Jumat, 19 September 2025

Thawaf Suci



Oleh Duddy Fachrudin 

Apakah yang paling dibenci oleh manusia?

Pertanyaan itu kemudian direspon dengan jawaban: keinginannya tidak tercapai.

Memang tidak semua menjawab dengan hal tersebut. Tapi selalu ada orang yang menjawab seperti itu.

Terjadi kesenjangan ataupun gap yang kerap kemudian menggerus keseimbangan jiwa. Mode anak dalam tubuh dewasa manusia meronta berharap ia bisa mendapatkan apa yang dipinta. Namun apa daya, realita tak seindah harapnya.

Sebelas tahun lalu saya berada di Lawang, Malang. Bukan untuk mendaki Gunung Arjuno-Welirang, melainkan belajar pada mereka yang jiwanya gersang.

RSJ Radjiman Wediodiningrat pagi itu seperti biasa ramai. Salah satu bangsal yang saya jumpai pun menampakkan keceriaan. Penghuninya menyapa kami, beberapa melemparkan canda.

Ada seorang pasien, usianya masih sangat muda. Ia bercerita tentang mimpi dan cita-citanya. Sayangnya, itu hanya ada dalam angannya. Entah persisnya peristiwa seperti apa yang terjadi, namun dukungan keluarga tentang cita-citanya seolah tak ada.

Ketidakmampuan dalam menerima realita yang membawanya kemudian "menggelandang" di jalanan sampai akhirnya "tinggal sejenak" di rumah sakit itu. Sebagai sesama "gelandangan", saya sangat memahami perasannya. Kecewa pasti, kesal iya. Segala rasa berkecamuk mencambuk hati hingga terluka.

Namun ini hanya akan terus menambah derita ketika kita larut dan termelekati serta tidak belajar untuk ikhlas menerima. Tuhan kuatkan aku untuk mengubah hal-hal yang dapat aku ubah, ikhlaskan aku untuk menerima yang tidak dapat aku ubah.

Menerima bukan berarti pasrah dengan keadaan begitu saja. Melainkan dengan kesadaran mengijinkan segala rasa itu hadir, tanpa penolakan apalagi penghakiman. Di sinilah kejernihan hati dan pikiran dibutuhkan. Dan jernihkan pikiran serta hatiku untuk dapat membedakan keduanya.

Maka kita perlu belajar pada mereka yang thawaf saat berhaji. Berjalan mengelilingi ka'bah sebanyak tujuh kali yang esensinya ialah memusatkan diri pada kesejatian. Mengapa? Karena acapkali hidup yang dijalani hanya berfokus pada diri saja. Manusia sebagai pusatnya. Sehingga ketika kebutuhan diri tak terpenuhi yang ada adalah emosi tak terkendali.
 

Meletakkan segala ingin, dan mengijinkan diri untuk ridha dengan segala kehendak-Nya ternyata kunci untuk bisa bertumbuh sebagai manusia. Pada akhirnya manusia itu kelak memiliki jiwa sindara (sindoro: suci).

Lalu hatipun bertanya: bagaimana caranya? Bagaimana saya bisa meletakkan dan bisa menjadi manusia yang ridha?

Sumber video:

Senin, 19 Mei 2025

Wellness Trip: Merajut Makna di Rute Rahasia


Oleh Duddy Fachrudin 

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." (Forrest Gump)

Apa jadinya jika kita sudah mengetahui apa yang akan hadir dalam kehidupan kita, seperti halnya rezeki, jodoh, dan segala takdir? 

Monkey D. Luffy akan berhenti berlayar mengarungi lautan jika ia mengetahui seperti apa wujud dari One Piece, harta karun berharga dambaan semua bajak laut. "Aku akan berhenti menjadi bajak laut! Aku tidak ingin melakukan petualangan yang membosankan seperti itu!" kata Luffy.

Hidup menjadi menarik saat segalanya masih menjadi misteri. Dan karena itu pula manusia diperjalankan oleh Tuhan untuk menyibak rahasia demi rahasia yang telah disiapkan oleh-Nya.

