Senin, 05 Maret 2018

Terima Kasih Istriku (Belajar dari Perempuan)



Oleh Duddy Fachrudin

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan

Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci

Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa

Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya

Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku

Karena aku ingin kamu
Itu saja

(dibacakan Rangga di ending “Ada Apa Dengan Cinta”)

Pernahkah terbesit mempelajari perempuan? Tidak. Itulah yang saya pikirkan dulu. Namun kini seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia saya perlu mempelajarinya, mengenalinya, dan memahaminya. Pertanyaannya bagaimana dan dengan cara seperti apa?

Mengapa tidak mulai saja dengan melihat dan mengenali perilaku ibu?

Ibu: sifat, karakter, dan perilaku seorang wanita tercermin dari seorang ibu. Dialah orang pertama yang khawatir akan kondisi anak-anaknya. Ibu pula yang menolong kita pertama kali saat kita sakit. Kasih sayangnya tertumpah ruah. Cintanya tak bisa diukur karena begitu tulusnya ia mencintai kita. Tak heran Rasulullah Saw. menyebut kata “ibu” tiga kali sebagai orang yang paling penting bagi kita sebelum kata “ayah”.

Berikutnya, kita bisa mempelajari perempuan dari istri kita. Bagi yang telah menikah pasti dapat merasakan perbedaan antara kita sebagai suami dengan istri kita. Tidak mudah memahami satu sama lain, karena kadang ego masing-masing dapat mengalahkannya. Sang istri mengharapkan suaminya tidak hanya bekerja, tapi juga ikut membantu mengurus anak. Sementara sang suami bersikeras tak mau membantu karena ketika tiba di rumah selepas bekerja energi fisik dan psikisnya sudah terkuras sehingga tak ada waktu untuk menyambut permohonan istrinya. Itulah kenyataannya. Oleh karenanya, alm. Sophan Sophian mengatakan bahwa pernikahan adalah manajemen ketidakcocokan.

Mempelajari perempuan tidak lepas dari wanita-wanita pilihan yang pernah hidup di dunia ini. Kisahnya tertulis dalam artikel maupun buku-buku yang tak pernah lekang oleh waktu. Mereka adalah wanita-wanita terbaik yang memiliki kualitas surga. Misalnya saja Ibunda Khadijah, yang selalu setia menemani dan menjadi teman curhat Rasulullah Saw., manusia paling mulia itu mengalami guncangan saat awal-awal menerima wahyu.

Perempuan berbeda dengan laki-laki. Value utama perempuan adalah yang berkaitan dengan perasaan dan hubungan (relationship), sementara laki-laki menekankan power, competence, dan achievement, begitu kata John Gray, penulis “Men Are From Mars, Women Are From Venus”.

Maka sebagai seorang laki-laki, kita harus bisa memahami perempuan dari setiap kata yang terucap, dari raut wajah yang tergurat, dan dari air mata yang mengalir menuruni kedua pipinya. Dengan memahaminya, perbedaan bukan menjadi penghalang. Justru perasaan cinta dan sayang akan semakin besar.

Begitukah?

Mungkin...

Karena bagi seorang laki-laki, yang terpenting adalah meniatkan diri untuk menjadi pasangan terbaik baginya, bukan?

Dalam ending “Ada Apa Dengan Cinta”, kepergian Rangga untuk melanjutkan sekolah ke New York membanjiri air mata Cinta. Sesungguhnya, jauh-dekatnya jarak antara dua orang yang saling mencintai tidak akan membedakan rasa. Rasa itu tetap sama jika kita meniatkan cinta ini sebagai satu pijakan untuk meraih cinta-Nya.

Maka perempuan... ijinkanlah setiap bulir air mata yang menetes adalah karena-Nya. Dengan begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak ada yang perlu dirisaukan. Jalani saja perjalanan cinta ini dengan sederhana. Itu saja...

Saat kekhawatiran tiada, kebersyukuran terbit dan ia tak akan pernah terbenam. 

Sumber gambar:
http://momandwife.com/2011/10/free-printable-thank-you-card-download/
Share:

0 komentar:

Posting Komentar