Rabu, 03 Oktober 2018

Ayah Bunda, Temani Aku Bertualang!


Oleh Duddy Fachrudin

Michael Resnick Ph.D, dkk, menyatakan remaja yang merasa dicintai dan terhubung dengan orangtua mereka lebih jarang hamil di luar nikah (atau MBA), memakai narkoba, bertindak agresif dan destruktif, serta bunuh diri.

Kok bisa? Tentu saja bisa, karena orangtua sibuk bekerja dan memiliki waktu yang sangat sedikit sekali untuk berinteraksi bersama anaknya. Ketika sang anak berusia remaja, rata-rata orangtua berusia 35-45 tahun di mana mereka sedang berada pada level top di tempat kerja atau bisnisnya.

Kita bisa menengok sejenak beberapa kasus-kasus seperti itu di mana orangtua memiliki waktu dengan anaknya hanya pada hari minggu. Suatu hal yang wajar jika sang anak stres dan mengalihkan masalahnya ke hal-hal negatif.

Pada situasi seperti ini bukan jalan-jalan ke Bali atau Singapura yang dibutuhkan anak. Namun attachment yang sehat serta penuh kasih sayang dan cinta yang diharapkan diberikan ayah-bundanya. Ia rindu akan oksitosin, atau hormon cinta yang dikeluarkan sang bunda saat dirinya lahir ke dunia. Ia pun rindu akan cinta sang ayah yang dibalut dengan pesona diamnya, seperti ayah Ikal—ayah juara satu sedunia.

Maka jika orangtua sibuk, siapa yang kelak melantunkan ayat-ayat-Nya serta mendongengkan kisah-kisah para nabi dan sahabat Rasululullah?

Ya, melayani. Sebagai orangtua, kita perlu melayani anak-anak kita dengan cinta. Menjadi teman serta pemandu perjalanan. 

Dan melayani dapat meningkatkan rasa cinta, benarkah?

Masih berkisah tentang keluarga. Mengapa keluarga? Karena keluarga merupakan sistem interaksi dan pendidikan awal manusia. Hasil pembelajaran yang didapat di keluarga akan menentukan kehidupan anak di masa depan.

Suatu hari aku bertualang meniti bebatuan dalam eloknya riak sungai. Menaiki jembatan bambu yang bergoyang menggerus keseimbangan. Suara alam, jangkrik, atau burung begitu terdengar merdu. Sementara cahaya matahari yang menyembul malu-malu dari balik pohon-pohon rimba.

Sampainya di tujuan setelah menempuh perjalanan panjang, terlihat sebuah keluarga: Ayah, Bunda, dan 2 buah hatinya. Yang satu sekitar 7 tahun, satunya lagi yang dalam dekapan hangat Bundanya, masih sekitar 2 tahun.

Mereka menapaki jalur naik-turun yang sama denganku! Mereka tersenyum bahagia, dan mungkin juga sesekali bertahmid memuji keagungan karya cipta-Nya. Ketika meniti jembatan bergoyang itu, terpancar sinergi dan kolaborasi cinta agar tidak terjatuh. 

Memang benar dalam Islam, bahwa salah satu memperkuat ikatan dan rasa cinta adalah dengan berjalan jauh bersama. Ketika rihlah penuh cinta, momen-momen indah akan bersemayam di hipokampusnya masing-masing. Emosi bahagia tumpah ruah ke sekujur tubuh yang lelah. 

Aku belajar dari keluarga itu, keluarga yang terlihat sederhana. Saat keluarga lain menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, mereka dengan senyum dan tawa melakukan petualangan.

Rasa cinta kepada pasangan atau anak-anak akan semakin meningkat. Ayah dengan Bunda, Ayah Bunda dengan anak-anaknya, serta sebaliknya. Kelak suatu hari di masa depan, sang anak akan bertutur kisah bahagia saat mereka mendaki rimba dengan Ayah Bundanya tercinta. "Inilah perjalanan kita, perjalanan cinta," begitu mereka mengakhiri kisahnya.

*Sebuah refleksi Hari Kesehatan Mental Dunia setiap 10 Oktober. Mari peduli dan sadar akan pentingnya mental health anak-anak kita.

Sumber gambar:
https://www.outsideonline.com/2099776/why-you-should-hike-your-baby-and-how-do-it

Share:

0 komentar:

Posting Komentar