Selasa, 25 April 2017

Esensi Surat Luqmān untuk Relasi Ayah dan Anak (Bagian 3, Habis)


Oleh Tauhid Nur Azhar

Maka Ayahanda saya dengan pribadi lurusnya yang sederhana, memaknai syukur itu dengan terus berjalan lurus dan mencintai yang dikerjakan nya dengan tulus,semata sebagai bagian dari caranya untuk mengoptimalkan fungsi kehadiran dirinya bagi kemaslahatan yang menjadi elemen kecil Rahmat bagi semesta. Tugas kita adalah mensyukuri apa yang telah kita miliki dan terintegrasi dalam konsep "diri". Tidak bersyukur alias kufur, tidak akan mengurangi sedikitpun kebesaran dan keagungan Allah Swt., melainkan hanya mereduksi ruang sadar kita yang akan segera diisi penuh oleh rasa kecewa dan mengubah hidup menjadi sebuah perjalanan tanpa makna.

Luqmān : 12


وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”




Dan pada akhirnya yang dapat diamalkan dari sikap dan teladan adalah ilmu dan tentu saja Iman. Dengan ilmu dunia akan menjadi kitab yang berisi ayat-ayat qauniyah yang terus ditulis dan tak habis-habis dibaca serta dipelajari. Dan dari ilmu yang merangkai mozaik cinta berupa tanda-tanda yang menenangkan jiwa, bukankah dengan berzikir tenanglah hati, akan terbangun fondasi iman yang kokoh. Maka orang berilmu dan beriman akan memiliki kesadaran dan keluasan wawasan dalam memetakan tujuan kehidupan. Matahari bukan lagi sekedar matahari, bukan juga sekedar reaktor termonuklir dengan reaksi fusi dan paket kuanta berupa cahaya hasil eksitasi elektronnya belaka,tapi menjadi tanda cinta yang menunjukkan adanya sistematika terencana yang pada hakikatnya mewartakan kehadiran dan keberadaan Allah Swt. 

Lalu saya pun terngiang kembali QS Mujadalah ayat 11 tentang derajat orang beriman dan bertaqwa dalam perspektif kejembaran wawasan dalam memaknai kehidupan. 

Al-Mujādalah : 11


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Demikianlah yang dapat sedikit saya tuliskan saat saya belajar mensyukuri nikmat yang telah Allah karuniakan berupa kebersamaan yang amat berharga dengan Ayahanda yang telah hadir sebagai guru utama kehidupan saya. Dan kini sedikit demi sedikit saya mulai dapat mengerti, mengapa Ayah menamai saya Tauhid. Rupanya nama itu adalah doa agar saya menjadi manusia yang tidak akan lupa pada akarnya, pada tujuan hidupnya, dan pada tempat di mana kita semua berawal dan kelak akan berakhir. Wallahu alam bissawab.

Sumber gambar:
http://www.huffingtonpost.com/loren-kleinman/f-is-for-father-and-forgiveness_b_6219940.html

Share:

0 komentar:

Posting Komentar