Tampilkan postingan dengan label Sikap Mindfulness. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sikap Mindfulness. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2026

Siaga Bencana Sejak Saat Ini


Oleh Tauhid Nur Azhar 

Saat saya mengetik WA ini, hujan telah mengguyur rumah saya di dataran tinggi Bandung Utara selama sekitar 12 jam hampir tanpa jeda. Setelah pada minggu lalu cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi telah "merendam" sebagian kawasan pesisir utara Jawa Tengah dan mengakibatkan jalur KA utara nyaris lumpuh; maka mungkin kini anomali cuaca ini mulai bergeser ke barat. 

Sebenarnya menurut saya pribadi, kondisi ini bukanlah semata anomali karena ekstremnya saja, tapi juga harus dimaknai sebagai suatu kondisi akumulatif yang merupakan keluaran dari serangkaian peristiwa yang faktornya saling berkelindan satu sama lain. 

Adanya beberapa pemantik perubahan iklim yang ditengarai merupakan faktor antropogenik, seperti efek rumah kaca, berkurangnya area tutupan hijau hutan tropis sebagai unit carbon capture yang efektif, sampai ledakan populasi yang terkonsentrasi hanya di satu wilayah dengan beban akumulatif yang bersumber dari banyak faktor kausalitas; secara logika memang bisa memicu terjadinya dinamika yang derajat volatilitasnya bagi kita dapat dianggap anomali. 

Sementara dari perspektif alam bisa saja hal itu adalah siklus normalisasi dan normalitas siklikal sebagai respon adaptif seiring dengan berbagai perubahan variabel yang tentu menjadi elemen terintegrasi sebuah sistem tertutup. 

Bagi kita; baca: manusia; dalam dekade ketiga abad ke-21 ini, tantangan kebencanaan telah bermetamorfosis menjadi krisis multidimensi yang diperparah oleh perubahan iklim antropogenik, ulah kita juga. 

Pemanasan global telah mengganggu keseimbangan termal atmosfer, memicu frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah modern. Fenomena iklim global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) kini berinteraksi dengan pola lokal, menciptakan anomali yang sulit diprediksi dengan metode konvensional. 

Di tengah lanskap risiko yang semakin volatil ini, paradigma penanggulangan bencana nasional sedang mengalami pergeseran sistematim; dari pendekatan semula yang bersifat responsif dan berpusat pada tanggap darurat (emergency response), menuju pendekatan yang proaktif, preventif, dan berbasis data (data-driven mitigation). 

Tulang punggung dari transformasi ini adalah integrasi antara data historis kebencanaan yang dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) dan teknologi prediksi mutakhir yang dikembangkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dalam kesempatan ini saya ingin mengulas dan mengkaji mengenai ekosistem prediksi kebencanaan di Indonesia, menelusuri bagaimana data mentah kejadian bencana diubah menjadi wawasan prediktif (predictive insights), dan bagaimana teknologi canggih seperti Kecerdasan Artifisial (AI), Pemodelan Numerik (Numerical Weather Prediction), dan Impact-Based Forecasting (Prakiraan Berbasis Dampak) diimplementasikan untuk keselamatan bersama.

Data menunjukkan bahwa biaya pemulihan pascabencana jauh melampaui investasi yang diperlukan untuk sistem peringatan dini yang efektif. Namun, efektivitas sistem peringatan dini sering kali terhambat oleh fragmentasi data. 

BMKG memiliki data mengenai "apa yang akan terjadi di langit" (potensi bahaya), sementara BNPB memegang data mengenai "apa yang ada di bumi" (kerentanan dan paparan). Tanpa integrasi yang koheren, informasi cuaca ekstrem sering gagal diterjemahkan menjadi aksi mitigasi yang konkret di lapangan.

Berdasa potensi sistem dan data eksisting kita dapat melakukan langkah-langkah strategis seperti membedah pola statistik bencana nasional berdasarkan data DIBI BNPB tahun 2024-2025 untuk mengidentifikasi ancaman dominan dan wilayah prioritas. Juga menganalisis transformasi digital BMKG dalam mengadopsi teknologi Big Data, AI, dan teknologi modifikasi cuaca; sebagaimana yang saat ini tengah diterapkan untuk mengurangi dampak masif dari banjir DKI Jakarta. 

Untuk itu kita juga perlu mengkaji implementasi Impact-Based Forecasting (IBF) dan platform InaRISK sebagai jembatan antara data bahaya dan kerentanan.

​Lalu merumuskan pembelajaran strategis, terutama dengan mengambil intisari dari studi kasus bencana besar di Sumatera dan keberhasilan operasi modifikasi cuaca di Jawa sebagai landasan perbaikan kebijakan di masa depan. 

​Berdasarkan data yang dihimpun dalam Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) BNPB, lanskap kebencanaan Indonesia pada periode 2024 hingga 2025 menunjukkan dominasi mutlak bencana hidrometeorologi basah. 

Hingga pertengahan Oktober 2025 saja, Indonesia telah mencatat angka kejadian bencana yang mengejutkan, menembus 2.590 kejadian. Angka ini merepresentasikan eskalasi frekuensi kejadian ekstrem yang signifikan dibandingkan rata-rata dekade sebelumnya. 

​Analisis mendalam terhadap jenis bencana mengungkapkan bahwa banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor secara konsisten menempati porsi terbesar dari total kejadian, sering kali mencakup lebih dari 90% kejadian bencana tahunan. 

Secara spesifik, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang terintegrasi dengan pemantauan BNPB menyoroti bahwa banjir adalah ancaman paling persisten bagi wilayah pedesaan, dengan 18,3% desa di seluruh nusantara terdampak langsung oleh genangan air.

Dalam konteks kebencanaan, meski gempa bumi memiliki potensi kerugian fisik tertinggi, banjir memiliki jangkauan dampak ekonomi yang hampir setara namun dengan frekuensi kejadian yang jauh lebih tinggi (tahunan vs episodik). Hal ini menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan manajemen sumber daya air dan mitigasi risiko hidrometeorologi.

Tidak ada peristiwa yang lebih menggambarkan kegentingan situasi kebencanaan Indonesia daripada rangkaian bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatra (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat) pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Peristiwa ini bukan sekadar anomali cuaca, melainkan sebuah mega-disaster yang menguji batas kemampuan sistem penanggulangan bencana nasional.

Dipicu oleh intensitas hujan ekstrem yang berinteraksi dengan degradasi lingkungan di daerah hulu, banjir bandang menerjang pemukiman dengan kekuatan destruktif. Data BNPB per 21 Januari 2026 mencatat statistik korban jiwa yang memilukan, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu bencana dengan tingkat fatalitas tertinggi pasca-tsunami Palu 2018. 

Skala bencana ini memaksa BNPB untuk menggelar operasi logistik darurat terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Hingga 19 Januari 2026, data distribusi logistik menunjukkan mobilisasi sumber daya lintas moda yang luar biasa. 

​Total logistik tersalurkan mencapai 1.757,03 ton (99,76% dari ketersediaan), yang dikirim melalui 56 sorti pesawat charter BNPB dan 64 sorti pesawat Hercules TNI AU, serta 55 unit truk dan 7 kapal laut. 

​Operasi pemulihan bencana Sumatera ini juga menyoroti tantangan geografis Indonesia. Di Aceh dan Sumatra Utara, ketergantungan pada transportasi udara sangat tinggi akibat putusnya akses jalan darat oleh longsor, yang pada gilirannya meningkatkan biaya operasi tanggap darurat secara eksponensial.

Di sisi lain, data DIBI BNPB juga memungkinkan kita untuk melihat kerentanan sektoral yang spesifik. Propinsi seperti Jawa Timur, yang memegang predikat sebagai propinsi dengan populasi sapi potong terbanyak pada 2025, dan Aceh dengan populasi kerbau terbesar, menghadapi risiko ekonomi unik. Bencana banjir di wilayah ini tidak hanya mengancam manusia tetapi juga aset peternakan yang menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan. 

Dengan 18,3% desa terdampak banjir, tantangan pembangunan desa kini tidak bisa dilepaskan dari mitigasi bencana. Dana Desa perlu diarahkan lebih strategis untuk infrastruktur tahan bencana, bukan sekadar pembangunan fisik standar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merespons eskalasi ancaman bencana dengan melakukan transformasi teknologi yang radikal. Meninggalkan metode konvensional yang sangat bergantung pada analisis manual prakirawan, BMKG kini beroperasi sebagai entitas berbasis data raksasa (Big Data Entity).

​Sistem prediksi modern BMKG memproses arus data yang masif secara real-time melalui observasi in-situ, dimana data dari 191 stasiun sinoptik berawak dan lebih dari 10.800 peralatan otomatis (AWS, ARG) di seluruh Indonesia. 

Data juga didapatkan dari sistem penginderaan jauh yang mengintegrasikan data satelit cuaca Himawari-9 (Jepang) dan jaringan radar cuaca (C-Band dan X-Band) yang memberikan citra tutupan awan dan intensitas hujan setiap 10 menit. Serta dilengkapi denga arsip data iklim selama lebih dari 30 tahun yang menjadi basis pelatihan (training dataset) bagi algoritma kecerdasan artifisial. 

Jantung dari kemampuan prediksi BMKG adalah Numerical Weather Prediction (NWP). BMKG mengoperasikan model Weather Research and Forecasting (WRF), sebuah sistem prediksi cuaca mesoskala yang memecahkan persamaan diferensial fisika atmosfer (persamaan primitif) untuk mensimulasikan evolusi cuaca.

Salah satu lompatan terbesar adalah peningkatan resolusi spasial model. Jika model global seperti GFS (Global Forecast System) beroperasi pada resolusi kasar (sekitar 13-27 km), model WRF yang dijalankan BMKG telah dikonfigurasi untuk mencapai resolusi hingga 3 km atau bahkan lebih rapat untuk wilayah-wilayah strategis. 

Resolusi 3 km memungkinkan model untuk menangkap fenomena cuaca skala lokal yang dipengaruhi oleh topografi kompleks Indonesia, seperti hujan orografis di pegunungan atau angin darat-laut di pesisir, yang sebelumnya "hilang" dalam model resolusi rendah.

Model ini menggunakan sistem asimilasi data 4D-Var atau 3D-Var, yang menggabungkan data observasi real-time ke dalam kondisi awal model untuk meminimalkan kesalahan prediksi. 

BMKG juga telah melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan Kecerdasan Artifisial (AI) ke dalam rantai prediksinya.

​Long Short-Term Memory (LSTM), pernah diuji melalui studi implementasi di Bekasi yang menunjukkan bahwa model Deep Learning berbasis LSTM ini sangat efektif untuk prediksi curah hujan jangka pendek (nowcasting). 

LSTM, sebagai varian dari Recurrent Neural Network (RNN), memiliki kemampuan untuk "mengingat" pola urutan data masa lalu dalam jangka waktu panjang, sehingga mampu mengenali pola temporal curah hujan yang non-linear dan kompleks yang sering gagal ditangkap oleh metode statistik klasik seperti ARIMA. 

Aplikasi berbasis model AI juga telah digunakan melalui kerjasama lintas sektoral dengan *KORIKA*, Kemenkes, dan KemenLH, untuk memprediksi parameter spesifik yang berdampak pada sektor kehidupan; dalam hal ini kesehatan, seperti prediksi zona rawan Demam Berdarah Dengue (DBD) berbasis iklim, dan rekomendasi waktu tanam presisi untuk petani.

