Senin, 12 November 2018

[Refleksi Hari Ayah] Bapak Juara Satu Sedunia (Bagian 1)


Oleh Tauhid Nur Azhar

Semalam teman saya yang gagah, yang pernah mengabdi sebagai tentara infanteri dan tentu tangguh sekali, berkata bahwa ia rindu Ayahnya.

Banyak hal yang hanya dapat dikenangnya. Banyak hal yang hanya bisa dibaginya dengan sang Ayah; suka, duka, derita, juga gembira. Demikianlah adanya. 

Ternyata saya pun mengalami hal serupa. Saya memang anak Bapak dalam artian harfiah. Anak yang menempel pada Bapaknya. Anak yang beruntung karena memiliki idola yang bisa dibanggakan bukan karena harta, jabatan, ataupun sekedar kerupawanan. 

Bapak yang justru sederhana, bersahaja, dan apa adanya. Pejuang diam yang tak pandai merangkai kata. Yang menunjukkan kasih sayang dengan menggendong sepanjang jalan saat lutut saya terluka kena knalpot motor yang membara. Atau hanya duduk diam melihat saya berenang di sungai Toraut di tengah hutan Dumoga. 

Bapak yang hanya berbinar saat anaknya menjadi murid teladan kabupaten dan pada akhirnya propinsi. Bapak yang duduk tenang saat anaknya diwisuda sebagai lulusan terbaik sekaligus generasi pertama program Pascasarjana disiplin ilmu yang baru ada di Indonesia. 

Tidak banyak bicara tapi jujur dalam laku dan lurus dalam perbuatan. Kadang itu semua melebihi ribuan kata manis berbunga-bunga yang lebih tepat menghiasi halaman-halaman buku cerita. 

Bapak tidak pernah menasehati soal kejujuran dan integritas, namun dibawanya saya ke tempat kerja dan melihat bahwa beliau membongkar semua konstruksi yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan. 

Beliau tidak pernah mengumbar janji dan jargon manis dalam bentuk orasi, tidak, tapi setiap kali berpindah tempat tugas banyak orang melepas kami sekeluarga dengan linangan air mata. 

Dan sampai saat ini setelah Bapak tiada, kemana pun saya pergi di Indonesia selalu ada sahabat-sahabat dan anak didik Bapak yang dengan tulus hati menyambut saya dengan tangan terbuka. Terkadang melebihi saudara. Satu kalimat pendek yang sudah saya hafal karena selalu diulang oleh para rekan Bapak: "...saya banyak belajar dari Pak Sus." Itulah nama panggilan Bapak saya. 

Bagi saya itu hal yang aneh. Bapak saya jarang bicara panjang lebar, hanya senyum dan mendengarkan lalu sesekali melontarkan pandangan dan rencana yang detil. Hemat dalam kata berlimpah dalam karya. 

Usai gempa besar melanda Sulawesi Tengah, beberapa sahabat keluarga mengirimkan foto-foto dari karya konstruksi Bapak berupa rumah panggung yang utuh tidak kurang suatu apa. 

Dan Bapak pun tidak banyak bertanya saat saya mohon izin untuk menikah di usia yang amat muda. Hanya senyum dan mendoakan pilihan saya adalah yang terbaik. 

Bahkan Bapak sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan saat saya memilih untuk menekuni aktivitas yang bersifat akademis tinimbang menjadi orang klinis yang hidupnya bisa dijamin kinyis-kinyis. 


Sumber gambar:
https://isha.sadhguru.org/in/en/wisdom/article/fathers-sons-karan-johar-conversation-sadhguru
Share:

0 komentar:

Posting Komentar