Dan untuk melakukan perjalanan itu diperlukan sumberdaya sehingga manusia mampu menempuhnya sengan riang dan suka cita. Segala potensi berupa penglihatan, pendengaran, serta hati ibarat air telaga yang kemudian dibawa dalam perjalanan hidup manusia. Pun potensi kebaikan atau senantiasa berada di jalan yang lurus (hanif) merupakan karakter default yang sudah ditanamkan oleh Sang Pencipta.

Inilah modal utama manusia untuk mengarungi kehidupan yang serba tidak pasti. Apalagi perjalanan mengharuskan kita melewati rimba yang asing dan menyusuri goa yang gelap. Kemampuan untuk senantiasa sadar amat sangat diperlukan. Di sinilah kita perlu hati-hati dan selalu wawas akan diri.

Mengawasi dan mengamati segala lintasan pikiran yang bisa mendistraksi dari tujuan utama kita menyibak misteri dan rahasia. Ketidakmampuan kita dalam niteni dapat menggoyahkan keseimbangan yang mengakibatkan kita tergelincir dan jatuh ke lorong vertikal goa. Sampai akhirnya manusia sadar bahwa ternyata waktu hidup di dunianya telah habis dan belum menemukan tujuan yang sesungguhnya.

Begitulah perjalanan dengan segala tantantangannya. Bahkan setelah kita berhasil melewati goa dan kembali mendapatkan sapa dari cahaya matahari, kita beranggapan perjalanan kita sudah usai. Padahal "One Piece" nya belum ditemukan.

Lalu sebenarnya dimana lokasi harta karun itu?

Sang Maulana bertutur:
Ayat-ayat Tuhan itu tersimpan di hati langit yang paling rahasia.

Batin mengatakan:
Rasanya tidak mungkin kita mengjangkaunya. Adalah kemustahilan untuk meneruskan perjalanan ini. Apalagi disorientasi kemudian hadir mengaburkan visi.

Maka memeluk diri kemudian bersandar pada pinus yang kaya akan fitonsida merupakan jeda untuk mengisi kembali energi yang terkuras. Tak ketinggalan pula untuk bercerita dalam kata di selembar surat cinta tentang segala yang telah dijalani:

"Hai kamu... Terima kasih sudah menjadi manusia. Apapun yang telah dilalui itu membuatmu semakin menjadi manusia. Dan perjalanan ini... masih berlanjut, kita akan melangkah bersama di kehidupan yang penuh rahasia dan menawarkan berbagai kejutan."

Perjalanan pun dilanjutkan untuk menemukan rahasia demi rahasia kehidupan. Dan seperti kata Forrest Gump, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita dapatkan. Asyik, bukan?

Sistem navigasi pelayaran niscaya dan perlu ada agar di setiap langkah perjalanan berujung berkah. Di persimpangan manusia mampu untuk mengambil keputusan yang tepat sehingga meminimalisir tersesat. Meletakkan ego dan meminta bantuan kepada orang lain atau masyarakat bukan berarti menurunkan derajat.

Manusia sejatinya adalah arkeolog yang melakukan ekskavasi untuk mengetahui sejarah dan budaya peradaban serta harta karun tersembunyi. Maka menyusuri rimba dan goa merupakan bentuk syukur dan cinta kepada Sang Maha.

Dikisahkan terdapat sebuah peninggalan peninggalan kerajaan di masa lalu. Warisan tersebut adalah harta karun yang paling berharga. Para arkeolog di seluruh dunia mencarinya karena mendengar kabar bahwa dengan memiliki harta karun itu akan membuatnya bahagia .

Sampai akhirnya, seorang arkeolog bersama-sama berhasil menemukannya di kedalaman 100 meter dari permukaan bumi di dekat istana kerajaan.

Harta karun itu disimpan dalam sebuah kotak yang digembok dengan sangat kuatnya. Perlu satu hari sang arkeolog serta bekerja untuk membuka kotak itu.

