Senin, 11 Januari 2021

Cara Meningkatkan Kualitas Motivasi & Kepribadian Calon Dokter (Bagian 2, Habis)


Oleh Duddy Fachrudin 

Motivasi sederhananya adalah motive to action. Niat atau dorongan untuk berubah yang dapat muncul dari internal maupun eksternal. Motivasi juga berupa alasan tertinggi mengapa seseorang melakukan sesuatu.

Contoh seorang mahasiswa kedokteran memiliki motivasi mendapatkan nilai IPK 3,5. Alasan ia mengapa ingin mendapatkan nilai 3,5 adalah agar ia bisa mendapat beasiswa. Jadi mendapat beasiswa dapat mendorong seseorang untuk mendapatkan nilai IPK 3,5.

Seyogyanya motivasi bersumber dari dalam diri, karena biasanya motivasi yang bersifat internal lebih kuat dibandingkan yang berasal dari luar dirinya.

Jadi mau memiliki nilai tinggi, atau aktif berorganisasi, coba tanyakan motifmu, niatmu. Karena motif ini mendorong seseorang untuk bisa bergerak dan melakukan perubahan dalam hidupnya.

Motivasi perlu dikelola atau dievaluasi. Kadang-kadang motivasi luntur juga, atau seperti yoyo, naik dan turun. Salah satu yang bisa digunakan sebagai sumberdaya dalam mengelola motivasi, yaitu kita perlu mengenal sejauh mana diri kita. Mengenal kelebihan dan kekurangan, minat, hobi, impian. Dan yang paling penting mengenal kepribadian.

Mungkin agak kompleks jika kita berbicara tentang kepribadian. Mudahnya dalam kepribadian ada yang namanya subkepribadian. Subkepribadian ini bisa dikatakan sebagai karakter diri kita.

Manusia memiliki karakter yang beragam. Kajian mengenai karakter sendiri dalam psikologi semakin luas, khususnya setelah Seligman membuat teori mengenai Psikologi Positif. Dalam kajian tersebut kita dapat melakukan pengukuran diri dan mengenal lebih jauh karakter-karakter positif yang telah diklasifikasikan oleh Seligman, dan koleganya.

Maka ijinkan saya berbagi satu tools yang bisa digunakan teman-teman mahasiswa kedokteran agar teman-teman mengenal lebih jauh mengenai diri teman-teman.

Silahkan buka:
https://www.viacharacter.org/survey/account/register  

Dan kemudian melakukan survei online mengenai character strength.

Ada setidaknya 24 karakter dalam 6 virtue (kebajikan), yaitu wisdom, courage, humanity, justice, temperance, dan transcendence.

Sebagai calon dokter, tentu setidaknya perlu memiliki virtue humanity, yang didalamnya terdapat karakter love, kindness, dan social intelligence. Bagaimana jika tidak? Maka perlu adanya evaluasi sekaligus menganalisis diri ini. Selain melakukan perenungan, dapat juga kita bertanya kepada orang lain, "Apa yg bisa saya lakukan untuk memunculkan dan menguatkan karakter ini?" 

Salah satu tumbuhnya karakter karena adanya faktor belajar dan latihan. Keteladanan pun dapat dijadikan sarana internalisasi karakter. Maka pilihlah seseorang yang memiliki karakter yang ingin kita tiru, amati, dan ikuti bagaimana ia berpikir dan berperilaku. Strategi ini dinamakan dengan modeling

Pentingnya memiliki karakter yang sesuai baik itu saat masih menjadi mahasiswa atau dokter nanti adalah bekal keterampilan dan kompetensi sikap. Pada saatnya kita tidak dinilai hanya dari pemahaman tentang sebuah ilmu, tapi juga memiliki kecerdasan berbasis emosional dan spiritual. 

Keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ akan menjadi pemandu menjalani kehidupan dan profesi menjadi dokter. Apalagi dokter adalah seorang community leader, pemimpin di masyarakat yang sudah tentu bagi masyarakat umum merupakan profesi mulia, dan karena ia adalah pemimpin maka haruslah insan yang solutif (memiliki solusi) terhadap permasalahan yang nampak (yang bukan hanya terkait permasalahan kesehatan).

Pada akhirnya, saatnya bagi kita semua untuk hening sejenak, menanyakan motif dan alasan menjadi dokter, mengikuti organisasi, menumbuhkembangkan karakter tertentu, dan mengasah kecerdasan secara holistik yang meliputi IQ, EQ, dan SQ.

Sumber gambar:
https://www.usnews.com/news/healthcare-of-tomorrow/articles/2016-12-20/high-rates-of-medical-student-depression-what-do-they-say-about-our-health-system

Share:

0 komentar:

Posting Komentar