecakapan tertentu yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan. Seperti diskusi kemarin bersama Mas Dio Irmansyah, mahasiswa berprestasi dari UMMADA Cirebon tentang mindfulness dan budaya scrolling. Mas Dio menjelaskan bahwa sebagai manusia jaman now, scrolling sudah menjadi budaya bahkan kebutuhan sehari-hari.
Maka di saat ini, memiliki skill adalah suatu kewajiban. Salah satunya agar bisa beradaptasi dan tidak tergerus arus. Mindfulness yang dulu dipelajari hanyalah suatu kebetulan bagi saya. Tapi kini bagi siapapun yang hidup di era digital ini, mindfulness bisa jadi merupakan keterampilan yang wajib dimiliki. Bahkan kemampuan ini menjadi bagian dalam area kompetensi lima pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) yang terbaru.[1]
Mindfulness juga menjadi bagian dalam keterampilan masa depan. Dalam bukunya yang berjudul Future Skills, Perttu Pölönen, seorang komposer, futuris, dan inventor, memasukkan mindfulness ke dalam skill terkait well-being dan self-knowledge. Pölönen menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental, memahami emosi diri sendiri, dan tahu kapan harus "berhenti sejenak" di tengah gempuran dunia digital yang serba cepat. Ini adalah inti dari mindfulness.
Bahkan keterampilan mengembangkan kesadaran penuh itu juga sebenarnya tersirat dengan ke-10 future skills lainnya, yaitu communication dan storytelling, passion dan character, persevance dan patience, compassion dan honesty, moral courage dan ethics, critical thinking dan interpretation, creativity dan improvisation, problem solving dan adaptability, entrepreneurship dan team work, serta curiosity dan experimentation. Sementara satu skill terakhir, yaitu technology dan the future tidak terlalu berkaitan dengan kemampuan mindfulness.[2]
Sementara itu Florian Rampelt, dkk dalam makalahnya "Future Skills 2030: An Updated Framework for Future Skills", membagi keterampilan di masa depan ke dalam lima bagian:
Pertama, fundamental future skills
Sementara itu Florian Rampelt, dkk dalam makalahnya "Future Skills 2030: An Updated Framework for Future Skills", membagi keterampilan di masa depan ke dalam lima bagian:
Pertama, fundamental future skills
Membentuk landasan komprehensif berupa kompetensi yang langgeng, yang menjadi dasar bagi semua future skills lainnya. Keterampilan ini memungkinkan individu untuk berkomunikasi secara efektif, belajar secara berkelanjutan, berpikir kritis, serta bertindak secara kreatif dan reflektif. Manajemen diri serta penalaran etis atau pengambilan keputusan sesuai etika juga merupakan bagian dari keterampilan dasar.
Kedua transformative future skills
Secara khusus berfokus pada upaya aktif membentuk perubahan, inovasi, dan keberlanjutan. Keterampilan ini memungkinkan individu untuk memahami sistem yang kompleks, menghadapi ketidakpastian dan bangkit dari kegagalan (resilien), serta mengembangkan solusi yang berkelanjutan dan visioner untuk tantangan masa depan.
Ketiga community oriented future skills
Mencakup kompetensi yang diperlukan untuk mengatasi tantangan secara kolaboratif dan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam masyarakat yang beragam, demokratis, dan saling terhubung. Keterampilan ini mengedepankan dialog, partisipasi, dan tanggung jawab sebagai fondasi kohesi sosial.
Keempat digital future skills
Mengacu pada kompetensi terkait penggunaan teknologi digital, informasi, dan data secara percaya diri dan kritis. Keterampilan ini memungkinkan individu untuk menggunakan media digital dengan percaya diri, menilai informasi dan data secara aman, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dengan cara yang berlandaskan pengetahuan, bertanggung jawab, dan etis.
Kelima technological future skills
Merupakan kompetensi khusus tingkat ahli yang berkaitan dengan teknologi-teknologi utama yang krusial bagi pembangunan ekonomi, keamanan, dan daya saing. Keterampilan ini memungkinkan pengembangan, tata kelola, dan penggunaan sistem teknologi yang kompleks secara bertanggung jawab, serta pembentukan inovasi teknologi secara aktif—mulai dari sains data dan sistem otonom hingga rekayasa AI dan keamanan siber.[3]
Mindfulness dapat masuk ke dalam fundamental, transformative, dan community oriented future skills. Manajemen diri yang berawal dari konsep pengenalan diri tentu membutuhkan keterampilan mindfulness. Pun dengan resiliensi yang sangat berkorelasi hingga dipengaruhi oleh fleksibilitas psikologis yang konsepnya berbasis mindfulness.[4] Terakhir, keterhubungan dengan orang lain atau stakeholder membutuhkan rasa hormat dan empati, mindfulness lagi-lagi dibutuhkan dalam kompetensi ini.[5]
Mindfulness dapat masuk ke dalam fundamental, transformative, dan community oriented future skills. Manajemen diri yang berawal dari konsep pengenalan diri tentu membutuhkan keterampilan mindfulness. Pun dengan resiliensi yang sangat berkorelasi hingga dipengaruhi oleh fleksibilitas psikologis yang konsepnya berbasis mindfulness.[4] Terakhir, keterhubungan dengan orang lain atau stakeholder membutuhkan rasa hormat dan empati, mindfulness lagi-lagi dibutuhkan dalam kompetensi ini.[5]
Pada akhirnya untuk apa kita homo sapiens ini perlu terus belajar dan mengembangkan diri dan memiliki future skills?
Keterampilan ini tidak hanya relevan dan dibutuhkan di dunia kerja, tapi juga menghadapi isu serta tantangan jaman. Isu perubahan iklim, kesehatan mental, dunia kecerdasan buatan, disinformasi, dan budaya demokrasi yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Dan yang terpenting, kita belajar dan terus berkembang sebagai cara untuk mensyukuri nikmat dan karunia-Nya, berupa ilmu, pengetahuan, dan pemahaman.
Yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât... (Al-Mujadalah:11) [6]
Referensi:
[1] Konsil Kesehatan Indonesia. (2026). Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1291/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter. Konsil Kesehatan Indonesia.
[2] https://www.ouka.fi/en/media/17473/download[3] Rampelt, F., etal. (2026). Future Skills 2030. An Updated Framework for Future Skills. Available at: https://www.stifterverband.org/medien/future-skills-2030-ENG.
[4] Amelia, N., Fachrudin, D., & Primanagara, R. (2025). Hubungan Fleksibilitas Psikologis Dengan Resiliensi Pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati. Prepotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(3), 9705–9721. https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i3.49564
Yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât... (Al-Mujadalah:11) [6]
Referensi:
[1] Konsil Kesehatan Indonesia. (2026). Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1291/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter. Konsil Kesehatan Indonesia.
[2] https://www.ouka.fi/en/media/17473/download[3] Rampelt, F., etal. (2026). Future Skills 2030. An Updated Framework for Future Skills. Available at: https://www.stifterverband.org/medien/future-skills-2030-ENG.
[4] Amelia, N., Fachrudin, D., & Primanagara, R. (2025). Hubungan Fleksibilitas Psikologis Dengan Resiliensi Pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati. Prepotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(3), 9705–9721. https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i3.49564
[5] Fachrudin, D., & Azhar, T. N. (2021). Mindfulness dalam Pendidikan Dokter. https://www.mindfulnesia.id/2021/04/mindfulness-dalam-pendidikan-dokter.html
[6] Al-Quran
[6] Al-Quran
Sumber gambar:
https://virtuzone.com/blog/technologies-of-the-future/