Akhirnya kotak itu terbuka... dan isinya adalah... bukan emas, bukan perak, bukan pula permata kerajaan, melainkan sebuah batu pipih yang lebar berwarna putih yang ditulis dengan huruf Cina kuno.

Tulisan tersebut ternyata berupa 3 pertanyaan kaisar. Berikut pertanyaannya:
1. Kapan saat-saat paling penting dalam hidupku?
2. Siapakah orang yang paling penting dalam kehidupan?
3. Pekerjaan apa yang paling penting di dunia ini?


Arkeolog dengan dibantu seorang ahli bahasa menyelesaikan membaca ketiga pertanyaan itu. Ia tampak bingung dan berkata dalam hati, 'Apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan ini?'

Karena bingung ia meletakkan kembali batu itu ke dalam kotak. Saat ia mengembalikan batu ke dalam kotak, ia melihat rangkaian kalimat yang ditulis sangat kecil. Secara langsung saja, ia memberi tahu ahli bahasa dan meminta untuk membacakan kalimat-kalimat itu.

Secara hati-hati, dengan menggunakan kaca pembesar ia mengucapkan kata demi kata:
1. Saat-saat terindah dalam hidupku adalah saat ini
2. Orang yang paling penting dalam hidupku adalah siapa pun orang yang bersamaku saat ini
3. Pekerjaan yang paling penting di dunia adalah melayani


Tak terasa kita sampai di penghujung kisah. Air terjun kehidupan yang tersembunyi di sudut pegunungan telah kita temukan. Dan kelak suatu saat kita akan bercerita kepada mereka tentang perjalanan rute rahasia.

Sumber gambar:
Wellness Trip Batch 7: Jelajah Rute Rahasia, Dokumentasi pribadi

Rabu, 22 Januari 2025

Menyelami Sejenak Ruang Bernama Kehidupan #bagian 1

Oleh Duddy Fachrudin 

Di akhir tahun saya mendapat tawaran mengajar psikologi untuk korporasi di empat daerah negeri ini. Dua diantaranya di luar pulau Jawa. Alhamdulillah, dari keempatnya terealisasi satu saja.

Jika keempatnya terlaksana tentu sangat senang sekali. Apalagi psikologi sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan ini diperlukan setiap orang di jaman yang serba tak pasti. Namun karena ketidakpastian pula, ketiganya urung terjadi.

Dalam kondisi seperti ini yang bisa dilakukan hanya menerima, bahwa segalanya tidak sesuai rencana, sambil kemudian terus menata, memperbaiki diri dari ke hari sehingga siap untuk menyambut mentari.

Meski, setiap hari bisa saja yang datang tak hanya mentari. Mungkin ia yang hadir adalah kecewa dan rasa frustasi. Atau cemas serta depresi. Kata Rumi, mereka semua merupakan tamu yang perlu disambut dengan hangat dan riang gembira. Memeluk derita sama halnya merangkul bahagia.

Namun, bagaimana mungkin orang biasa seperti Judin paham mengenai konsep itu. Laki-laki yang hanya berpenghasilan 30 ribu per harinya itu harus menghadapi kenyataan yang menyayat sendinya. Hutang yang menumpuk diwariskan oleh orangtuanya. Sejak ayahnya meninggal, ia mengambil alih nahkoda rumah tangga yang oleng bagaikan Titanic setelah menabrak gunung es di lautan luas itu.

Sore itu ditemani Juwita, Judin mengungkapkan gelisahnya. “Sebenarnya kalau mau kita bertiga, ya kakak dan adikku berjuang bersama melunasi hutang-hutang itu.”

“Mbok sendiri bagaimana?” tanya Juwita.

Dalam duduknya Judin mengehela nafas teringat keinginan kuliahnya dicegah oleh ibunya sendiri. Kedua tangannya menyangga tubuhnya yang ringkih. “Andai saja aku kuliah Wit! Setidaknya aku bisa memperbaiki keadaan sekarang.”

