Kamis, 22 Maret 2018

Authentic Problem Based Learning (Cinta Itu Ada Di Sekelilingmu) (Bagian 1)


Oleh Tauhid Nur Azhar

Sebagai seseorang yang mendapat amanah untuk menjadi dosen mata kuliah Psikososial Kompleks di Fakultas Kedokteran Unisba, penulis berkewajiban menghantarkan para mahasiswa untuk lebih memahami realitas psikososial yang dihadapi oleh para calon mitranya kelak. Secara teoretis kondisi psikososial akan sangat memengaruhi profil kesehatan suatu masyarakat atau komunitas. Agar para mahasiswa dapat lebih menghayati kandungan dari mata kuliah yang mereka ikuti, penulis merancang bentuk perkuliahan yang dapat dikategorikan sebagai authentic problem based learning, alias belajar dari kehidupan sesungguhnya.

Untuk itu, pada kesempatan pertama, sekitar 40 orang calon dokter diajak untuk mengobservasi kehidupan urban. Proses observasi dilakukan dengan mengamati profil penumpang kereta rel diesel (KRD) kelas ekonomi dengan jurusan Bandung-Cicalengka.

Mengapa dipilih kereta ini? Dengan menumpangi KRD, kita dapat mengamati banyak hal sekaligus, perubahan ekosistem dari daerah pusat kota sampai dengan tumbuhnya kota-kota satelit dan semakin menyusutnya areal lahan hijau. Kita pun dapat mengamati karakter dari beragam penumpang dan pengguna jasa KRD lainnya.

Keempat puluh calon dokter ini tampak sangat modis dan harum. Mereka menjadi pemandangan aneh di Stasiun Bandung, terlebih pada saat mereka antri tiket KRD ekonomi, raut wajah sang petugas tiket nyata sekali mencerminkan keheranan. Setelah menunggu beberapa saat, KRD tak kunjung menampakkan "batang hidungnya", padahal menurut petugas yang ditanyai, semestinya KRD, apabila sesuai jadwal akan berangkat dari Stasiun Bandung pukul 10.30.

Kegelisahan dan ketidaknyamanan mulai tampak menghiasi wajah-wajah para calon dokter. Mereka berulang kali bertanya, mana kereta yang akan mereka tumpangi. Akhirnya, dari arah barat masuklah serangkaian kereta dengan gerbong dicat biru oranye yang telah lusuh dan dihela oleh sebuah lokomotif diesel tua berseri BB 303 17. Kecemasan sepintas membayang di wajah para calon dokter itu, seolah tak percaya bahwa inilah kereta api yang harus mereka naiki.

Di dalam rangkaian gerbong tersebut tampak penuh sesak dengan aneka jenis penumpang. Ada yang duduk dan lebih banyak lagi yang berdiri bergelantungan. Perjuangan untuk menaiki kereta pun dimulai, karena waktu singgahnya yang singkat maka setiap penumpang yang ada di emplasemen stasiun berusaha keras untuk masuk terlebih dahulu.

Dalam kondisi seperti ini, seorang manusia akan lebih memprioritaskan kepentingan dirinya terlebih dahulu. Bahkan keinginan untuk mengamankan kepentingannya ini mampu merobohkan norma, etika, dan rasa belas kasihan. Banyak orang tua didesak begitu saja oleh sekelompok penumpang yang jauh lebih muda, sehat, dan kuat. Setiap orang berusaha semampunya agar tidak tertinggal kereta api.

Bersambung ke sini...

Sumber gambar:
https://www.facebook.com/356259904513318/photos/a.358326877639954.1073741829.356259904513318/377062262433082/?type=3&theater
Share:

0 komentar:

Posting Komentar