Di ranah geofisika, BMKG mengelola Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), sebuah sistem yang dirancang BPPT sebelum diintegrasikan ke BRIN; untuk memberi peringatan dini tsunami yang amat krusial mengingat bencana yang terjadi berkelindan erat dengan respon berbasis waktu.

Sistem ini wajib mengeluarkan peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari 3 menit setelah gempa terjadi. InaTEWS mengintegrasikan data dari seismograf broadband, akselerograf (untuk guncangan kuat), tide gauge (pasang surut), dan pemodelan skenario tsunami pra-komputasi. Meskipun tantangan vandalisme terhadap buoy di laut lepas masih ada, BMKG beralih ke metode pemodelan cepat dan penguatan jaringan sensor darat serta Water Level sensor untuk memastikan akurasi. 

Salah satu tantangan komunikasi terbesar dalam mitigasi bencana adalah menerjemahkan jargon meteorologi ke dalam bahasa risiko yang dipahami publik. Informasi "Hujan lebat 100 mm" sering kali abstrak bagi masyarakat awam. Inilah yang mendasari adopsi Impact-Based Forecasting (IBF) oleh BMKG.

IBF merevolusi output prakiraan dari berbasis fenomena (weather-based) menjadi berbasis dampak (risk-based). Jika dulu narasinya adalah: "Besok akan turun hujan lebat disertai angin kencang di Jakarta Selatan." Maka narasi berbasis IBF: "Peringatan Hujan Lebat di Jakarta Selatan. Berpotensi menyebabkan banjir setinggi 50-100 cm di Kelurahan X dan Y. Jalan Z tidak dapat dilalui kendaraan kecil. Waspada pohon tumbang."

​Pergeseran ini krusial untuk memicu respon yang tepat. Penelitian psikososial menunjukkan bahwa masyarakat lebih cenderung mengambil tindakan evakuasi jika mereka memahami konsekuensi spesifik dari ancaman tersebut terhadap keselamatan dan aset mereka. 

Sementara itu secara teknis, untuk memastikan interoperabilitas data antar-lembaga dan antar-negara, BMKG mengadopsi standar WMO Cataloguing of Hazardous Events (WMO-CHE). Dimana standar ini memberikan kode unik (Universal Unique Identifier/UUID) untuk setiap kejadian cuaca ekstrem.

UUID ini memungkinkan pelacakan kejadian dari hulu (deteksi cuaca) hingga hilir (pencatatan dampak kerugian di DIBI BNPB). Ini menutup celah data yang selama ini terfragmentasi, di mana data cuaca dan data bencana tersimpan dalam silo yang berbeda dan sulit dikorelasikan secara statistik. 

Integrasi ini sedang diujicobakan dengan melibatkan BPBD di Jawa Barat sebagai pilot project untuk menyusun SOP baku pelaporan dampak yang selaras dengan data cuaca. 

Studi evaluasi terhadap model IBF di Indonesia menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dalam pengujian terhadap 172 kejadian bencana historis, model IBF berhasil memprediksi 74% kejadian dengan tepat, terutama untuk kategori dampak "Parah" (Severe) dan "Signifikan" (Significant). Akurasi tinggi pada kategori dampak berat ini sangat vital karena di situlah potensi kerugian jiwa terbesar berada. 

Keberhasilan IBF sangat bergantung pada kualitas data "penyebut" risiko, yaitu kerentanan. Di sinilah peran platform InaRISK milik BNPB menjadi krusial. InaRISK bukan sekadar peta statis, melainkan basis data spasial dinamis yang memetakan profil risiko di seluruh Indonesia.

​Komponen data InaRISK meliputi antara lain; Hazard (bahaya), dimana terdapat peta zona rawan banjir, longsor, likuifaksi, tsunami, dll. Lalu ada variabel Vulnerability (kerentanan), yang berisi data demografi (jumlah penduduk, kelompok rentan lansia/balita), data ekonomi (PDRB), dan data fisik (jumlah rumah, sekolah, fasilitas kesehatan).

Juga elemen Capacity (kapasitas) yang menampilkan indeks ketahanan daerah, keberadaan jalur evakuasi, dan posko bencana. 

Dengan mengintegrasikan layer curah hujan prediksi BMKG di atas layer kerentanan InaRISK, sistem dapat secara otomatis menghitung estimasi "Jiwa Terpapar" dan "Potensi Kerugian Rupiah" sebelum hujan turun.

Untuk menjangkau masyarakat luas, BNPB mengembangkan aplikasi InaRISK Personal. Aplikasi ini dirancang untuk memberikan asesmen risiko personal kepada pengguna gawai pintar berbasis lokasi (GPS). Pengguna dapat melihat potensi bencana di lokasi mereka sedang berada (misal, "Anda berada di Zona Merah Tsunami").

Aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur pelaporan kejadian bencana oleh warga, yang berfungsi sebagai verifikasi lapangan (ground-truthing) bagi data satelit dan model. Serta ada sistem penilaian resiko serta panduan mitigasi untuk membantu proses evakuasi dan penyelamatan diri. 

Meskipun visi integrasi ini jelas, tantangan teknis masih ada. Perbedaan format data, resolusi spasial, dan frekuensi pembaruan data antara BMKG (data raster cuaca dinamis) dan BNPB (data vektor kerentanan yang lebih statis) memerlukan arsitektur middleware yang canggih. Selain itu, akurasi data InaRISK di tingkat mikro (desa/RT) sangat bergantung pada pembaruan data berkala oleh pemerintah daerah, yang kapasitasnya bervariasi di seluruh Indonesia.

Menarik juga untuk disimak, upaya mitigatif khas yang dikembangkan Indonesia semenjak jaman BPPT, dimana BPPT memperkenalkan teknologi modifikasi cuaca melalui operasi modifikasi cuaca. 

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara historis dikenal sebagai "Hujan Buatan", teknologi yang telah berevolusi perannya. Jika dulu fokus utamanya adalah mengisi waduk saat kemarau atau memadamkan kebakaran hutan (Karhutla), kini OMC menjadi sistem andalan untuk mitigasi banjir di wilayah strategis.

Konsep dasarnya adalah Redistribusi Curah Hujan. Teknologi ini tidak "menghilangkan" hujan, melainkan mempercepat proses hujan. Dengan menyemaikan inti kondensasi (biasanya garam/NaCl atau Kapur Tohor/CaO) ke dalam awan Cumulonimbus yang sedang tumbuh di atas laut atau daerah aman, hujan dipaksa turun sebelum awan tersebut mencapai wilayah target yang padat penduduk (seperti Jakarta). 

Contoh kongkret dari keberhasilan OMC antara lain adalah upaya menghadapi potensi hujan ekstrem di akhir Oktober tahun 2025, BNPB dan BMKG menggelar OMC selama 3 hari (23-25 Oktober). Menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B (PK-YNA), tim melakukan penyemaian 800 kg CaO dan 800 kg NaCl dalam beberapa sorti penerbangan. Hasilnya signifikan: analisis radar BMKG menunjukkan pengurangan curah hujan hingga 81% di wilayah target, dan laporan kejadian banjir di lokasi tersebut menjadi nihil setelah operasi dimulai. 

Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita renungkan dan pikirkan dengan tenang; bahwa sesungguhnya perjalanan Indonesia dalam membangun sistem prediksi kebencanaan adalah cerminan dari perjuangan manusia beradaptasi dengan alam yang dinamis. 

Integrasi data DIBI BNPB dan teknologi prediksi BMKG merepresentasikan lompatan kuantum dari era "merespons setelah terjadi" menuju era "mengantisipasi sebelum terjadi". ​Analisis terhadap data tahun 2024-2025 menunjukkan dualitas realitas: di satu sisi, teknologi seperti AI, NWP resolusi tinggi, dan Operasi Modifikasi Cuaca telah terbukti mampu menyelamatkan aset dan jiwa manusia, seperti terlihat di Jawa Barat dan Jakarta. Namun di sisi lain, tragedi kemanusiaan di Sumatra mengingatkan kita bahwa teknologi hanyalah alat. 

Tanpa pemulihan ekosistem hulu, infrastruktur yang tangguh, dan kesiapsiagaan komunitas yang merata, ancaman bencana akan terus mengintai pembangunan nasional.

Menjemput tahun 2045, Indonesia mencanangkan visi untuk menjadi negara maju yang tangguh bencana. Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) 2020-2044 menjadi cetak biru strategis. Target utamanya bukan meniadakan bencana (yang mustahil secara geologis), melainkan mereduksi secara maksimal korban jiwa dan meminimalkan kerugian ekonomi.

Sumber gambar:
https://rri.co.id/features/695966/jenis-jenis-bencana-alam

Rabu, 22 Januari 2025

Menyelami Sejenak Ruang Bernama Kehidupan #bagian 1

Oleh Duddy Fachrudin 

Di akhir tahun saya mendapat tawaran mengajar psikologi untuk korporasi di empat daerah negeri ini. Dua diantaranya di luar pulau Jawa. Alhamdulillah, dari keempatnya terealisasi satu saja.

Jika keempatnya terlaksana tentu sangat senang sekali. Apalagi psikologi sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan ini diperlukan setiap orang di jaman yang serba tak pasti. Namun karena ketidakpastian pula, ketiganya urung terjadi.

Dalam kondisi seperti ini yang bisa dilakukan hanya menerima, bahwa segalanya tidak sesuai rencana, sambil kemudian terus menata, memperbaiki diri dari ke hari sehingga siap untuk menyambut mentari.

Meski, setiap hari bisa saja yang datang tak hanya mentari. Mungkin ia yang hadir adalah kecewa dan rasa frustasi. Atau cemas serta depresi. Kata Rumi, mereka semua merupakan tamu yang perlu disambut dengan hangat dan riang gembira. Memeluk derita sama halnya merangkul bahagia.

Namun, bagaimana mungkin orang biasa seperti Judin paham mengenai konsep itu. Laki-laki yang hanya berpenghasilan 30 ribu per harinya itu harus menghadapi kenyataan yang menyayat sendinya. Hutang yang menumpuk diwariskan oleh orangtuanya. Sejak ayahnya meninggal, ia mengambil alih nahkoda rumah tangga yang oleng bagaikan Titanic setelah menabrak gunung es di lautan luas itu.

Sore itu ditemani Juwita, Judin mengungkapkan gelisahnya. “Sebenarnya kalau mau kita bertiga, ya kakak dan adikku berjuang bersama melunasi hutang-hutang itu.”

“Mbok sendiri bagaimana?” tanya Juwita.

Dalam duduknya Judin mengehela nafas teringat keinginan kuliahnya dicegah oleh ibunya sendiri. Kedua tangannya menyangga tubuhnya yang ringkih. “Andai saja aku kuliah Wit! Setidaknya aku bisa memperbaiki keadaan sekarang.”

Berkali-kali Judin menilai dirinya bodoh dan tak bisa apa-apa. Namun dibalik itu ia yang menanggung segalanya.

Kehidupan itu… sebenarnya apa? Tanya Judin dalam relung hatinya. Sementara senja mulai menyapa dirinya serta Juwita.

Pun tanya itu pula yang kemudian direnungkan oleh para pembelajar dari berbagai generasi di sebuah korporasi, suatu hari akhir tahun itu.

“Perjalanan!” seru seorang anak muda. Di satu sisi, seorang laki-laki berusia 50an, berkata bahwa hidup ialah kebersyukuran.

“Hidup itu stres ya Wit,” Judin kembali mengungkapkan keluhnya.

