Rabu, 10 Februari 2021

Captain Afwan dan Ketercapaian Surga


Oleh Duddy Fachrudin 

"Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga bila tidak shalat 5 waktu."

Bagi Capt. Afwan, shalat adalah sistem navigasi paling canggih yang dapat menghantarkan manusia pada surga, dan juga tentunya pada Tuhan.

Surga dapat berupa suatu tempat yang telah digambarkan dalam kitab suci. Surga juga bisa dimaknai secara sederhana, yaitu suatu kondisi pada diri maupun lingkungan yang damai, tenteram, penuh kasih sayang, kehangatan, kelembutan. keindahan, senyum, serta tawa.

Di dalam surga tidak kekerasan, kejahatan, peperangan, konflik, eksplorasi dan eksploitasi, dan saling sikut menyikut demi pemenuhan kebutuhan.


Maka sesuai dawuh Capt. Afwan, shalat suatu prasyarat agar manusia tercegah dan mampu mengelola dirinya dari perilaku keji dan munkar (Al-Ankabut: 45). Karena itu pula, shalat (dan sabar) digunakan sebagai penolong (mencegah dari perilaku yang tidak sesuai norma tersebut) (Al-Baqarah: 45). 

Tapi... mengapa kenyatannya banyak manusia yang shalat tapi hidupnya tidak damai dan justru melakukan kejahatan, atau korupsi misalnya. 

Pada tahap ini kita perlu mengevaluasi, jangan-jangan kita belum benar-benar melakukan shalat dengan benar. 

Maka...

setinggi apapun kamu terbang (sesukses apapun dirimu, sehebat apapun ilmumu, sebanyak apapun hartamu), jika belum shalat (dalam aktivitas kehidupanmu), kamu tidak akan pernah merasakan surga (kedamaian). 

Shalat itu... bukan dilakukan, tapi didirikan. 

Berdiri itu tegak, sigap, waspada, dan penuh kesadaran. 

Berdiri itu berarti attending... hadir sepenuhnya. 

Sumber gambar: 
http://www.mindfulnesia.id/2020/06/virus-berdamai-dengan-manusia.html 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar