Jumat, 04 Mei 2018

Dapatkah Mindfulness Mencegah Perceraian?

Growing Old Together

Oleh Duddy Fachrudin

9000 kasus perceraian.

Jumlah itu menempatkan Kabupaten Cirebon menduduki peringkat tiga mengenai tingkat perceraian tertinggi selama tahun 2017. Juara satu dan dua "dimenangkan" oleh Kabupaten Indramayu dan Kota Cimahi. Begitulah berita yang tersaji di jabar.tribunnews.com pada tanggal 22 Maret 2018.

Dalih cerai sebagian besar karena faktor kemiskinan.

Terasa janggal jika kemiskinan dijadikan kambing hitam penyebab perceraian. Karena "iltamisur rizqa bin nikaah," ujar Sang Nabi, Muhammad Saw.

Dalam hadis ini kita diminta mencari rezeki melalui jalan pernikahan. Jadi, pernikahan sesungguhnya tidak akan pernah membuat pelakunya miskin.

Ada variabel yang belum diteliti atau ditemukan yang menjadi penyebab perceraian.

Namun, kita boleh belajar pada John Gottman (2015), seorang Guru Besar bidang Psikologi dari Universitas Washington yang selama lebih dari 40 tahun memfokuskan diri mengkaji relasi pasangan suami istri. Berdasarkan penelitiannya, ada 4 hal yang dapat menjadi prediktor perceraian.

Pertama: CRITICISM
Kritik adalah ketidaksetujuan yang dibangun atas sebuah persepsi. "Kamu egois", "Kamu tidak bisa diandalkan dan selalu sibuk", "Kamu selama ini tidak peduli sama aku". "Kamu... kamu... dan kamu..."

Kehidupan pernikahan dipenuhi dengan saling mengkritik dan menilai pasangan.

Kedua: DEFENSIVENESS
Kebalikan dari kritik, defensiveness adalah sikap bertahan, membela diri, dan tidak menerima kritikan pasangan. "Nggak kok, aku nggak egois", "Aku sibuk karena diminta bosku, jadi ini bukan salahku, kan?", "Aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan!".

Defensiveness pada akhirnya bertujuan "menyerang" balik atas ungkapan yang dirasa memojokkan salah satu pasangan.

Ketiga: CONTEMPT
Serang-menyerang yang berkelanjutan menghasilkan perang. Penghinaan bernada sarkas dapat muncul keluar begitu saja tanpa kendali. Inilah contempt. Menyakitkan rasanya mendengarkan kalimat sarkastik, apalagi itu berasal dari pasangannya sendiri. Contoh interaksi sarkastik dari film Ada Apa Dengan Cinta:

Cinta: Sejak gue ketemu elo, gue berubah jadi orang yang beda (nada tinggi). Orang yang nggak bener.

Rangga: Gini ya Ta, salah satu diantara kita, itu pasti lebih punya hati, atau punya otak. Tapi kamu kayaknya nggak punya kedua-duanya deh.

Jlebb.

Keempat: STONEWALLING
Setelah "perang" berkepanjangan, masing-masing pasangan kemudian berpikir, lalu self-talk, "Saya lebih baik diam, tidak usah menanggapi, karena percuma menanggapi." Suasana panas membara yang membakar fondasi keluarga akhirnya berubah dingin membeku dan membatu meninggalkan sembilu.

Ibarat makan sayur tanpa garam. Hambar.

Kalaupun salah seorang menanggapi ucapan pasangannya, ia berkata dengan sangat irit, "Oh.." atau "Mmm..." atau tanpa suara dan hanya gerakan non-verbal tanpa rasa yang semakin membuat suhu udara rumah tangga semakin minus dibawah nol derajat.

Berdasarkan pemaparan Gottman tersebut, maka sumber malapetaka pernikahan sesungguhnya adalah permasalahan komunikasi. Ketidakmampuan mendengarkan dan menerima satu sama lain akibat keangkuhan yang melekat merupakan awal dari bencana yang bernama perceraian.

Maka apakah dengan mengembangkan sikap mindful, seperti memberikan perhatian penuh dan tidak reaktif saat pasangan berbicara dapat mencegah perceraian, dan bahkan sekaligus menambah keintiman relasi suami-istri?

Referensi:
Gottman, J.M. (2015). Principa amoris: The new science of love. Routledge: New York.

Sumber gambar:
https://www.pinterest.com/bratandpunk/growing-old-together/
Share:

0 komentar:

Posting Komentar