Bersambung…

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/

Sabtu, 17 Agustus 2024

Bula Buli dan Teori Imitasi



Oleh Duddy Fachrudin 

“Bula buli bula buli… muak kali aku dengernya… nggak kuat sekolah ya nggak usah daftar…” begitu kata seorang Internis, merespon berita dan fenomena mengenai bullying dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Komentar di story instagramnya itu pun viral dan kalau dipikir-pikir kalimat tersebut termasuk bullying kategori verbal… Mungkin, ya. Atau mungkin, bukan.

Ingatan saya melintas ke masa lalu. Saat masih duduk (dan juga pastinya berdiri) di bangku Sekolah Dasar. Kami saling bersaut memanggil nama satu sama lain dengan nama orangtua kami. Tidak setiap kali, tapi ya kadang-kadang… apakah itu juga termasuk bully?

Jadi apa sebenarnya bullying atau dalam bahasa Indonesia disebut perundungan?

Kamus Cambridge menyatakan perundungan adalah the behavior of person who hurts or frightens someone smaller or less powerful, often forcing that person to do something they do not want to do. Sementara American Psychological Association Association menyatakan perundungan sebagai a form of aggressive behavior in which someone intentionally and repeatedly causes another person injury or discomfort

Dari dua definisi ini setidaknya ada beberapa kata kunci mengenai bullying, yaitu perilaku yang menyakiti/ mengancam atau agresif, ditujukan kepada orang orang yang “less powerful” atau bahasa lain kurang memiliki kuasa/junior/lemah atau dilakukan oleh orang yang punya “power”, dan menghasilkan cedera atau ketidaknyamanan pada orang yang dilakukan perundungan. Perundungan sendiri bentuknya bisa berupa kekerasan fisik, emosional, seksual, verbal, dan pengabaian.

Maka kembali lagi pada kalimat “Bula buli bula buli… muak kali aku dengernya… nggak kuat sekolah ya nggak usah daftar…”, apakah itu termasuk:

Perilaku menyakiti atau agresif: ya. Karena kalimat tersebut diungkapkan di saat momen seorang residen PPDS meninggal dikarenakan faktor (salah satunya) tekanan dan perundungan saat menjalani program pendidikan.

Ditujukan kepada orang yang “less powerful”: secara umum ditujukan kepada netizen, dimana dilakukan oleh seorang yang memiliki gelar tinggi. Bisa ya.

Menghasilkan ketidaknyamanan: ya bagi sebagian besar netizen yang membacanya.

Kesimpulannya, kalimat “Bula buli bula buli… muak kali aku dengernya… nggak kuat sekolah ya nggak usah daftar…” termasuk perilaku perundungan. Bentuknya verbal.

Bagaimana kalimat “Bula buli bula buli…” bisa muncul. Mari kita sedikit belajar pada seorang jenius yang mengembangkan Social Learning Theory (SLT). Orang tersebut bernama Albert Bandura.

Pada SLT, perilaku individu tidak semena-mena hadir begitu saja, melainkan dipelajari dari orang lain. Teori ini berkembang dari eksperimen “Bobo Doll”, dimana seorang anak diberikan tayangan mengenai orang dewasa yang sedang memukul “bobo doll”. Setelah melihat video itu, sang anak diminta masuk ke dalam suatu ruangan yang di dalamnya terdapat boneka bobo. Apa yang kemudian terjadi? Sang anak melakukan aktivitas persis yang dilakukan orang dewasa, yaitu memukul “bobo doll”.

Social Learning Theory disebut juga teori Modeling atau Imitating, karena orang lebih mudah belajar dengan meniru atau mengamati orang lain. Konsep ini dinamakan vicarious learning. Terdapat interaksi antara individu, perilaku, dan lingkungan, membentuk resiprokal triadik dalam sistem sosial. Manusia yang menciptakan sistem tersebut sekaligus produk darinya. Dan itu semua terjadi karena adanya model atau subjek yang ditiru.

Perundungan sistemik yang kronis, misal dalam suatu program pendidikan sulit dihilangkan karena hal itu berhubungan dengan kultur atau budaya pada sistem pendidikan tersebut. Maka narasi “harus kuat” dan “tahan banting” karena pekerjaanya nanti berat dan penuh tekanan seolah menjadi suatu kewajaran. Belum lagi bumbu-bumbu melakukan “pekerjaan ekstra” yang dianggap latihan supaya menjadi pribadi yang lebih kuat. Padahal mungkin pekerjaan "ekstra" itu tidak ada sangkut pautnya dengan perkuliahan yang sedang ditempuh. Dan semua ini diulang-ulang, berpuluh-puluh tahun. Ingat dalam SLT, manusia pencipta sekaligus produk dari sistem sosial.

Maka, Solusi dari masalah ini jika dikembalikan menurut konsep Bandura, ialah menciptakan sistem sosial baru. Diawali dengan seorang figur yang memberikan keteladanan, bagaimana mendidik secara humanis, mengembangkan kompetensi komunikasi yang empatis, dan menjalani profesi mulia seperti halnya dokter dengan tulus ikhlas layaknya filantropis. Para residen yang belajar kepadanya melalui observational learning kelak akan memproses pengalaman serta interaksi selama pembelajaran dalam aspek kognitifnya.

Bahkan mereka yang mencontoh model tersebut tidak hanya dapat mempelajari dan mengembangkan perilaku persis seperti figur yang dicontoh, melainkan pula menyelesaikan beragam masalah psikologis yang sebelumnya sudah dimilikinya, seperti kecemasan, kebingungan (krisis) akan kehidupan, dan ketidakmatangan dalam berpikir serta bertindak.

Pada akhirnya tulisan bula buli ini menghantarkan pada ayat Al-Qur’an yang berbunyi: Laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā. (Al-Ahzab: 21)

Dan tentu saja: Iqra` (bacalah, simaklah, lihatlah, perhatikanlah, pelajarilah) bismi rabbikallażī khalaq. (Al-‘Alaq)

Sumber gambar: https://dads4kids.org.au/imitating-dad/

Kamis, 15 Agustus 2024

Hidup Senang Mati Tenang: Merdeka dari Penderitaan Psikologis



Oleh Duddy Fachrudin 

Berita hari ini berseliweran di lini masa. Tentang seorang residen Program Profesi Dokter Spesialis (PPDS) yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak biasa. Asumsi bermunculan mengembara berusaha mencari sebabnya? Depresi, perundungan, ataukah karena faktor sakit yang dideritanya?

Tentu kita tidak perlu terlalu jauh untuk memikirkannya, karena beragam faktor berkontribusi atas hadirnya suatu masalah atau perilaku tertentu. Tidak ada faktor tunggal, bisa jadi karena ketiganya, bahkan mungkin pada saat investigasi ditemukan variabel lain yang menentukan. 

Di titik ini, yang perlu dilakukan oleh kita ialah mengambil jeda dan mempelajari jiwa ini, karena mungkin kita juga memiliki keinginan untuk bunuh diri?

Ramainya pemberitaan mengenai bunuh diri memang semakin menjadi-jadi. Isu kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir hingga saat ini menyadarkan kepada setiap individu untuk merawat serta menata jiwanya. Di satu sisi, kita juga tidak menoleransi segala bentuk kekerasan yang dapat memicu ketidaknyamanan dan menggerus keseimbangan mental kita. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh kita, manusia yang acapkali rapuh saat mengarungi kehidupan ini?

Pertama, kita perlu kembali mengenali diri ini. Apa saja lintasan-lintasan rasa dan pikiran yang sering menghampiri? Apakah ia mengganggu dan membuat kita tidak berdaya?

Kedua, jika memang hal itu mengganggu kita akui dan terima. Tidak perlu menolaknya atau menghindarinya (experiential avoidance). Karena semakin menghindarinya justru lintasan rasa dan pikiran yang mengganggu itu semakin kuat muncul. Penderitaan psikologis bermula saat kita menolak dan menghindari ketidaknyamanan rasa dan pikiran tersebut.

Ketiga, setelah diterima dan dihadapi hal yang mengganggu tersebut, maka kita perlu membuat jarak. Ya, menerima bukan berarti melekatkan pikiran dan perasaan yang mengganggu tersebut pada diri kita. Justru di sinilah kita mengembangkan cognitive defusion, menanggalkan atau melepaskan kemelekatan itu. Caranya bisa dengan melatih diri kita dengan mindful breathing, sitting, body scanning, walking, dan mengembangkan sikap mindfulness, seperti sabar, tidak menilai, menerima, melepaskan, terbuka, dan sebagainya.

Keempat, mengembangkan value atau nilai, yaitu sesuatu yang penting dalam hidup kita. Nilai itu yang akan menjadi guide kita menuju kehidupan yang bermakna. Nilai hidup dapat berhubungan dengan kehidupan personal, interpersonal, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Misalnya value yang kita kembangkan berkaitan dengan pekerjaan adalah menjadi pribadi yang dapat menolong orang lain, mendengarkan mereka di saat mereka kesusahan.

Kelima, melangkah bersama value. Ciptakan tujuan-tujuan kecil, dimana bahan bakar dari goal tersebut adalah value. Sebagai contoh, nilainya adalah menjadi pribadi yang dapat menolong orang lain, kemudian kita tentukan goal, yaitu menciptakan suatu konten edukatif yang bermakna dan bermanfaat untuk orang yang menyimaknya.

Keenam, fokus pada kehidupan berbasis value yang bermakna yang sudah kita ciptakan.

Ketujuh, teruslah berlatih untuk mengembangkan hidup yang berkesadaran, karena dalam menjalani hidup itu sendiri, niscaya akan berjumpa dengan pelbagai stimulus, baik dari dunia internal, yang berisi pikiran, perasaan, kenangan atau memori yang berkelindan, dorongan-dorongan, dan lain-lain, serta dari luar diri individu (eksternal) yang berpotensi memicu hadirnya stres yang kemudian membuat larut (kembali) ke dalam masalah di masa lalu yang sebenarnya sudah berusaha kita lepaskan.

Berlatih mindfulness

Terakhir, jika memang kita berada pada suatu sistem yang membuat diri kita semakin terpapar stres yang berlebihan, maka berhenti dan memilih opsi untuk keluar dari lingkungan yang semakin menjerat pada permasalahan psikologis adalah tindakan yang bijaksana. Menerima bukan hanya bertahan, tapi juga mengambil keputusan yang tepat untuk keberlanjutan hidup kita.  

Pada akhirnya, merdeka dari penderitaan psikologis ini adalah ikhtiar dan belajar secara sadar, dan fondasinya tiada lain adalah kemampuan menggunakan nalar sehingga pelayaran kehidupan menjadi berbinar karena pendar-pendar cahaya yang menuntun pada sebuah reservoar indah dimana kapal yang kita tumpangi akhirnya menurunkan dan menautkan jangkar.

Sumber gambar:

Selasa, 30 Juli 2024

Forest Therapy: Sebuah Ikhtiar Untuk Pulih Melalui Energi Hutan

Oleh Duddy Fachrudin & Andry "Sting" Edwin Dahlan 

Aku bersandar di sini untuk terpapar 
Olehmu mentari yang memancar, 
juga pinus-pinus yang menghampar 
Menghantarkan molekular minyak atsiri ke dalam tubuh 
Untuk segera pulih serta bertumbuh

Aktivitas forest therapy

Maka sejenak saja meluangkan waktu mengunjungi sahabat, yaitu hutan-hutan yang lebat, lalu memeluknya dengan hangat. Begitulah forest therapy mengajarkan kepada kami, manusia yang penuh dengan dialektika untuk belajar secara sadar serta berikhtiar merawat diri dari berbagai inflamasi melalui energi hutan yang penuh cinta kasih. 

