Minggu, 23 September 2018

Seni Mengungkapkan Marah


Oleh Duddy Fachrudin

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Berilah wasiat kepadaku.” Nabi menjawab,“Janganlah engkau marah.” Laki-laki tadi mengulangi perkataannya berulang kali, beliau (tetap) bersabda,“Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

Laa taghdob.

Jangan marah, dua kata yang jika bisa dipraktikkan akan berbuah surga berupa kedamaian dan ketenangan jiwa. Oleh karenanya kita dianjurkan untuk dapat mengendalikan marah.

“Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik).

Untuk tidak marah merupakan suatu hal yang menantang (bukan sulit loh). Maka jika kita belum bisa ke arah itu, sesungguhnya marah boleh-boleh saja. Asalkan dengan syarat: bukan karena nafsu dan marahnya terkendali atau berkesadaran.
     
Mari kita bahas keduanya.

Seorang klien berusia 21 tahun menceritakan pengalaman traumatisnya kepada saya. Wajahnya  memerah, otot-ototnya menegang, nafasnya tidak beraturan. Perubahan fisiologis tersebut menunjukkan memori itu masih sangat melekat dan menimbulkan efek yang tidak nyaman.

Ketika kelas 4 SD, ia pernah membolos. Ayahnya mengetahui hal tersebut dan memarahinya. Sebongkah kayu diambilnya lalu dihantamkan pada pipi kanan anaknya yang masih berusia 10 tahun ketika itu.

Marah sang ayah sangat membekas bagi sang anak. Menimbulkan luka batin baginya hingga saat ini.

Marah kepada anak karena ia melanggar aturan adalah benar. Namun untuk kasus di atas jelas menunjukkan marah yang tidak terkendali, destruktif, dan memiliki efek negatif berkepanjangan. 

Pada akhirnya marah sang ayah kepada anaknya hanya "memberi efek takut" jika suatu saat sang anak coba-coba melanggar aturan. Marah sang ayah yang awalnya "mungkin" untuk mendidik sikap anaknya beralih karena nafsu. Dan marah karena nafsu membuat ketidaknyamanan jiwa, baik individu yang melakukannya dan juga objek yang terkena marah. 

Maka, MARAH memerlukan seni, yaitu saat marah lakukanlah hal ini:

Mindful, amati dan sadari perasaan marah, jangan bereaksi terburu-buru baik secara fisik maupun verbal
Accept, terima perasaan marah
Release, alirkan dan lepaskan energi marah seiring dengan hembusan nafas atau gerakan lembut
AHA, berikan respon marah yang konstruktif serta memunculkan AHA (hikmah positif)
Humble, tarik nafas kembali lalu berikan senyuman kepada diri sendiri, orang lain (yang kita marahi), serta semesta ini

Siap mengungkapkan marah dengan seni MARAH?

Sumber gambar:
http://yourdost.com/blog/2016/08/effective-communication-when-you-are-angry.html

Share:

0 komentar:

Posting Komentar