Berkali-kali Judin menilai dirinya bodoh dan tak bisa apa-apa. Namun dibalik itu ia yang menanggung segalanya.

Kehidupan itu… sebenarnya apa? Tanya Judin dalam relung hatinya. Sementara senja mulai menyapa dirinya serta Juwita.

Pun tanya itu pula yang kemudian direnungkan oleh para pembelajar dari berbagai generasi di sebuah korporasi, suatu hari akhir tahun itu.

“Perjalanan!” seru seorang anak muda. Di satu sisi, seorang laki-laki berusia 50an, berkata bahwa hidup ialah kebersyukuran.

“Hidup itu stres ya Wit,” Judin kembali mengungkapkan keluhnya.

Bersambung…

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/

Sabtu, 28 Desember 2024

Kekuatan Afirmasi


Oleh Duddy Fachrudin & Mindfulnesia Walking Group 

Dalam memotivasi diri serta orang lain, kata-kata menjadi sarana yang bisa menjadi catudaya penggerak mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Buku “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia” memberikan banyak contoh bagaimana afirmasi melalui kata-kata sangat dianjurkan untuk diucapkan. Seperti kisah One Piece, dimana Luffy seringkali berkata “Aku akan menjadi Raja Bajak Laut!”. Meski kemudian diremehkan dan ditertawakan, nyatanya sugesti tersebut menjadi bagian pelayaran serta petualangan yang tidak mudah dan penuh dengan tantangan.

Contoh lainnya yang dituliskan dalam buku tersebut ialah afirmasi yang selalu diucapkan oleh Mohammad Ali saat bertanding melawan George Foreman. Pertandingan itu ibarat David versus Goliath, karena Big Foreman sepertinya akan mudah meng-KO Ali yang “kecil”. Namun rupanya Ali memiliki strategi yang tiada lain mengucapkan kata-kata penuh energi. “Ayo, mana pukulanmu!”, “Pukulanmu tidak menyakitiku!”, Ali mengatakannya sembari memamerkan moncongnya di depan Foreman. Prediksi KO memang benar terjadi. Tapi berlaku untuk Foreman. Ali berhasil memukul telak lawannya di ronde ke-8, setelah sebelumnya “hanya” menghindar dari hantaman Foreman[1].

Sebagai pendaki gunung jelata yang gear pendakiannya apa adanya, afirmasi ke diri juga sangat mempengaruhi. Contoh saja begini: “Puncak memang bukan tujuan, tapi tidak sampai puncak keterlaluan”. Atau saat lelah melanda hati ini kemudian berkata, “Sedikit lagi!”. Dan benar saja saat energi sepertinya sudah habis, tiba-tiba tubuh kemudian bangkit dan melangkah lagi.

Dan sekali lagi, kekuatan kata-kata digunakan dalam pendakian kali ini. Pendakian yang dibilang tidak sulit karena gunung yang didaki bukan gunung yang berketinggian 3000 mdpl. Bukan juga 1000 hingga 2000-an mdpl dengan jalur yang “pedas”. Gunung ini, atau lebih layak disebut bukit berketinggian 451 mdpl. Jajar Sinapeul namanya.

Pendakian kali ini bertajuk “Mindfulnesia Trail Walk”, tujuannya untuk meningkatkan kualitas kesehatan mental. Karena jalan kaki sendiri memang salah satu aktivitas fisik yang mudah dan murah, serta memiliki manfaat yang bagus sekali dalam meregulasi emosi. Bahkan berjalan kaki selama 10 menit saja dapat meningkatkan energi serta kualitas suasana hati[2].

Puncak Gunung Sinapeul. Itulah tujuan kami. Lokasinya tepat di atas Desa Ujungberung Blok Sinapeul. Terdapat dua cara menujunya dari rumah. Pertama ialah menggunakan kendaraan selama 20 menit dan menitipkannya di salah satu rumah warga. Kedua melalui berjalan kaki selama 2 jam menyusuri kampung, sawah, kebun, bukit kuda, hingga akhirnya tiba di blok Sinapeul. Kami memutuskan untuk menggunakan cara kedua.