Salah satu bentuk terapi hutan yaitu forest bathing yang intinya melakukan aktivitas di hutan dengan sadar atau mindful. Meditasi di hutan dengan melibatkan indera dan "menyatu", serta menyelaraskan diri dengan hutan. Itulah forest bathing. Kalau di Jepang dilabeli Shinrin-yoku.

Sakit pada tubuh terkait dengan respon inflamasi, yaitu respon biologis dari sistem imun yang dipicu oleh berbagai faktor, yaitu patogen, sel yang rusak dan senyawa beracun. Mediator inflamasi seperti Interleukin-6 (IL-6) dan Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α) perlu dikendalikan sehingga respon inflamasi tidak semakin berlebih dan kerusakan jaringan dapat dicegah.

Penelitian menunjukkan individu yang menjalani forest bathing memiliki kadar IL-6 dan TNF-α yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Selain itu stres oksidatif menurun akibat pengaruh senyawa terpen yang ada pada pohon.

Senyawa terpen, seperti limonene dan pinene menurunkan jumlah pelepasan berbagai sitokin pro-inflamasi seperti IL-6, IL-1, dan TNF-α serta menginhibisi aktivitas faktor transkripsi yang berperan dalam inflamasi, yaitu Nuclear Factor kappaB (NF-κB). Terpen secara umum mengurangi aktivitas katalitik enzim yang terlibat dalam pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dan memiliki efek antioksidan yang kuat.

Maka seperti kata Hippocrates, "nature itself is the best physician". Dokter terbaik, tiada lain alam (yang di dalamnya terdapat hutan) itu sendiri yang diciptakan Tuhan sebagai anugerah kepada manusia. 


Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/

Selasa, 04 April 2023

Kuliah Kerja Nyata, Desa Wangunharja, dan Hidup Damai Bersajahaja



Oleh Duddy Fachrudin 

Saya masih ingat ketika 1 dekade lalu ditawari untuk tinggal di sebuah desa nun jauh di selatan Kota Yogyakarta oleh ayah sahabat saya setelah saya diterima melanjutkan sekolah S-2 di Program Profesi Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM). Jarak antara rumah dengan kampus sekitar 45 menit. Suatu variabel yang dipertimbangkan untuk menolak tawaran tersebut. Namun setelah mengambil jeda sejenak, saya menerimanya.

Alasannya sederhana, ingin merasakan sensasi yang berbeda sekaligus menjalani "Kuliah Kerja Nyata" (KKN) yang ketika kuliah S-1 tidak ada mata kuliahnya. Thus, saya akhirnya tinggal di sebuah rumah di desa bernama Wukirsari yang tepat di sebelahnya terdapat Masjid yang dibangun sejak abad 17 dan Komplek Pemakaman Giriloyo. Di dalam komplek tersebut terdapat makam keluarga Sultan Agung dan Sultan Cirebon, Syekh Abdul Karim.

Kehidupan desa tentunya berbeda dengan kota. Kota yang megah dan menawarkan pernak-pernik materi memikat mata, namun nampak manusianya begitu terburu-buru memburu sesuatu. Di desa, seolah waktu melambat mengajak untuk duduk bersama-sama dengan segala kehangatan dan kedamaian yang ada di dalamnya.

Selama 4 tahun "KKN" di Desa Wukirsari justru bukan saya yang memberi, tapi kehidupan desa itulah yang berbagi. Orang-orang begitu ramah dan saling bergotong royong, kesederhanaan, dan cinta. Ada makna berbekas yang tersimpan erat dalam kenangan mengingatkan tentang damainya kehidupan.

Kuliah Kerja Nyata sejatinya berbaur dengan masyarakat. Menyatu dan merasakan kehidupan yang sebenarnya. Dalam era yang semakin mekanik dan robotik, KKN merupakan literasi menjadi manusia yang sangat dibutuhkan dimana individu saling belajar dalam interaksi kolektif serta kolaboratif.

Maka dalam KKN ada semangat membangun yang anggun dalam upaya mewujudkan cita-cita yang tiada lain raharja atau sejahtera. Dua kata, yaitu membangun kesejahteraan dapat disingkat menjadi bangunharja atau wangunharja. Dan kata Wangunharja sendiri digunakan sebagai nama salah satu desa di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Tempat kami menjalani KKN, sebagai mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.

Wangunharja tidak seterkenal saudaranya, Bakung yang identik dengan es tape ketannya. Atau juga dengan Sitiwinangun dengan kerajinan gerabahnya. Namun begitu, Wangunharja tetap spesial karena kebersahajaannya.

Permasalahan yang muncul di masyarakat disikapi tanpa kepanikan dan berlebihan. Seperti halnya stunting yang tidak terkecuali menjadi bagian masalah kesehatan di desa ini. Perangkat desa, posyandu, dan posbindu turun rembuk mengatasi masalah ini. Kami ikut membantu sesuai daya dan kapasitas sebagai mahasiswa yang hanya memiliki secuil ilmu dan keterampilan melalui edukasi stunting dan simulasi hidup sehat di Sekolah Dasar (SD).

Edukasi, simulasi, ditambah dengan Jumsi (Jumat Bersih), dan PoPi (Posko Pintar) adalah rangkaian kecil pengabdian yang semoga menjadi manfaat. Justru sebagai individu yang haus akan ilmu, kami justru mendapatkan sesuatu yang tidak ternilai harganya selama KKN ini. Dan hal itu bernama kebersamaan, kesederhanaan, dan kebersahajaan, yang akhirnya maujud pada kedamaian.

Sumber gambar: 
Dokumentasi KKN

Kamis, 17 November 2022

Strategi Self-Care dengan Acceptance and Commitment Therapy



Oleh Susan Rahmayani 

Bahagia. Sebagian besar orang mencarinya, menemukannya. Lalu selamanya manusia ingin dalam kondisi tersebut. 

Namun sayangnya, perjalanan kehidupan menyadarkan dan mengajarkan bahwa kenyataanya kita tidak selalu bahagia. Ada beragam rasa lain yang menghampiri seperti sakit dan kecewa, kehilangan, kematian, kegagalan, maupun kesedihan.

Seperti pagi ini yang mendapati kenyataan bahwa saya dinyatakan tidak lulus dalam ujian akhir sebuah pelatihan.

Sedih, kesal, malu menyatu... padahal beberapa menit sebelumnya merasa bersyukur karena bangun pagi lalu melaksanakan sholat dan rutinitas lainnya seperti menyiapkan sarapan untuk keluarga, dan sebagainya.

Berat rasanya menjalani hari. 

Akhirnya saya memilih menepi sejenak, mengijinkan dan menerima semua kerumunan rasa dan pikiran untuk diamati dan disadari. Setelah kondisi jiwa lebih tenang, berbagai respon terbaik siap dipilih. 

Daripada terus terjerat (hooked) dalam kecamuk rasa, saya memilih untuk menuliskan ini. Ya, tulisan ini, yang tidak sekedar untuk mengalirkan emosi, tapi juga sebagai pengganti ketidaklulusan ujian akhir pelatihan tersebut.

Itulah salah satu contoh dari merawat diri (self-care) dengan Acceptance and Commitment Therapy (ACT).

Penerimaan itu bukan asal pasrah nrimo begitu saja tapi merangkul merima apa yang ditawarkan kehidupan. Mengizinkan dan membuka diri sepenuhnya terhadap realita yang ada kemudian dikuti dengan komitmen melakukan tindak lanjut berdasarkan nilai yang dipilih secara konsisten. 

Sederhananya ACT adalah berikut ini:

Acceptance: menerima pikiran, ingatan dan emosi hal yang tidak diinginkan, seperti rasa malu, rasa bersalah, rasa kesal dan lainnya. Tidak menolak pikiran dan rasa yang tidak diinginkan melainkan berlatih mindfulness atau berkesadaran mengobservasi pikiran dan perasaan apa adanya.

Choose a valued direction: memilih nilai / value yang akan diikuti. Menyadari mempunyai pilihan arah hidup diawali dengan identifikasi dan fokus pada value yang diinginkan. Berlatih menerima inner world, menerima apa yang datang dan apa yang menemani dalam perjalanan.

Take action: mengambil langkah tindakan yang telah dipilih. Berlatih melaksanakan komitmen pada apa yang telah dipilih sehingga dapat menjalani sesuai dengan value-nya.

Terdapat enam core dalam ACT yang perlu terus-menerus dilatih. Empat elemen terkait mindfulness (acceptance, cognitive defusion, flexible attention, dan self as context), sementara dua lagi, yaitu perilaku (value dan committed action). Berikut penjelasannya:

1) Acceptance, berlatih menerima pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan/ buruk tanpa berusaha untuk mengubahnya. Agar terbangun kemampuan ‘rela’ menerima, menghadapi pikiran, perasaan dan pengalaman yang sebelumnya dihindari.

2) Cognitive Defusion, dengan berpikir cara baru agar saat menghadapi masalah berdampak lebih sedikit pada diri. Berlatih meredakan pikiran tanpa berusaha menghilangkannya dengan menjaga jarak dari pikiran tersebut sehingga tidak termelekati.

3) Flexible attention, berlatih menjalani kehidupan di saat ini dan di sini apa adanya agar dapat lebih fleksibel dan konsisten pada value yang dimiliki. Dengan mengembangkan kesadaran saat ini artinya memberi ruang untuk perasaan negatif alih-alih mencoba menekan atau mendorongnya.

4) Self as context, berlatih melihat atau mengobservasi diri apa adanya tanpa menghakimi atau menilai benar/ salah dengan mindful pada diri apa adanya. Bahwa manusia bukanlah isi pikiran atau perasaannya, melainkan kesadaran yang mengalami pikiran dan perasaan tersebut.

5) Value, mengidentifikasi nilai-nilai penting sebagai panduan agar dapat diterapkan saat mengambil keputusan atau tindakan. 

6) Committed Action, berlatih komitmen melalui tindakan berdasarkan value yang ada dan mengarahkannya pada tujuan-tujuan hidup yang bermakna. Berkomitmen melakukan tindakan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab diri.

Pendekatan ini membantu membebaskan diri dari rasa pikiran yang membelenggu dan sekaligus menuntun untuk menerima dan mengobservasi dengan penuh kesadaran pikiran tersebut tanpa larut ke dalamnya. 

Mari peduli pada kesehatan mental kita dengan mengupayakan merawat diri (self-care) dengan baik, memberinya pupuk cinta melalui Acceptance and Commitment Therapy.

Sumber gambar:

Selasa, 15 November 2022

Mindful Lansia: Menualah, Lalu Menjelma Menjadi Cinta



Oleh Tauhid Nur Azhar

Menua dan menuai adalah tindak selaras yang datang mendaras, untuk menguji sikap ikhlas. Kita tumbuh dengan memeras setiap pengalaman yang diizinkan Allah untuk senantiasa membekas.

Karena kenangan adalah pembelajaran yang berperan untuk membentuk kepribadian dan turut menentukan seperti apa bentuk metamorfosa kita yang dipahat oleh kehidupan.

Sedih dan gembira, juga marah dan suka cita, bersama harapan dan kekecewaan adalah cara semesta menjabarkan makna ke dalam sebentuk rasa yang kelak mengemban nama sebagai manusia.

Maka kita kerap tertatih dan letih, hingga akhirnya terlatih, dan menjadi pribadi yang terjebak dalam rintih pedih, ataupun dalam lelah yang membelasah.

