Kamis, 11 Mei 2017

Memaafkan, Mindfulness, dan Film Korea


Oleh Duddy Fachrudin

Apa kau tahu, hal apa yang lebih menyakitkan daripada kematian?
Memaafkan. Karena dengan memaafkan, kau akan memendam rasa sakit di dalam hatimu.

Sesuai judulnya, “No Mercy”, menghadirkan premis yang kelam di akhir film. Sebuah pesan yang menolak untuk memaafkan kesalahan orang lain. Rasa marah dan dendam mengalir bersama darah di seluruh rongga tubuh. Tidak ada sedikitpun ruang pengampunan dalam hati. Rasa sakit harus dibalas. Begitu kiranya film itu berkisah.

Senada dengan “No Mercy”, ketiga film Korea lainnya, yaitu “Old Boy”, “I Saw The Devil”, dan “Sympathy for Mr. Vengeance” juga bercerita tentang balas dendam tokoh utamanya. Upaya balas dendam demi menghadirkan sakit yang diderita olehnya harus dirasakan pula oleh penjahatnya. Namun menariknya pada penghujung ketiga film tersebut menyempilkan hikmah yang cerdas, bahwa dendam tidak menyelesaikan masalah. Dendam dan benci justru akan menambah penderitaan.




Maka kita perlu belajar pada film “A Moment to Remember” yang memiliki premis positif, yaitu memaafkan berarti menerima segala peristiwa yang tidak menyenangkan yang pernah hadir dalam kehidupan seseorang. Memaafkan berarti memberikan sedikit ruang hatimu. Dengan memaafkan, hati ini tidak tertutup oleh kebencian sepenuhnya.

Masalahnya bagaimana memaafkan orang lain yang pernah menyakiti kita. Atau menerima sepenuhnya dengan senyuman pengalaman yang tidak menyenangkan yang pernah dialami oleh kita. Atau tidak mengutuk dan memendam rasa bersalah berujung penyesalan tanpa akhir atas kesalahan diri sendiri di masa lalu?

Memaafkan dengan tulus pada akhirnya adalah sebuah proses yang tidak begitu saja terjadi. Perlu adanya sebuah latihan menempa diri yang pada awalnya mungkin terasa sulit untuk dilakukan. Seperti halnya seorang penghuni Warga Binaan Permasyarakatan yang mengikuti program mindfulness berkata kepada penulis: 

“Awalnya saya tidak mau mengikuti program mindfulness ini Mas. Saya coba cari-cari alasan, seperti sakit supaya saya tidak ikut. Namun setelah beberapa kali saya menjadi paham manfaat dari program ini. Pikiran saya menjadi lebih jernih dalam memahami sesuatu.”

Memaafkan layaknya hidup yang lebih berkesadaran (mindful) yang memerlukan sebuah proses. Dan untuk itu kita perlu memulai latihannya. Kapan? Tentu saat ini juga. 

Sumber gambar:
https://id.wikipedia.org/wiki/A_Moment_to_Remember

Share:

0 komentar:

Posting Komentar