Setelah hampir 10 km berjalan kaki, kami tiba di lokasi. Suatu kawasan wisata durian yang terkenal di Kabupaten Majalengka. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Puncak Jajar Sinapeul, kami beristirahat ditemani serabi hangat yang begitu lezat. Sekitar pukul 10.15 kami berjalan kembali dimulai dengan menyusuri kebun durian. Beberapa petani durian dijumpai, salah satunya yang kemudian bertanya tentang perjalanan kami. “Mau ke puncak Pak,” ujar kami. Dengan wajah ceria dan semangat, bapak itu membalas, “Bala…!”.

Bala. Terheran-heranlah Azru, Reno, dan Tamami. Ketiga anak muda yang berapi-api itu lantas bertanya kepada saya makna kata “bala”. Karena bapak tersebut mengucapkannya dengan wajah yang sumringah, maka saya mengira-ngira saja maknanya. “Artinya hebat, keren!” ujar saya.

Hebat. Pendakian yang keren, karena tidak ada orang lain yang mendaki saat itu. Hanya kami berempat. Kata “hebat” menjadi afirmasi sepanjang perjalanan pendakian. Sehingga segala rintangan yang menghadang, baik itu rasa lelah, medan yang curam, serbuan nyamuk, serta keinginan untuk berhenti dari mendaki bisa teratasi. Afirmasi “hebat dan keren” benar-benar ampuh menjadi catudaya “menaklukan” Gunung Jajar Sinapeul.

Gunung ini sunyi dan sepi. Sudah tidak banyak yang mendaki karena tidak ada lagi yang mengelola. Gunung ini ramai dikunjungi 4 hingga 2 tahun lalu di era pandemi. Penduduk lokal membuat jalur pendakian dan menatanya. Beberapa video pendakian Gunung Jajar Sinapeul bisa dilihat di Youtube dimana jalur pendakian jelas dan tertata rapih. Di Puncak Jajar Sinapeul, atap Jawa Barat Gunung Ciremai terlihat begitu gagah dan megah. Sementara jajaran gunung di perbatasan Cirebon Barat-Majalengka amat menawan, bagaikan Raja Ampat.

Bala. Kata itu kembali terngiang selama turun dari puncak. Langit mulai gelap yang membuat kami perlu bergegas. Namun sayangnya yang dihadapi ialah turunan curam penuh dengan dedaunan berserakan. Salah melangkah, tubuh bisa hilang keseimbangan lalu terperosok ke bawah. Meski ingin bergerak cepat, kenyataannya justru melambat.

Bala. Benarkah artinya keren atau hebat?

Hujan akhirnya mengguyur bumi. Untungnya kami sudah melalui turunan curam berduri itu. “Kita benar-benar bala! Hebat!” Apalagi Tamami dan Azru baru pertama kali naik gunung. Sementara Reno tidak menyangka medan Gunung Sinapeul diluar perkirannya. Dikiranya Sanghyangdora yang asyik dan ramah.

Bala. Akhirnya saya mencari tahu maknanya.

Bala seringkali digunakan pada kalimat “bala tantara…”, maka artinya bisa “pasukan”. Tapi sepertinya makna ini tidak sesuai dengan konteks pendakian. Sementara, bala dalam bahasa Sunda memiliki arti “berantakan”. Dalam kamus bahasa Sunda, bala memiliki arti: penuh rumput atau sampah serta bahaya.

Jadi… makna bala sejatinya suatu kondisi yang berantakan, awut-awutan, tidak tertata, tidak rapih seperti halnya gorengan bala-bala yang dibuat tanpa cetakan.

Selama perjalanan sendiri kami menjumpai jalur yang amat rimbun. Tumbuhan liar menutupi jalur pendakian. Daun-daun berserakan menutupi tanjakan/ turunan curam yang membahayakan. Sementara di jalur puncak yang menyerupai punggungan naga, ilalang menjulang setinggi badan sehingga menyulitkan pergerakan.