Meski saat amanah telah mampu disyukuri sebagai rahmah, kita akan menjelma menjadi sosok Khalifah. Sosok teduh tempat banyak jiwa bernaung, dimana gaung rindu pada yang Maha Agung senantiasa berdengung.

Maka menua adalah menuai segenap rasa yang telah kita labeli dengan makna, alih-alih hanya menjadi sekedar tanda, ia dapat menjelma menjadi cinta.

Cinta pada dunia yang digerus dan dihapus oleh waktu. Atau cinta pada yang Maha Mencinta, tanpa perlu berharap perlakuan setara.

Cinta nan sederhana. Cinta yang hanya punya jujur sebagai modalnya. Cinta yang tak berkelindan dengan kecewa. Yang tak marah saat didera rasa tak berbalas, bahkan tak berpunya.

Karena cinta saat menua adalah menuai tanda dalam perjalanan kelana jiwa, bahkan bagi mereka yang merasa tak pernah kemana-mana.

Sumber gambar:

Mindful Lansia: Mindfulness dan Penyesuaian Diri pada Masa Purna Karya


Oleh M. Grace B. Marlessy 

Menua, bagi sebagian orang merupakan proses yang tidak begitu mudah dijalani. 

Di dunia kerja, mereka yang telah sampai pada usia purna karya seringkali perlu berjuang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang tak terhindari. Sebenarnya perubahan tersebut memang tidak sepenuhnya buruk. Ada pula hal-hal yang justru dirasakan lebih menyenangkan setelah mengalaminya. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa proses ini kerap dipandang dan disikapi sebagai sebuah pengalaman yang negatif, setidaknya pada masa-masa transisi awal.

Banyak aspek kehidupan yang terpengaruh ketika seseorang memasuki masa purna karya. Mulai dari berubahnya rutinitas sehari-hari, berkurangnya produktivitas, hilangnya status, kekuasaan, maupun lingkungan sosial yang semula dimiliki, penghasilan menurun, dan sebagainya. 

Perubahan tersebut bisa menimbulkan beragam perasaan dan suasana hati. Dapat pula berkontribusi pada munculnya kecemasan, depresi, masalah konsep diri, kesepian, bahkan memicu krisis eksistensial bila orang tersebut tidak berhasil menemukan strategi coping yang efektif.

Hal itu dapat terjadi pada siapa pun yang menjalaninya, tak terbatas pada kelompok lanjut usia saja. Tiap orang dapat mengalami kesulitan dalam proses penyesuaian diri pada masa ini, tak peduli berapa pun usianya saat mulai memasuki purna karya. 

Setiap negara memang menetapkan batas usia berbeda untuk mengakhiri masa kerja. Ada yang menentukan mulai usia 49 tahun, 56 tahun, bahkan 65 tahun, bervariasi dari tahap perkembangan dewasa madya hingga lanjut usia. Di beberapa negara, jenis kelamin dan jenjang jabatan juga menjadi faktor penentu batas usia ini.

Meskipun demikian, pada dasarnya perubahan yang dialami dalam konteks purna karya adalah perubahan besar yang sama. Dalam konsep hirarki kebutuhan dari Maslow, maka masa ini dapat menjadi ancaman terhadap hampir semua kebutuhan seseorang (fisiologis, rasa aman, cinta/ belongingness, dan harga diri). Bisa pula berlanjut hingga akhir hidup seseorang.

Pada tulisan ini, batasan masa purna karya merujuk pada Retirement Phase menurut pembagian Robert Atchley. Fase ini terdiri dari 4 (empat) tahap, yakni:

1. Honeymoon, saat seseorang bersemangat menikmati kebebasan dari rutinitas kerjanya, karena ia tak lagi terikat dan dapat melakukan apapun yang diinginkan.

2. Kemudian menyusul tahap Disenchantment/ Disappointment, saat ia mulai ragu atau mempertanyakan keadaannya sekarang. Tahap ini sering ditandai dengan kekecewaan, kecemasan, depresi, dan berbagai pikiran serta perasaan negatif. Bila kemudian ia mampu melewatinya dengan baik, maka ia pun mencapai tahap ketiga.

3. Reorientation menjadi titik balik sewaktu seseorang dapat bangkit, menemukan arah dan makna hidup yang baru.

4. Setelah itu barulah hadir tahap berikutnya, yakni Retirement Routine/ Stability, saat ia menjalani hidup sesuai misi atau tujuan terakhirnya.

Sebagian orang, terutama yang telah mempersiapkan diri dengan baik, biasanya lebih mudah menerima dan menyelaraskan diri dengan realitas baru tersebut. Dengan demikian, jika pun mereka mengalami saat-saat yang cukup berat dalam prosesnya, maka hal itu dapat diatasi cukup cepat. 

Memang, menerima adalah jenis respon pertama dan yang paling sehat dalam menyikapi situasi ini.

Sebaliknya, ada pula orang-orang yang mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan masa purna karya. Mereka menampilkan dua jenis respon yang berbeda, yaitu: terpaksa menerima, atau menolak (Biya & Suarya, 2016). Jumlah mereka tidak sedikit (Finansialku, 2016). 

Mereka inilah yang sering kali terjerumus cukup lama dalam berbagai masalah, seperti: kecemasan, ketidakbahagiaan, depresi, memburuknya relasi, bahkan pada mereka yang sebelumnya memiliki jabatan struktural cukup tinggi juga terlihat gejala post power syndrome (Biya & Suarya, 2016).

Pertanyaannya: Bila demikian, lalu apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan cepat pada realitas masa purna karya?

Ternyata, beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa menjalani terapi berbasis mindfulness dapat membantu mengoptimalkan proses penyesuaian diri tersebut. 

Intervensi psikologi berbasis mindfulness adalah berbagai terapi yang memadukan mindfulness dengan ragam teknik terapi lain.

Mindfulness sendiri secara sederhana dapat digambarkan sebagai kondisi ketika pikiran, perasaan, dan tubuh berada pada saat ini, tidak mengembara ke masa lalu maupun masa depan (Fachrudin, 2017).

Salah satu penelitian di Denmark menunjukkan peningkatan resiliensi dan well-being yang signifikan pada para peserta pra purna karya yang telah mengikuti program MBSR atau Mindfulness-Based Stress Reduction selama 8 minggu (Diachenko et.al., 2021). Mereka mengalami kemajuan pesat dalam hal penerimaan dan kelenturan psikologis. Pun menjadi lebih menyadari pikiran atau perasaan tanpa menilai, dan lebih mampu menerima serta mengasihi diri sendiri.

Dalam bukunya Mindfulness-Based Cognitive Therapy for Depression (2nd ed.), Segal et. al. (2013) juga menyebutkan bahwa banyak dari mereka yang mengalami depresi lalu mengikuti MBCT, menjadi lebih mudah mengenali pemicu relapse serta menanganinya dengan pikiran dan aktivitas positif. Selain itu mereka pun mampu lebih berempati, meningkatkan relasi dengan orang lain, dan terampil mengamati pikiran atau perasaan apapun yang muncul tanpa terseret ke dalamnya.

Berdasarkan berbagai gambaran di atas, maka sebenarnya mempelajari dan mempraktikkan teknik-teknik mindfulness secara teratur dapat mempermudah penyesuaian diri dalam masa purna karya, karena akan melatih seseorang untuk hidup berkesadaran serta penuh penerimaan.

Referensi:
Biya, C. I. M. J., & Suarya, L. M. K. S., (2016). Hubungan Dukungan Sosial dan Penyesuaian Diri pada Masa Pensiun Pejabat Struktural di Pemerintahan Provinsi Bali.

Diachenko, Maria, et. al., (2021). Pre-retirement Employees Experience Lasting Improvements in Resilience and Well-Being After Mindfulness-Based Stress Reduction. doi.org/10.3389/fpsyg.2021.699088

Fachrudin, Duddy, (2017). Apa Itu Mindfulness? http://www.mindfulnesia.id/2017/03/apa-itu-mindfulness.html

Finansialku (2016). Mengapa Banyak Karyawan Cemas Menghadapi Masa Pensiun?

Segal, Zindel V., Williams, J. M. G., & Teasdale, John D. (2013). Mindfulness-Based Cognitive Therapy for Depression (2nd ed.). New York: Guilford Press.

Sumber gambar:

Selasa, 08 November 2022

Oogway, Karakter Paling Brengsek di Kung Fu Panda







Oleh Duddy Fachrudin

Tahun depan, tepatnya di bulan Maret Kungfu Panda 4 rilis. What? Seriously? 

Kungfu Panda sudah sangat keren dengan ketiga filmnya. Terbukti dengan penilaian di situs IMDB yang memberi skor di atas 7 untuk kisah petualangan Po yang kocak, inspiratif, sekaligus filosofis. Dan yang terpenting teka-teki mengapa Oogway memilih Si Panda Gemoy itu menjadi Dragon Warrior telah terjawab di film yang ketiga.

Kungfu Panda sudah sangat bagus. Setidaknya menurut saya. Dan karena itu tidak berharap ada kelanjutannya.

Baiklah, namun berita tersebut sudah tersebar, bahkan menjadi trending topic di Twitter bulan Agustus yang lalu. Semoga petualangan berikutnya menyajikan kisah yang "Wooooaaaah", seperti reaksi Po ketika mendapatkan suatu pembelajaran baru dari Shifu maupun Oogway.

Master Shifu dan Master Oogway. Kedua guru Po ini punya karakter yang berbeda. Shifu yang serius dan serba terencana, sementara Oogway lebih kalem, intuitif, dan kadang-kadang konyol, plus brengsek juga. Namun karena kebrengsekan Oogway, Kungfu Panda menghadirkan makna bagi penontonnya.

Sebut saja ketika dia tiba-tiba menunjuk Po yang jatuh dari langit sebagai Pendekar Naga, sementara 5 calon yang yang telah disiapkan akhirnya menjadi sia-sia. Karena itu pula Shifu protes kepadanya bahwa jatuhnya Po persis di depan Oogway sebagai kebetulan belaka. Oogway sudah mau memilih Tiger sebagai pewaris Manuskrip Rahasia. Itulah yang ada dalam benak Shifu.

Bayangkan anda di posisi Shifu saat itu lalu melihat keputusan Oogway. Pasti bingung, kesal, kecewa, marah, menolak dan tidak menerima. Brengsek bukan Oogway ini?

Kebrengsekan Oogway berlanjut saat Shifu diminta melatih Po yang "hanya kebetulan" untuk menjadi Dragon Warrior. Lalu Si Kura-Kura ini dengan enaknya mengatakan kepada Shifu di suatu malam di bawah Pohon Persik, "You must continue without me." Dan kemudian Oogway menghilang alias moksa.

Brengsek bukan. Dia yang nunjuk Po, Shifu yang melatih, tapi kemudian dia menghilang. Ngasih kerjaan itu namanya.

Dan saran Oogway kepada Shifu yang begitu campur aduk pikiran dan perasannya itu sebelum moksa hanyalah: "You must believe..." atau dengan redaksi lain, Shifu, kamu harus percaya bahwa Si Gendut Panda yang suka makan itu dapat memenuhi takdirnya sebagai Pendekar Naga yang ditunggu-tunggu keberadannya dan bisa menjadi solusi memberikan kedamaian bagi semua penduduk Valley of Peace.

Assseeem tenan iki Oogway.

Tapi untungnya Shifu yang berarti Guru tersebut mau belajar.

