Senin, 11 Januari 2021

Cara Meningkatkan Kualitas Motivasi & Kepribadian Calon Dokter (Bagian 1)


Oleh Duddy Fachrudin

Alkisah, seorang remaja, mahasiswa kedokteran bernama Siro tengah gundah gulana. Nilai-nilainya kurang memuaskan di tahun pertamanya. Meski begitu ia dapat naik ke semester 3.

Meski nilainya tidak sebaik teman-temannya, pada awal tahun kedua studinya, Siro mulai mengikuti berbagai organisasi. Ia menjadi pengurus BEM dan aktif pada kegiatan ekstrakurikuler olahraga.

Ia sempat meminta saran kepada kakak kelasnya, apakah fokus pada pencapaian akademik atau juga ikut organisasi di kampusnya. Kakak kelasnya menyarankan agar ia aktif berorganisasi dengan tujuan mendapatkan pengalaman serta belajar untuk berinteraksi dengan orang lain. Bukankah, dokter adalah pekerjaan sosial yang sangat menekankan humanisme?

Siro mengikuti masukan dari kakak kelasnya itu. Sembari ia juga mulai belajar mengenai self-development. Setiap bulan ia mewajibkan untuk membeli dan membaca satu buku pengembangan diri.

Sampai suatu ketika, Siro sedang membaca buku motivasi yg berjudul "Mengubah Kegagalan Menjadi Kesuksesan". Ia sangat tertarik dengan buku tersebut, sampai-sampai menerapkan satu per satu tips yang ada dalam buku.

Setelah menamatkan dan mempraktikkan isi buku, Siro rupanya masih penasaran. Ia ingin bertemu penulisnya langsung, kemudian meminta tips dan rahasia agar bisa memiliki motivasi yang tinggi dan menjadi mahasiswa kedokteran yang sukses secara akademik maupun organisasi.

Sampai akhirnya Siro menghubungi penulis buku tersebut yang tiada lain adalah seorang psikolog. Psikolog itu sangat baik dan mau membuat janji untuk bertemu Siro.

Pada hari yang ditentukan, Siro begitu bersemangat untuk bertemu penulis buku. Sesampainya di rumah sang penulis, ia menceritakan kegelisahannya.

"Jadi saat ini saya adalah mahasiswa kedokteran yang memiliki nilai yang tidak terlalu bagus. IPK saya 2.3. Dengan nilai yang kecil ini kadang saya minder dan ingin fokus saja memperbaiki nilai. Namun di sisi lain, saya juga ingin ikut berorganisasi sehingga bisa menambah pengalaman saya.

Saya sangat senang sekali membaca buku ini. Buku ini membantu saya untuk bisa berubah menjadi pribadi lebih baik. Tapi... Ada satu hal yang ingin tanyakan, adakah tips dan rahasia yang masih belum dituliskan dalam buku ini sehingga bisa saya praktikkan?"

Sang penulis buku menyadari dan merasakan apa yg dialami Siro. Ia berkata, "Saya sudah memberikan semua tips untuk pembaca terapkan. Mohon maaf tak ada yang bisa saya berikan lagi untuk anda."

Mendengar hal tersebut Siro kecewa...

"Tapi..." Ucap penulis lagi, "Saya akan memperkenalkan seseorang kepadamu. Orang tersebut dapat membuatmu berubah, bangkit, dan juga menyelesaikan konflikmu. Oya, orang itu juga akan membuatmu memiliki motivasi yang luar biasa dalam hidup."

Mendengar hal itu Siro antusias. "Dimana... Dimana saya dapat berjumpa dengan orang itu?"

Sang penulis terdiam sejenak. Lalu ia menjawab pertanyaan pemuda di depannya.

"Kamu bisa menemuinya di ruangan yang ada di sudut rumah ini. Melangkahlah lurus dari sini. Setelah itu belok kiri. Dan di situ ada sebuah ruangan. Masuklah. Kamu akan menemui orang yang dapat mengubah hidupmu."

Siro mengucapkan terima kasih. Lantas ia bergegas pergi ke ruangan yang dituju. Ia berhenti sejenak di depan pintu ruangan. Hatinya deg-degan. Perlahan dibukanya pintu itu. Ruangan itu besar dan nampak gelap. Ditutupnya pintu dan dicarinya tombol lampu. Perlahan ia nyalakan lampu. Dan...

Siro menemui orang itu. Ia sedang menatapnya. Memandang orang yang dapat mengubah hidupnya, yang membuatnya lebih termotivasi dalam hidup, dan bisa menyelesaikan segala masalahnya.

Siro sekali lagi memandangnya. Nampak di depannya sebuah cermin. Kini ia mengerti apa maksud sang penulis buku.

Halaman selanjutnya >>>

Sumber gambar:
https://www.usnews.com/news/healthcare-of-tomorrow/articles/2016-12-20/high-rates-of-medical-student-depression-what-do-they-say-about-our-health-system

Share:

0 komentar:

Posting Komentar