Ternyata… benar yang dikatakan bapak petani durian yang kami jumpai di awal pendakian. Bala pisan!
 
Referensi:
[1] Fachrudin, D. 10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia. Solo: Metagraf 2011.
[2] https://www.mentalhealth.org.uk/explore-mental-health/publications/how-look-after-your-mental-health-using-exercise#paragraph-18511

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/

Selasa, 10 Desember 2024

Refleksi Akhir Tahun: Menemukan Tombol "Pause" yang Hilang


Oleh Astrid Nur Alfaradais 

Pernahkah kamu merasa bahwa hidup ini adalah jalanan yang macet? Hiruk pikuk dan gaduh. Semua orang sibuk, bergegas untuk mengejar sesuatu—tapi anehnya, sering kali kita tidak tahu apa yang sebenarnya diburu.

Kehidupan yang dijalani bagaikan autopilot: bangun, kerja, makan, tidur. Berulang di esok hari. Hingga tak terasa sudah berada di penghujung tahun lagi.  

Rasanya seperti ada tombol pause yang hilang di remote diri. Dan dalam rutinitas tersebut, kita acapkali tak menyadari respon yang muncul di saat riuhnya situasi. Padahal saat itu selalu ada kesempatan untuk menimbang keputusan serta memilih.


Seperti saat berada dalam kemacetan: apakah kemudian marah, membunyikan klakson, menggerutu tanpa henti, atau diam membisu?

Tapi pernahkah kamu berhenti sejenak? Memperhatikan hujan mengguyur jalanan, menyadari langit sore memerah, atau sekedar menyadari, "Oh, aku masih bernapas. Jantungku masih berdetak." Selamat, kamu telah bertemu mindfulness—sebuah tombol pause untuk kembali ke momen saat ini.

Mindfulness mengajarkan kita untuk menjadi pengemudi, bukan penumpang dalam hidup kita sendiri. Ketika kita sadar akan napas, tubuh, dan perasaan, kita sebenarnya sedang mengijinkan untuk berhenti dan menikmati perjalanan. 

Seringkali pikiran kita berlarian. Melintasi masa lalu, mengingat kesalahan, atau melompat ke masa depan, penuh dengan kecemasan. Kita lupa bahwa satu-satunya tempat di mana kita benar-benar hidup adalah di sini, saat ini. Sekarang. 

Jadi, harus mulai darimana? 

Mindfulness bisa diterapkan dengan cara sederhana di kehidupan sehari-hari dengan meniatkan diri untuk senantiasa berhenti lalu mengamati dan menyadari diri, seperti pikiran serta suasana hati. Kemudian mengambil napas secara lembut dan sadar. Merasakan udara masuk dan keluar, hening di sini, sehingga membantu untuk kembali ke momen kini. 

Saat berjalan, berikan perhatian penuh pada langkah kaki, pernapasan, serta lingkungan sekitar. Momen ini bisa menjadi latihan untuk mengasah kesadaran diri melalui gerakan. 

Dalam interaksi sosial, mindfulness berarti hadir sepenuhnya dengan lawan bicara. Mendengarkan tanpa interupsi dan menghindari memberi komentar yang bersifat penilaian. Belajar untuk memahami secara jernih setiap kata yang terucap dan mereponnya secara bijak.

Mindfulness juga berguna untuk mengelola emosi negatif. Ketika rasa marah atau takut muncul, kita boleh menyadari dan menerima sensasi fisik seperti ketegangan pada tubuh. Sembari menunggu, pulihkan melalui pernapasan dan kebijaksanaan[1]. 

Langkah-langkah ini membantu menciptakan hidup yang lebih damai dan sadar. Mencoba berhenti sejenak di jalanan hidup yang macet, membuat kita bisa mengingat bahwa meski tujuan itu penting, menjalani perjalanannya jauh lebih berarti.

Referensi:
[1] White, P. G. (2024). 5 Simple Ways to Be Mindful in Your Everyday Life. Mindworks. Retrieved from https://mindworks.org

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/