Meski syuuulit menerima keputusan Oogway yang brengsek, ia perlahan membangun raport alias hubungan yang harmonis dengan Po. Pada akhirnya Master Shifu bisa melatih Po dengan cara yang unik dan berbeda. Bahkan ketika Po diminta menguasai inner peace, Po berhasil. Lalu saat Po akhirnya ditugaskan untuk mengajar kungfu dan melatih chi-nya, ia pun bisa.

Memang, hal-hal ajaib dapat bermula dari kebrengsekan. Dan tulisan ini pun mungkin sesuatu yang brengsek bagi anda.

Hikmahnya, terbukalah dengan berbagai pengalaman. Kalau kata mindfulness: kembangkan sikap beginners mind dan jangan terlalu terburu-buru menilai atau menghakimi.

Anak anda, murid anda, bawahan anda, klien anda bisa memenuhi takdir terbaiknya melalui anda.

How? You must believe...

Minggu, 30 Oktober 2022

Menyelami Hening di Rerimbunan Pring Pikiran (Bagian 2, Habis)



Oleh Tauhid Nur Azhar 

Perjalanan lintas masa mereka yang menggunakan jentera anti tesis ruang waktu, membawa ke sebuah daerah yang dulu masuk ke area pusat peradaban Liyangan. Belum sampai sana sebenarnya, tepatnya di Papringan.

Lokus yang menjadi laboratorium hidup untuk kearifan budaya yang bersifat holistik dan menjadi etalase cara hidup arif bijaksana yang waskita terhadap berbagai piweling dan pertanda dari alam.

Pendekatan pemenuhan kebutuhan yang berkepedulian dan kapasitas untuk menjadi pengendali keinginan tanpa mengeksploitasi, apalagi manipulasi, secara berlebihan dan tak beretika ketika berinteraksi dengan alam.

Alam takambang menjadi guru bukanlah sekedar pameo ataupun peribahasa bersayap yang terbang membumbung tinggi seperti Alap Alap. Ia justru menjadi Lumbricus yang membumi dan bersanggama langsung dengan kenyataan, tetapi mampu mewarisi ilmu visi Alap Alap sebagaimana yang dimiliki oleh Bala Sanggrama pengawal Raden Wijaya raja pertama Majapahit yang keturunan Jawa Sunda. Ayahnya dalam beberapa manuskrip dikenal sebagai Rakyan Jayadarma yang berasal dari Sunda Galuh, dan Ibunya adalah Dyah Lembu Tak keturunan Ken Arok pendiri Singhasari.

Kakawin Negarakertagama, Pararaton, dan prasasti Kudadu menjelaskan tentang asal usul dan sepak terjang Raden Wijaya dalam mendirikan Emporium Majapahit, yang kelak dikenal dengan doktrin penyatuan Nusantara.

Kembali kepada Papringan dan beberapa daerah yang dengan kesadaran penuh mulai belajar untuk mengenali kembali kearifan terdahulu yang antara lain maujud dalam tradisi yang diwariskan sebagai pesan kebudayaan yang menjadi pengingat dan perekat dari generasi berikutnya yang heterogen. 

Pesan ini antara lain maujud dalam sebentuk craftmanship dan kecerdasan natural yang dapat memanfaatkan segenap potensi alam dengan cara yang sederhana, tepat guna, dan tidak mendorong terjadinya dampak ikutan yang tidak diharapkan seperti limbah dan kerakusan yang senantiasa menjadi bagian dari konteks potensi komoditas.

Papringan dengan tokoh penggerak seperti Mas Singgih yang ahli pemanfaatan bambu, dapat menjadi contoh tentang kebersahajaan cara hidup yang justru dapat mengalir sejalan dengan arus semesta yang menubuh dalam berbagai fenomena alam yang penuh dengan tanda.

Papringan atau perbambuan yang menjadi jenama sebuah pasar dengan produk dan cara bertransaksi unik, bukanlah semata sebuah jenama belaka, ia adalah laboratorium tentang nilai.

Pasar yang berlokasi di dusun Ngadiprono, desa Ngadimulyo, kecamatan Kedu yang di masa lalu masuk dalam wilayah Bagelen, ini adalah sebuah media interaksi nilai yang dapat menjadi media kontemplasi terhadap pola interaksi kita dengan alam selama ini.

Jika bangsa Jepang memiliki shokunin waza, maka bangsa Indonesia dengan berbekal warisan berupa capaian budaya dan cendekia yang sedemikian luar biasa pada zamannya, tentulah juga memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengelola segenap potensi intelijensia dan ketrampilan dalam mengelola sumber daya yang tersedia dalam ruang hidupnya.

Semangat inilah yang semestinya jangan sampai mengalami kondisi pati obor, alias tercerabut dari tradisi cendekia bangsa yang meski maju dalam tatanan masyarakat dunia, tetapi juga semestinya dapat menyumbang konsep dan karya adiluhung melalui sebentuk karya dan model hidup welas wasis waskita yang cerdas bernas sekaligus ikhlas. 🙏🏿💕

Sumber gambar:

Menyelami Hening di Rerimbunan Pring Pikiran (Bagian 1)



Oleh Tauhid Nur Azhar 

Aja mung dadi wong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya wong sing ugi bisa lan pinter rumangsa.

Peka terhadap kondisi, sadar berkenyataan, bersikap dan berbuat dengan olahan kejernihan pikiran yang menghasilkan kesejukan dalam kebersamaan.

Karena pada dasarnya manusia itu hanya memanen apa yang telah dikerjakan, dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan. Segenap peristiwa dalam kehidupan sesungguhnya adalah pelajaran yang mau kita terima dan kerjakan PR nya, atau mau kita abaikan. 

Lucunya rangkaian dari peristiwa yang merupakan kurikulum pendidikan kemanusiaan itu, konten dan objektifnya kita tentukan sendiri. Karena hidup ini adalah Learning Management System atau LMS dengan Personal and Community Learning Objective yang turut kita kembangkan berdasarkan pilihan sikap dan kedalaman cara berpikir, juga sekhusyu' apa kita berzikir.

Bukankah menungsa mung ngunduh wohing pakarti?

Pakarti dalam kinerja, karya, dan olah rasa, teutama dalam hubungan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan di semesta. Tidak eksploitatif manipulatif secara abusif, juga pandai menata dan mengelola titipan yang telah diamanahkan sebagai khalifah yang wajib menghadirkan rahmah.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli.

Presensi yang menghadirkan kehangatan, dan bukan ancaman. Kehadiran yang membahagiakan, bukan yang membahayakan.

Untuk menyelami dan menghirup atmosfer ilmu itu, bisa singgah di Papringan.

Sahabat saya bersama kroninya yang ahli dalam soal konservasi berbagai warisan budaya arsitektur heritage, sedang melakukan tour de central Java yang berpusar di sekitar pegunungan sakral bangsa Medang. Ungaran, Telomoyo, Sindoro, Sumbing, minus Merapi dan Merbabu.

Mereka berkelana dan memanja indera dengan sajian romansa eklektika yang dipenuhi dengan berbagai kisah nostalgia tentang masa jaya sebuah peradaban yang pernah hadir di Nusa Jawa.

Nusa silang budaya kata Denys Lombard, sejarawan yang bukunya tentang sejarah Nusantara laris manis tanjung kimpul. Bahkan melebihi karya-karya ilmiah populer cendekiawan kita sendiri. Tak apa tentunya, karena ilmu kan bersifat egaliter, universal, dan bebas kepemilikan. 

Tersedia banyak tanda bagi mereka yang punya niat belajar dan berkenan membaca dan menyimak isinya tanpa terjebak sebatas menghafal jenama dan pariwaranya saja.

Dalam parikan Jawa sifat bangga akan bungkus dan kosong saat ditanya soal isi kerap disampaikan sebagai pengingat bagi para generasi penerus, wa bil khusus, generasi yang sudah teramat banyak difasilitasi teknologi.

Kecepatan dan intensitas informasi yang ditandai dengan tingginya volume transmisi, seperti rumus Claude Shannon ya, membuat prosesor analitik kita tak sempat mengendapkan data, apalagi mengurainya menjadi ekstrak ilmu yang dapat dipertautkan secara silogisme untuk merajut makna yang sebenarnya terwakili dalam berbagai bentukan pesan semiotika.

Budaya kulit atau lapis superfisial yang terwakili oleh status ataupun feed serta mikro blog yang hanya berkisar sekitar 160 karakter, telah membuat kita mengukur setiap fenomena melalui "baju" yang dikenakannya saja.

Kembali kepada duo Hasti dan Hesti yang berasal dari dunia yang berbeda, Holland (yang bukan bakery) dan Tahura Bandung, rupanya mereka saling melengkapi satu sama lainnya. Yang satu punya ilmu terkait konservasi dan pemuliaan situs atau artefak bersejarah, satunya lagi punya jejaring di berbagai kalangan untuk bisa memberi akses petualangan time traveling mereka.


Sumber gambar:

Selasa, 12 April 2022

Mindful Journey: Ketika Anak Jaksel Naik Gunung (Bagian 2, Habis)



Oleh Tauhid Nur Azhar 

Aroma adalah suatu anugerah yang sungguh proses menghasilkan sensasinya tidak mudah. Sebaliknya dalam mekanismenya pun tersimpan begitu banyak hikmah dan makna bagi kita yang mau belajar untuk mengurai tanda cinta yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

Menghidu kerap disama artikan dengan "mencium". Dalam pendekatan epistemologis bahasa, mencium itu berkaitan dengan fungsi bibir, sedangkan fungsi hidung adalah jalan nafas dan juga alat penghidu.

Untuk dapat menghidu, hidung secara makro dan mikro anatomi diperlengkapi dengan reseptor olfaksi (reseptor penghidu) yang akan menangkap molekul bau (odor) yang biasanya berupa volatile organic compound (VOC) yang bersifat aerosolik.

Reseptor olfaksi jamak nya berwujud dalam bentuk sel-sel khusus, berupa sel neuron bersilia yang terletak di dalam epitel olfaktorius pada rongga hidung.

Kumpulan dari akson sel reseptor olfaksi membentuk berkas nervus olfaktorius yang berjalan memasuki kranium atau rongga tengkorak melalui foramina lamina kribiformis pada tulang etmoidalis.

Nervus Olfaktorius kemudian bermuara di bulbus Olfaktorius yang lokasi anatomisnya berada di area inferior lobus Frontalis.

Pengolahan data olfaksi menjadi informasi sensasi penghiduan dimulai di bulbus Olfaktorius yang terdiri dari sel-sel interneuron dan sel-sel mitral besar.

Selanjutnya akson atau neurit dari sel-sel mitral keluar dari bulbus Olfaktorius dan membentuk traktus Olfaktorius.

Traktus Olfaktorius melewati daerah posterior basalis lobus Frontalis dan di dekat kiasma Optikum, sebagian serabut traktus Olfaktorius berbelok ke arah lateral.

Kemudian serabut traktis Olfaktorius membentuk stria Olfaktorius lateralis, yang akan menuju fissura lateralis.

Di fissura lateralis, traktus Olfaktorius menyilang dan masuk ke area lobus Temporalis, serta berakhir di korteks Olfaktorius primer.

Korteksi Olfaktorius primer sendiri terletak di unkus yang terdapat di bagian inferomedial lobus Temporalis dekat dengan Amigdala. Sementara struktur terkait fungsi olfaksi atau penghiduan lainnya adalah korteks asosiasi Olfaktorius yang terdapat di bagian anterior girus parahipokampalis (Entorhinal Cortex). Korteks primer Olfaktorius dan korteks asosiasi Olfaktorius ini dikenal sebagai korteks Piriformis.

