Jumat, 28 Juli 2017

Depresi dan 300 Juta Penduduk Dunia (Bagian 2-Selesai)


Oleh: Kadek Widya Gunawan




Terkait karakteristik gangguan, depresi memiliki variasi gejala tertentu yang salah satunya dapat terlihat dari gender individu. Menurut hasil kajian dari National Institute of Mental Health, Amerika Serikat (2016), perempuan lebih sering mengalami gangguan depresi daripada laki-laki. Hal ini terkait dengan siklus kehidupan dan pengaruh hormon pada perempuan. Perempuan yang mengalami depresi umumnya menunjukkan gejala kesedihan, perasaan tidak berharga, serta munculnya perasaan bersalah yang teramat sangat. Sedangkan pada laki-laki yang mengalami gangguan depresi, umumnya menunjukkan gejala sangat kelelahan, emosi tidak stabil yang terkadang termanifestasi dalam sikap mudah marah. Laki-laki dengan gangguan depresi juga mudah kehilangan ketertarikan dalam pekerjaan ataupun aktivitas yang disenanginanya, adanya masalah dalam siklus tidur, serta timbul berbagai perilaku negatif termasuk penyalahgunaan narkoba dan alkohol. Banyak laki-laki yang tidak mengenali gejala depresinya dan gagal dalam mencari pertolongan. Data dari National Institute of Mental Health di Amerika juga menunjukkan bahwa meskipun banyak perempuan yang berakhir dengan bunuh diri, namun jumlah pelaku bunuh diri dengan gender laki-laki ternyata lebih tinggi. Tingginya angka bunuh diri pada laki-laki disinyalir merupakan dampak dari ketidakmampuan laki-laki untuk mengenali gejala depresinya.

Selain dari segi gender, segi usia juga menjadi faktor pembeda terhadap pengaruh dari gangguan depresi pada individu. Orang yang berada pada usia paruh baya dan usia tua, biasanya menunjukkan gejala yang kurang jelas terkait depresi dan individu pada usia ini juga memiliki karakteristik penolakkan yang tinggi terhadap perasaan sedih. Namun, individu usia paruh baya biasanya memiliki kondisi medis tertentu, seperti darah tinggi ataupun sakit jantung, yang bisa saja disebabkan oleh /atau bahkan berkonstribusi terhadap tingkat depresi yang dialaminya. Lalu, anak-anak yang mengalami depresi menunjukkan sikap berpura-pura sakit, menolak untuk pergi ke sekolah, tidak mau jauh dari orangtuanya atau bahkan menunjukkan ketakutan yang mendalam akan kematian orangtuanya. Sedangkan, remaja dengan gangguan depresi biasanya terlibat masalah di sekolah, serta menjadi sangat sensitif secara emosional. Remaja dengan depresi juga biasanya menunjukkan gejala dari gangguan lain seperti kecemasan, gangguan makan, serta penyalahgunaan narkotika dan alkohol (National Institute of Mental Health, 2016).

Gangguan depresi memang merupakan gangguan kesehatan yang kompleks dan terkadang sulit untuk mengetahui apakah kita ataupun orang-orangg terdekat kita mengalaminya. Karena berbeda dengan gangguan kesehatan lain, orang-orang yang berjuang menghadapi depresi bisa saja terlihat sehat dalam kesehariannya. Namun dibalik senyum mereka, tersimpan jiwa pejuang yang sedang berusaha melawan suatu racun di dalam diri. Oleh karena itu dengan mengetahui gejala umum serta karakteristik gangguan depresi, diharapkan kita bisa lebih sadar dengan diri dan orang-orang terdekat sehingga, kita bisa mencari pertolongan atau memberikan support pada orang-orang terdekat yang kita kasihi.

Referensi:
Carne, K. (2017). Seven secrets of mindfulness: How to keep your everyday practice alive. London: Rider.

National Institute of Mental Health. (2016). Depression Basics. Bethesda: U.S. Department of Health and Human Services NIH Publication.

Hooton, C. (2017). Chester Bennington discusses his depression in 'final' interview: 'I can either just give up and f*cking die or I can fight'. http://www.independent.co.uk. 28 Juli 2017.

World Health Organization. (2017). Depression. http://www.who.int. 28 Juli 2017.

Sumber Gambar:
https://tinybuddha.com/blog/10-thinking-patterns-that-can-lead-to-depression/
Share:

0 komentar:

Posting Komentar