Rabu, 21 Februari 2018

Bikin Kopi itu Meditasi (Belajar Mindfulness dari Filosofi Kopi 2)

Filosofi Kopi The Movie 2

Oleh Duddy Fachrudin

Meskipun edisi yang kedua ini tidak seindah film yang pertama, Filosofi Kopi 2 tetap menyajikan kenikmatan dan kecantikan dialog-dialognya. Apalagi ditambah soundtrack yang ciamik dari Banda Neira yang begitu meneduhkan jiwa-jiwa yang sedang terbalut kegelisahan dan kegundahan hidup. Ya, Filosofi Kopi 2 mengajak kita untuk memahami kehidupan dengan “rasa” sehingga hidup yang kita jalani benar-benar “hidup”. Inilah metafora Filosofi Kopi 2 yang dapat diinternalisasi dan dikembangkan oleh kita untuk hidup secara mindful.

0.
Ben: Kalo kita bicara soal konsistensi rasa, itu bukan soal cuma itung-itungan, tapi perasaan tiap bikin secangkir kopi.

1.
Ben: Karena buat saya bikin kopi itu meditasi, bukan matematika.

2.
Pak Seno: Tiwus itu senang main di kebun kopi. Dan ketika Tiwus sudah tidak ada, ya kami mencoba menggantikan kebun kopi seperti Tiwus. 

3.
Pak Haryo: Kopi itu bukan untuk diminum tapi untuk dinikmati. Proses menuju kenikmatan itu..., itu sama seperti kita merawat anak kita sendiri. Mulai dari bibit, kemudian menjadi tunas, menjadi bunga, dari bunga menjadi buah.. dan menjadi biji. Persis seperti merawat anak sendiri.

4.
Jody: Coba kamu lihat, emang ada yang mati sih, tapi ada anggrek yang hidup.

5.
Ben: Kenapa harus kopi? Ngambil pertanian kan nggak harus kopi?
Brie: Kenapa ya...? Cinta kayaknya...

6.
Brie: Ayah kamu bukan petani biasa Ben. Dia pemulia benih. Katanya seorang pemulia benih nggak pernah mati. Dia akan hidup di setiap benih yang dia hidupkan.

7.
Ben: Ada satu filosofi yang nggak pernah ditulis, tapi selalu ada di setiap cangkir yang dibuat di kedai ini. Setiap hal yang punya punya rasa selalu punya nyawa.

8.
Banda Neira, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

Yang

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti


Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh
Berganti dan luruh
Bayang yang berserah
Terang di ujung sana

Sumber gambar:
https://www.bioskoptoday.com/film/filosofi-kopi-2/
Share:

0 komentar:

Posting Komentar