Selasa, 23 Mei 2017

Melihat ke dalam Kebahagiaan


Oleh: Kadek Widya Gunawan




Pembicaraan tentang kebahagiaan telah di mulai sejak begitu lama, kembali ke zaman Yunani kuno, dimulai oleh seorang filsuf ternama, yaitu Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari “The Great Alexander.” Pembicaraan awal tentang kebahagiaan oleh Aristoteles menyebutkan bahwa kebahagiaan terdiri dari 2 (dua) aspek yaitu hedonia dan eudaimonia. Kedua aspek tersebut dalam psikologi kontemporel lebih dikenal sebagai pleasure atau kepuasan dan meaning atau makna. Jadi mudahnya, hedonia adalah aspek kebahagiaan terkait dengan kepuasan, dan kepuasan bisa didapat melalui sesuatu di luar diri manusia seperti benda-benda material, hiburan, jabatan, karier, status sosial, dan sebagainya. Sedangkan eudaimonia adalah aspek kebahagiaan terkait dengan pandangan tentang kehidupan yang bermakna serta bagaimana menjalani hidup dengan baik. Aspek eudaimonia juga terkait dengan menggali kebahagiaan yang ada di dalam diri manusia melalui kegiatan kerohanian, spiritual, ataupun berbagai kegiatan sosial dengan tujuan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Mungkin, dari hal yang dikemukakan oleh Aristoteles tentang hedonia dan eudaimonia, akan muncul pertanyaan seperti, “Diantara hedonia dan eudaimonia, jika ingin bahagia, maka sebaiknya kita memilih aspek yang mana?” Pertanyaan tersebut pun pernah muncul di benak Daniel Kahneman, seorang psikolog yang menerima pengghargaan nobel di bidang ekonomi. Kahneman berusaha mengivestigasi hedonia dan eudaimonia dalam studinya tentang objective happiness (1999). Hasil dari studi yang dilakukan oleh Kahneman (1999) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok pada konsep kebahagiaan baik itu dilihat dari aspek kepuasan (hedonia) ataupun makna dalam hidup (eudaimonia). Kedua aspek tersebut ditemukan konsisten pada orang yang bahagia. Dengan kata lain seseorang akan bahagia jika mampu memaknai setiap hal yang dicapainya dalam hidup, entah itu karier, status sosial, ataupun tujuan lain yang ingin dicapai dalam kehidupan.

Lalu, beralih ke periode perkembangan selanjutnya dari pembahasan tentang kebahagiaan yaitu ketika aliran psikologi positif mulai berkembang dengan pesat. Konstribusi psikologi positif dalam kajian tentang kebahagiaan adalah memunculkan sudut pandang modern tentang kebahagiaan dengan menambahkan aspek ketiga, yaitu engagement. Engagement dalam konteks kebahagiaan bisa diartikan sebagai komitmen dan partisipasi aktif individu dalam menjalani kehidupannya (Seligman et al, 2005). Konsep engagement ini dalam kajian mindfulness mengarah pada konsep living in the moment (fokus pada hal yang ada/hal yang dilakukan sekarang dan saat ini-meskipun konsep ini masih dalam perdebatan) sedangkan dalam dunia industri dan organisasi konsep engagement berhubungan erat dengan konsep autonomy atau kebebasan yang dimiliki individu dalam mengembangkan diri terkait pekerjaannya. Saat ini pun, sudah muncul banyak kajian tentang menemukan kebahagiaan melalui mindfulness maupun studi tentang konsep autonomy untuk meningkatkan kebahagiaan di tempat kerja.

Kembali ke pembahasan awal tentang kebahagiaan. Masih tersisa satu pertanyaan mendasar, “Sebenarnya apakah kebahagiaan itu?” Aristoteles pernah mengungkapkan bahwa kebahagiaan bukanlah suatu kondisi, melainkan kebahagiaan adalah sebuah aktivitas. Hal ini dipertegas oleh Rubin Khoddam (2015) yang juga menyebutkan bahwa Aristoteles telah memberikan sudut pandang yang krusial tentang definisi kebahagiaan, yaitu untuk bahagia, manusia harus tetap beraktivitas atau dengan kata lain 'berproses'. Lebih jauh lagi, Khoddam juga menyebutkan bahwa kebahagiaan merupakan kemampuan manusia untuk mampu menerima situasi yang dialami dalam hidupnya, baik itu situasi yang amat tidak biasa sekali pun (situasi depresi atau kesedihan yang sangat mendalam) sebagai bagian alami dari kehidupan. Berdasarkan hal yang disampaikan oleh Aristoteles maupun Khoddam, maka dapat kita pahami bahwa sejatinya kebahagiaan merupakan suatu tindakan, proses untuk mampu menerima dan menjalani kehidupan apa adanya, yang oleh seorang senior saya di lobimesen.com disebut sebagai suatu keikhlasan dalam menerima segala takdir yang diberikan oleh Yang Maha Pencipta.

# Terinspirasi dari 'Mas Burhan' dalam artikel “Kamu Bahagia?” dari http://www.lobimesen.com/2017/05/kamu-bahagia.html

Referensi:
Kahneman, D. (1999). Objective happiness. Well-Being: The Foundation of Hedonic Psychology. Eds. D. Kahneman, E. Diener, and N. Schwartz. Russell Sage Foundation, 3-25.

Khodam, R. (2015). What’s your definition of happiness? Didapat dari https://www.psychologytoday.com/blog/the-addiction-connection/201506/whats-your-definition-happiness.

Kringelbach, M. L. & Berridge, K. C. (2010). The neuroscience of happiness and pleasure. Social Research, 77(2), 659-678.

Seligman, M. E., et al. (2005). Positive psychology progress: Empirical validation of interventions. American Psychologist, 60(5), 410-21.

Sumber Gambar:
http://womaura.com/where-is-happiness/

Share:

0 komentar:

Posting Komentar