Uniknya nervus Olfaktorius dan traktus Olfaktorius ini tidak melewati "stasiun relay" Thalamus. Maka hubungan dan fungsinya pun menjadi khusus. Aroma menjadi sensasi khusus yang punya diskresi istimewa untuk langsung mengguncang memori di hipokampus.

Saat ini diketahui bahwa hidung manusia sebagai organ terluar dari sistem penghiduan, memiliki sekitar 1000 jenis reseptor odor dengan sekitar 5 juta sel reseptor Olfaksinya.

Setiap reseptor memiliki rentang kepekaan terhadap suatu spektrum bau saja. Maka molekul odor saat memasuki rongga hidung akan "ditangkap" komponennya oleh berbagai jenis reseptor agar dapat diteruskan menjadi sinyal biolistrik melalui nervus Olfaktorius ke korteks primer dan asosiasi Olfaksi di otak.

Di pusat asosiasi Olfaktorius itulah berbagai aroma diidentifikasi dan diverifikasi serta diklasifikasi, juga diasosiasikan dan dikorelasikan dengan memori yang didapatkan dari pengalaman. Terciptalah basis data aroma, hasil pembelajaran yang dilakukan oleh sel-sel penghiduan.

Karena mekanisme itulah maka kita mampu "mengendus" nikmatnya soto dan kopi serta tentu saja petrichor dari aromanya yang menguap dan menguar di udara sekitar.

Ini belum bahas soal indahnya mekanisme penglihatan, pendengaran, rasa, raba, panas, dingin, juga kesadaran akan ruang dan refleks-refleksnya loh.

Honestly ini adalah part of miracle yang seharusnya membuat kita feel blessing dan bisa deep thinking sih. Jarang loh yang mau deep talk gini, normally orang tuh mau nya bahas topik-topik easy going aja, shallow, which is ya jadinya ga dapet apa-apa juga, wasting time. Udah ketebak end up nya, basicly yah cuman ngomongin soal temen yang flexing, temen yang ghosting, atau ketemu orang baru yang udah langsung gaslighting, cemen. Because why obrolan di circle kayak gini malah jadi nambahin mental issue aja. 

The point is, hidup itu banyak problemnya, tapi juga banyak berkahnya, maka perbanyaklah bersyukur dan kurangi keluh kesah berkepanjangan yang nggak jelas. Somehow hidup ini sementara dan kita pasti akan kembali pada-Nya, dan jangan sampai di penghujung perjalanan kita merasa hidup kita itu penuh derita dan sia-sia.

Banyak bersyukur ya Guys...

La in syakartum laazidannakum...

<<< Halaman Sebelumnya

Mindful Journey: Ketika Anak Jaksel Naik Gunung (Bagian 1)


Oleh Tauhid Nur Azhar 

Air bergemericik, dan beburung pagi yang morning person banget seolah hadir menjadi healing process untuk mereka-mereka yang burn out karena overwhelmed dalam mengelola trust dan mental health issue.

Maklumlah dinamika kehidupan itu kadang lempeng tapi lebih sering mengejutkan, reality bites, dan itu bisa sangat stressful dan painful.

Kadang support system kita juga tidak benar-benar care dengan kita. Bahkan orang yang kita anggap bestie saja, dan kita harap bisa at least memberi sepatah dua patah word of affirmation, eh malah suka guilt tripping dan yang lain malah clingy.

Masih mending kalo enggak emotional abuse atau melakukan silent treatment yang menyakitkan. Toxic relationship itu literally ga sehat banget guys.

Kalau sudah begini memang healing dan self love perlu jadi consideration deh. Perlu positive vibes dan personal space yang proper. Somehow kita memang harus menghindari environment atau circle yang terlalu banyak diisi mereka yang kerap verbally abuse atau bersifat judgemental dan oversharing yang gak penting. Jangan juga terlalu memaksa diri menjadi social butterfly agar bisa masuk banyak circle, ga guna.


Mending cari hidden gem kayak di gunung ini, dan ga terlalu sering staycation yang sebenarnya di sana-sana juga. Beri kesempatan jiwa kita self healing dengan socmed detox, dan ga ada salahnya kalau sekali-sekali kita jadi gate keeping yang nggak spill out yang kita tahu.

Saatnya menikmati me time dan beri diri kita bonus self reward, hindari timeline yang salty dan destruktif. IMO, pergi nyepi ke secret place kayak remote area yang masih nature banget gitu tuh sesuatu.

Ga usah FOMO, dan dicap social awkward, figuratively ini ibarat Robinson Crusoe yang bertualang untuk mengexplore kapasitas dirinya sendiri sih. Semacam self journey untuk mengenal inner soul sebenernya.

Ok, in a fact gemericik air dan kicau burung itu stimulan neurofisiologi banget. Lalu tetiba rasa sejuk melanda qolbu saat awan mendung mulai merintikkan gerimis. Alam gunung seolah sedang tersenyum manis.

Kabut, gemericik sungai dan rintik gerimis berpadu dengan kicau burung, kini menyatu dengan aroma tanah yang menguar.

Petrichor melanda pusat hidu di otak kita. Petra itu batu dan ichor itu cairan para dewa. Sementara sains modern menjelaskan bahwa petrichor adalah bau tanah pertama saat hujan menyapa dan melepas geosmin yang merupakan produk metabolit dari milyaran bakteri aktinobakter dari spesies Streptomyces.

Dan anehnya aroma itu compatible dengan kinerja otak kita. Aroma itu menghanyutkan kita dalam rindu tanpa lagu, tapi lewat orkestrasi bau.

Aroma itu membawa pesan cinta nan sarat makna, dengan pesan nyata bahwa rindu adalah hak semua penghuni semesta.

Lalu bagaimana aroma itu dapat menstimulasi pusat asosiasi di otak kita? Sampai ada rasa, sampai muncul cinta.

Halaman Berikutnya >>>

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/

Minggu, 10 April 2022

Sikap Mindfulness: Mencintai Tanpa Menghakimi


Oleh Tauhid Nur Azhar 

Sabda Kanjeng Nabi: irhamu man fil ardl, yarhamkum man fis samaa. Sungguh dalam artinya. Bernas diksinya. Mengena sekali pesannya. 

Cintailah (Sayangilah) mereka yang di bumi, maka mereka yang di langit akan mengasihimu...

Hadist ini sejalan dengan dalil wa ma arsalnaka ila rahmatan lil alamin, bahwa pada hakikatnya kehadiran manusia ditujukan sebagai "agen" rahmat bagi segenap semesta sekalian alam. 

Kontribusi manfaatnya tidak semata hanya dapat dirasa di lingkungan terbatas, melainkan juga bersifat luas dan mampu melintas ruang yang semula kita anggap takkan mungkin teretas.

Lapis-lapis batas pengamatan memberikan perspektif baru tentang adanya cakrawala di balik setiap cakrawala. Mega kluster Laniakea adalah wadah bagai super kluster Virgo yang bahkan hari ini baru bisa kita cermati sampai The OPIK, awan materi batas Bima Sakti.

Dan di tengah itu semua bergaung sejuta tanda tanya tentang makna mencinta. Tentang siapakah gerangan hamba? Lalu apa yang menjadi keniscayaan yang sesungguhnya?

Wujil dalam Suluk Wujil Sunan Bonang bertanya pada Sunan Wahdat,

Kawruhana tatalining urip // ingkang aningali ing sarira // kang tan pegat pamujine // endi pinangkanipun // kang amuji lan kang pinuji // sampun ta kasapeksa //marmaning wong agung // padha angluru sarira // dipun nyata ing uripira sejati // uripira neng dunya.

"Ketahuilah, bahwa pegangan hidup adalah mengetahui diri sendiri, sambil tidak pernah melupakan sembahyang secara khusyuk. Harus kau ketahui juga, dari mana datangnya si penyembah dan Yang Disembah. Oleh sebab itu, maka orang-orang yang agung mencari pribadinya sendiri untuk dapat mengetahui dengan tepat hidup mereka yang sebenarnya, hidup mereka di dunia ini."

Jika mengacu pada suluk tersebut, menyembah itu harus tahu siapa yang disembah bukan? Harus sadar sepenuhnya tentang peran dan kehadiran. Tentang esensi dan jati diri.

Demikian sekelumit nilai yang dapat dipetik dari penggalan suluk Wujil karya putra Bong Swi Hoo dan cucu Maulana Maliq Ibrahim As Samarqandi.

Pertanyaan yang muncul dalam suluk itu sangat fundamental dan cenderung retorik. Dimana jawabannya harus dicari jauh ke dalam diri sendiri.

Sebagaimana perjalanan Werkudara ke dalam samudera makna sebagaimana dikisahkan dalam Dewa Ruci. Kisah yang berupaya menggambarkan konsep manunggaling kawula Gusti dengan cara membangun dialog antara entitas (Werkudara) dengan representasi consciousness-nya, Dewa Ruci. Tentu dialog yang terjadi sebenarnya adalah dialog retoris yang berkutat tentang proses pencarian jati diri.

Kisah Dewa Ruci ini sebenarnya adalah kisah adaptif yang tidak dapat ditemukan di naskah asli Mahabaratha yang ditulis Vyasa Krisna Dwipayana di India pada sekitar 400 SM.

Sementara Kisah Dewa Ruci yang menjadi bagian dari script para dalang Jawa merujuk pada tulisan Yasadipura I (ditengarai sebagai guru dari pujangga Ranggawarsita) dari Surakarta, yang hidup pada masa Pakubuwono III (1749–1788) dan Pakubuwono IV (1788–1820).

Kembali pada Suluk Wujil Sunan Bonang, peran dan esensi personal tercermin dari kegelisahan Wujil untuk segera mendapat ilmu makrifat karena sudah jenuh belajar syariat.

Padahal proses menuju makrifat itu perlu melalui penyucian jiwa atau nafs, lalu pemurnian qalbu, diikuti pengosongan pikiran dan ruh dari selain Allah. 

Istilah lain untuk metoda ini adalah mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk mengelola hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia. Hasil dari mujahadah ialah musyahadah dan mukasyafah.

Musyahadah ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya kepada Yang Satu (Ahad), sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya dalam hati.

Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu. (Hadi Susanto, 2018).

Maka Wujil pun berkisah pada gurunya tentang "kenekatan"nya mencari makna hidup, karena sudah tidak sabar terus disuruh mengaji "Alif".

Ya marma lunga ngikis ing wengi // angulati sarahsyaning tunggal // sampurnaning lampah kabeh // sing pandhita sun dunung // angulati sarining urip // wekasing Jati Wenang // wekasing lor kidul // suruping raditya wulan // reming neta kalawan suruping pati // wekasing ana-ora.


"Karena Sesungguhnya, pada suatu malam hamba pergi diam-diam untuk mencari rahasia daripada kesatuan, mencari kesempurnaan dalam semua tingkah laku. Hamba menemui tiap-tiap orang suci untuk mencari hakekat hidup, titik akhir dari kekuasaan yang sebenarnya, titik akhir utara dan timur, terbenamnya matahari dan bulan untuk selama-lamanya, tertutupnya mata dan hakekat yang sebenarnya daripada mati serta titik akhir dari yang ada dan yang tiada."


Demikian Wujil menyampaikan pada gurunya, Sunan Wahdat. Meski pada hakikatnya Wujil pasti sadar sepenuhnya jika manusia itu sesuai dalil adalah wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun.

Tugasnya adalah beribadah. Ibadah seperti apa? Ibadah yang kaffah yang melibatkan segenap potensi manusia dan jin yang telah dianugerahkan sebagai amanah.

