Senin, 23 April 2018

Kurusetra, Star Wars, dan Mindfulness

Map of Consciousness

Oleh Duddy Fachrudin

Tahun 1973, seorang laki-laki berusia 29 tahun menyerahkan naskah film terbarunya kepada Universal Studio dan United Artist. Namun, sayangnya kedua studio tersebut menolak idenya tentang film sci-fi luar angkasa yang menurut mereka tidak memiliki potensi bisnis yang bagus. Untungnya, 20th Century Fox memberi kesempatan pria yang baru membuat 2 film itu merealisasikan proyek besarnya. Laki-laki itu bernama George Lucas dan proyeknya adalah Star Wars, dengan film perdana Star Wars: A New Hope tayang pada tahun 1977 dan menghasilkan keuntungan yang luar biasa.

Galaksi menjadi medan Kurusetra antara Sisi Jahat dan Sisi Baik. Dark dan Light. Kaisar bersama Sith melawan Pemberontak dibantu Jedi. Karakter Han Solo, Chewbacca, Putri Leia, Obi Wan Kenobi, Darth Vader, Master Yoda, Luke Skywalker, robot android R2-D2 serta C-3PO, gimmick Lightsaber, dan energi semesta bernama Force menjadi legenda dongeng Star Wars.

Namun Star Wars tidak hanya berkisah tentang pertempuran di galaksi. Layaknya epik Mahabarata yang sarat hikmah, Star Wars pun dapat diambil pelajarannya, salah satunya, yaitu mengajak penontonnya untuk mengembangkan pikiran yang mindful. Seperti yang dikatakan Obi Wan Kenobi kepada muridnya Anakin Skywalker dalam Star Wars Episode II: Attack of The Clones, “Be mindful of your thoughts Anakin. They betray you. You’ve made a commitment to the Jedi Order...”

Nyatanya, Anakin yang ketika kecil adalah seorang bocah polos, suka membantu tanpa pamrih, pemberani, dan diramalkan menjadi ksatria Jedi yang akan membawa keseimbangan di galaksi memiliki wandering mind yang kronis yaitu takut kehilangan orang yang dicintainya. Kepemilikan akan cinta yang berlebihan ini mengubahnya secara perlahan-lahan menjadi Darth Vader yang penuh amarah dan kebencian. Maka, kita perlu memetik hikmah dari seorang David R. Hawkins yang meneliti tentang hubungan antara emosi dengan derajat ketegangan otot berdasarkan tingkatan energi yang terangkum dalam Map of Consciousness (2002).

Map of Consciousness dibagi menjadi dua kategori yaitu Power dan Force. Berbeda dengan Force ala Star Wars yang memiliki dua sisi yaitu dark dan light, Force dalam Map of Consciousness memiliki level energi rendah. Sementara Power memiliki level energi yang tinggi. Bisa dikatakan Power adalah light Force dalam Star Wars.

Courage sampai enlightenment merupakan Power, sementara pride hingga shame adalah Force. Pertanyaannya, energi apa yang lebih sering bersemayam dalam diri kita? Di sinilah mindfulness berperan sebagai kemampuan dalam melakukan pengamatan terhadap pikiran dan perasaan agar individu lebih menyadari posisi level energinya. Ketidakmampuan kita dalam mengembangakan pikiran yang mindful dapat membuat level energi kita tidak terkendali. Bahkan energi kita cenderung berada pada level yang rendah, seperti yang terjadi pada Anakin Skywalker.

Maka sesungguhnya Kurusetra itu nyata dalam pikiran setiap manusia. Berhati-hati dengan pikiran mengembara yang menuju kemarahan, kecemburuan, ketakutan, termasuk kebanggaan adalah suatu keniscayaan dan melepaskannya adalah suatu kewajiban seorang Jedi sejati. Seperti kata Master Yoda berpetuah, “Train yourself to let go... of everything you fear to lose.”

Referensi:
Hawkins, D. R. (2002). Power vs. force: The hidden determinants of human behavior. Carlsbad, Calif: Hay House.

Sumber gambar:
https://ear-thschool.com/why-you-may-not-mourn-paris/
Share:

2 komentar: