Kamis, 01 Maret 2018

Terima Kasih Suamiku...


Oleh Nita Rahmat Fitriantini

Saat ini kita tengah dibuat berdebar dengan mewabahnya penyakit difteri dan isu pelakor (perebut laki orang). Yang disebutkan kedua mungkin jauh lebih membuat jantung berdebar bagi para istri. Jika difteri bisa dicegah dengan menjaga kesehatan dengan baik melalui vaksin, maka para istri bertanya, “Mungkinkah pelakor juga bisa dibasmi dengan vaksin?”. Seandainya ada vaksin untuk mencegah hadirnya pelakor, sepertinya akan laris diborong oleh ibu-ibu.

Karena sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang pas untuk kasus “wabah pelakor” ini, maka mari kita sejenak merenungkan, “Kira-kira apakah yang bisa menyebabkan seseorang tergelincir dari janji suci pernikahannya?”

Rupanya sudah banyak riset yang berusaha menjawab fenomena yang ujungnya adalah perselingkuhan ini. Beberapa riset menyimpulkan ada beberapa faktor yang umum dinyatakan sebagai penyebab seseorang berselingkuh. Mereka diantaranya yaitu berkurangnya rasa kasih sayang terhadap pasangan atau merasa sudah kehilangan rasa kasih sayang dari pasangannya (merasa diabaikan).

Lalu, bagaimana agar cinta dari pasangan tidak memudar? Solusi dari pertanyaan ini adalah “vaksin” perselingkuhan, terutama yang disebabkan hadirnya pelakor dalam kehidupan rumah tangga. Dan apakah “vaksin” itu? Apakah ia adalah penampilan yang selalu cantik di depan suami? Atau selalu memasakkan makanan kesukaan suami? Atau...?

Maka untuk menjawabnya, mari kita sejenak memutar masa-masa awal kita bergenggaman tangan usai akad nikah dengan pasangan kita. Indahnya...

Pada saat itu jantung kita berdebar dua atau tiga kali lipat dibanding biasanya. Lalu semua warna menjadi tampak indah, dan suara yang terdengar di telinga ibarat lantunan melodi lagu kesayangan. Apapun yang dilakukan dan diucapkan pasangan kita bak puisi penyair tersohor yang indahnya mengelus-elus kalbu. Rasanya kita tidak membutuhkan hal lain di dunia ini. Cukup melihat senyumnya yang aduhai yang membuat pipi merona, itulah surga. Seluruh tubuh dan jiwa ini bertasbih kepada-Nya. Berucap syukur tak terhingga karena telah diberikan pasangan dalam hidup.

Jika pada saat awal pernikahan kita begitu bahagia karena cinta, maka bagaimana dengan saat ini?

Berbahagialah jika kita masih merasakan keindahan, kenikmatan, dan kebersyukuran seperti yang dirasakan saat masa awal pernikahan. Namun, jika hal itu mulai berubah maka perlu kita perlu “disuntik vaksin” cinta yang bukan hanya mencegah dan mengenyahkan badai perselingkuhan, tapi juga semakin membuat kehidupan rumah tangga mengasikkan.

Maka vaksin tersebut adalah merasa cukup.

Merasa cukup berarti kita lebih bersyukur terhadap apa yang sudah kita miliki dan yang akan kita terima di kemudian hari. Dan merasa cukup itu menyederhanakan kehidupan yang kita jalani.

Karena sederhana itu indah, maka cukupkan kriteria bahagia kita dengan melihat senyum pasangan kita. Dan tambahkan rasa syukur kita setiap harinya terhadap segala sikap baik dan khilafnya. Bukankah Allah berjanji akan menambah nikmat dari-Nya jika kita pandai bersyukur?

Inilah vaksin sederhana bernama qanaah. Merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan pada kita, dalam hal ini berupa pasangan yang apa adanya dia. Pasangan kita yang Allah anugerahkan. Dia, dan bukan yang lain. Cukupkan rasa bahagia kita dengan dia, yang Allah kirimkan dengan cara yang indah setelah episode panjang dalam pulahan kali gelaran sajadah yang basah dengan linangan air mata kita saat menantinya hadir.

Vaksin ini juga memerlukan tambahan dosis, yaitu tawakal: berserah kepada takdir terbaik dari-Nya. Dia yang pertemukan kita dengan pasangan kita, dan jika Dia hendak ambil dengan berbagai cara, maka amatlah mudah karena Dia lah Dzat Yang Maha Kuasa. Dan jika Dia berkehendak bahwa pasangan kita adalah cinta sejati hingga ke surga, maka tak ada satu pelakor pun yang sanggup memisahkan kita.

Maka mari kita titipkan dengan penuh rasa syukur, yakin, dan berserah seutuhnya rumah tangga kita kepada Sang Pemilik Cinta sejati.

Sumber gambar:
https://www.thefreshquotes.com/love-you-husband/thank-you-for-being-you-for-sharing-your-love-with-me-i-love-you-husband/
Share:

0 komentar:

Posting Komentar