Maka ikhlas menerima, melepas, atau ngekepi juga bagian dari ibadah, asal kita menjalaninya dengan tanpa menghakimi atau membutuhkan alasan yang kadang justru tidak diperlukan.

Sumber gambar:

Rabu, 30 Maret 2022

Menjadi Master Oogway




Oleh Tauhid Nur Azhar 

Menjadi Master Oogway adalah mengendalikan tanpa mengendalikan dan melarut dalam keselarasan. Menerima sekaligus mengolah. Tanpa daya sekaligus bertenaga.

Master Oogway mengajarkan kita tentang mengalir dan merasa tanpa keinginan memiliki dan memanipulasi. Semua berjalan sesuai dengan orkestrasi agung yang telah menyediakan banyak partitur untuk dimainkan.

Sementara kita dengan hasrat yang condong mendorong pemenuhan secara instan akan sulit memahami makna kosong adalah ada dan ada adalah kosong.

Saat hati dan jiwa masih terluka karena dunia tak berjalan sesuai dengan harapan kita, maka kita masih ada dalam penjara yang membuat kita sempit dan terbatas serta bahkan kehilangan daya hanya untuk sekedar mencicipi bahagia.

Sepasang suami istri saja punya pikiran tidak sama, bagaimana bisa ikhlas jika masing-masing merasa bahwa pasangannya semestinya seideal harapannya? Istri minta perhatian dengan dicium mesra setiap pagi. Sementara suami berpikir bahwa kebutuhan materi adalah hal realistis yang lebih penting dari sekedar drama.

Kita tak sadar bahwa sesungguhnya setiap entitas punya persepsi terhadap dirinya sendiri dan persepsi itu berkonjugasi dengan persepsi orang di sekitarnya.

Maka dalam filosofi Master Oogway, memiliki itu berarti kehilangan. Kehilangan kebebasan dari rasa takut kehilangan. Melepas bukan berarti tak peduli, tapi metoda belajar ikhlas untuk membersihkan berbagai distorsi yang merancui entitas dan juga identitas

Karena apa yang tak bisa lepas dari kita? Tidak ada.

Karena apa yang kita genggam adalah apa yang luput dalam perjalanan, dan yang tidak kita genggam akan selalu ada dalam bentuk dan tempatnya sendiri.

Satu hal yang menjadi sifat unik manusia adalah penyesalan. Kita semua tahu penyesalan itu idealnya adalah pelajaran, tapi dalam prakteknya penyesalan adalah siksaan.

Menyakitkan karena kita tahu dan sudah merasakan tapi tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi.

Algoritma kehidupan juga menawarkan banyak alternatif sebagai cabang pilihan, ini menambah potensi penyesalan karena kemungkinan asumtif pilihan dapat berkembang secara eksponensial.

Sumber gambar:
https://www.kolpaper.com/85923/master-oogway-background-2/

Rabu, 19 Januari 2022

Filosofi Tahu Bulat



Oleh Tauhid Nur Azhar 

Sebagai seorang anak yang lahir dan besar di Nusantara serta pernah berkesempatan ngumbara ke berbagai sudut mancanagara, saya tuh paling senang melihat dan memperhatikan manusia. Juga hewan, tumbuhan, serta alam sekitar tentu saja.

Sementara sebagai bagian dari alam semesta rasanya bahagia sekali jika dapat mengetahui sekelumit pengetahuan terkait berbagai hal, misal sebab akibat ataupun sekedar definisi dari suatu benda atau fenomena. Ada yang rumit dan ada yang dapat dipahami secara tidak sulit.

Ada yang perlu diungkit, ada yang dinamis seperti jungkat-jungkit, dan ada pula yang pengertiannya berpusar melilit.

Tapi TAHU adalah sesuatu. Mungkin Mang Rene, yang bernama lengkap Rene Descartes (kalau di Jawa mungkin namanya Rene Yo Le) atau dalam bahasa Latin sebagaimana banyak manuskrip di masanya ditulis, dikenal sebagai Renatus Cartesius, paham benar soal TAHU ini, maka ia pun bersabda: COGITO ERGO SUM. Aku berpikir maka aku ada. Aku ada karena aku berpikir. Berpikir berarti meNAHU. Pikir adalah pabrik TAHU.

Mang Rene ini unik, pemikir tapi pernah daftar tentara, 1617 jadi tentara Belanda dan pada masa perang 30 tahun menjadi tentara Bavaria. Justru saat jadi tentara itulah Mang Rene punya privilege untuk berpikir dan menulis.

Karya-karya besarnya antara lain Discours de la méthode dan Meditationes de prima Philosophia. Tapi mungkin banyak yang belum TAHU bahwa sang filsuf TAHU ini adalah bapak matematika modern yang sumbangan pemikirannya antara lain maujud dalam sistem koordinat Cartesius yang banyak digunakan dalam aplikasi kalkulus.

Mang Rene juga seorang neuroscientist, karena pernah menghasilkan karya besar tentang proses berpikir dalam naskah yang diberi judul Rules for the Direction of the Mind.

Tapi pada prinsipnya sih Mang Rene banyak bicara soal TAHU dan bagaimana untuk menjadi TAHU. Bumbu ikutannya mah banyak, ada diskursus logika sampai fallacy. Tapi bahasan kita hari ini adalah soal TAHU, meNAHU, dan dikeTAHUi.

Kalau dipikir-pikir seluruh siklus kehidupan manusia itu berpusar di pabrik TAHU bukan? Indera dikaruniakan dan dihadirkan untuk menghimpun data sebagai bahan baku perTAHUAN atau pengeTAHUan sebagai kata benda yang bisa menjadi adjektiva, mencerminkan sifat. Dengan kata kerja atau keterangan mengeTAHUi dan proses nya: mencari TAHU.

Kan kita tidak TAHU-TAHU paham, mengerti, dan bisa? Jadi semua proses adalah belajar, dan belajar adalah perancah untuk mengonstruksi TAHU. Setelah TAHU kita jadi MAU. Mau apa? MAU TAHU.

Demikian bukan?

Maka lahirlah motif, lahirlah ingin, lahirlah reward alias imbalan, lahirlah desire atau hasrat syahwat yang membuat jantung berdetak lebih cepat.

Imbalan dari proses adalah harapan yang terbumikan. TAHU adalah syarat lahirnya MAU yang berkorelasi kausalistik dengan imbalan atau penghargaan akan capaian yang merupakan apresiasi terhadap upaya untuk menubuhkan bayangan keinginan menjadi sebuah kenyataan. Aktualisasi diri yang menjadi bagian dari proses dan capaian.

Maka TAHU menjadi kata kunci eksistensi. TAHU juga menjadi platform esensi kesadaran, keberadaan, dan peran. TAHU menjadi nilai inti dari interaksi dan komunikasi.

Dari kacamata neurosains TAHU diawali dari indera yang memberi stimuli berupa aneka data dalam berbagai bentuk biofisika. Lalu ada perhatian yang diarahkan sehingga materi yang diterima akan diperhatikan. 

Salience network yang terdiri dari anterior singulata dan korteks insula akan memilah dan memilih data dan mengklasifikannya seperti Dewey mengklasifikasi buku sebagai sumber pustaka di perpustakaan. Dan selanjutnya data akan diolah menjadi memori dan serangkai cerita yang akan mewarnai otak kita.

Dalam diam yang tak hening, kadang kita larut dalam lamunan yang bahasa Jakselnya adalah self referential processing (Ekhtiari et al, 2016), dan memikirkan serta merancang masa depan, imagining future.

Pada saat itulah korteks singulata posterior, prekuneus, dan medial prefrontal korteks, serta korteks parietal inferior bahu membahu mengolah data menjadi pabrik TAHU masa depan. Kita jadi TAHU apa yang kita MAU, dan TAHU apa yang harus kita lakukan agar TAHU dan MAU bisa ADA dan mengADA. Kita menamainya CARA, atau boleh juga sih biar keren, disebut Metoda.

Untuk bisa punya CARA kita perlu ILMU yang didapatkan dari meracik TAHU dan bumbu-bumbu.

Maka kata orang-orang penganut Stoic, Stoicism, atau kita Indonesiakan saja menjadi Stoika, kebahagiaan itu bersumber dari hal-hal yang dapat kita kendalikan. Maka mengendalikan itu perlu metoda, perlu cara bukan? Iya kan Kang Zeno? Kang Epitectus, Boss Marcus Aurelius, dan Om Seneca sependapat kah? Jika sependapat, aman berarti ya?

Metodanya ya bisa melalui retorika, dialektika, sampai mengkaji secara fisika (nalar) dan etika serta estetika (rasa). Tapi intinya tetap TAHU apa yang kita TAHU, TAHU apa yang kita tidak TAHU, dan kadang ya yang sering sih tidak TAHU apa yang kita tidak TAHU. Memang ada juga sih yang tidak TAHU kalau kita TAHU.

Saya mungkin yang sering sok TAHU padahal tidak TAHU juga kadang saya pura-pura tidak TAHU kalau saya tuh TAHU. Banyak alasan untuk itu secara fisika dan etika bukan?

Maka TAHU yang mana yang semestinya menjadi TAHU ideal? Buat kita, baca manusia, ya tidak ada. Karena semua TAHU, pengeTAHUan, TAHU MAU dan MAU TAHU itu subjektif. Meski ada pengeTAHUan komunal yang dibangun melalui jejaring interaksi personal, tetapi TAHU tetaplah AKU, karena AKU tak TAHU kamu dan KAMU takkan pernah TAHU AKU. Karena kita sama-sama TAHU, oleh karena itu kita sama-sama tidak TAHU.

Bukankah segenap makhluk itu diciptakan berpasangan? Temasuk TAHU tentunya bukan? 

Seriously, TAHU adalah esensi. Nilai inti dari eksistensi. Bahkan sumber dari segenap proses kreasi. Kehadiran kita dan alam semesta kan bagian dari proses TAHU, mengeTAHUi, dan dikeTAHUi bukan?

Survivalitas saja kan lahir karena kita TAHU apa yang kita butuhkan untuk mempertahankan kehidupan bukan? Komunikasi dan bisnis hadir karena kita TAHU bagaimana cara kita menjalin simbiosis dalam sebentuk interaksi sarat kepentingan yang bersifat mutualis bukan?

Lalu pada gilirannya kita akan menyadari bahwa esensi dari TAHU, mengeTAHUi, dan dikeTAHUi itu adalah kehidupan dan keberadaan itu sendiri bukan? TAHU adalah kesadaran.

TAHU apakah yang paling lezat? TAHU BULAT tentu saja.

TAHU yang BULAT adalah sebentuk kesadaran yang dibangun oleh konstruksi pengeTAHUan yang sudah tak lagi bersudut dan berbidang. Tak ada garis dan nodus yang tak terpusat. Fokus. AHAD.

Digoreng dadakan. Spontan dan selalu segar. Tumbuh dan berkembang. Melaju seiring jaman. Adaptif terhadap dinamika kebutuhan, lapar goreng banyak, kenyang tak digoreng.

500 an, murah, mudah, terjangkau. Bisa didapatkan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

Demikian tulisan hari ini yang diendorse TAHU BULAT. Mohon jangan ditelan bulat-bulat, periksa dulu siapa tahu ada ulat, atau ada bagian yang disunat. Sudah ya, TAMAT. 

Sumber gambar:
https://www.kompas.com/food/read/2021/06/17/151100275/3-tips-goreng-tahu-bulat-kopong-agar-renyah-dan-mengembang