Selasa, 17 Juli 2018

Achterhuis


Oleh Duddy Fachrudin

Selama mengungsi dari kejaran tentara Nazi, Anne Frank tinggal di sebuah gedung kantor di Amsterdam Belanda yang memiliki ruangan tersembunyi, Achterhuis.

Di dalam kamar rahasia yang ditutup dengan rak buku tersebut, gadis itu mencurahkan perasaan, pikiran, atau apapun yang dialaminya di buku harian.

Lantas diary itu diterbitkan dengan judul Het Achterhuis. Dan karena buku itu pula, kata "achterhuis" menjadi lebih populer.

Selain memiliki arti ruangan tersembunyi atau ruangan yang letaknya di belakang dari sebuah rumah, jika kita mengetikkan "achterhuis" ke google translate muncul arti "rumah kembali".

Rumah kembali?

Sebuah makna yang terdengar ambigu, bukan?

Namun ketidakjelasan itu memudar ketika saya bertemu dengan kata itu (lagi) di kawasan Kota lama Semarang.

Setelah napak tilas Laksama Cheng Ho di klenteng Tay Kak Sie, menikmati pisang plenet, soto Pak Bambang, dan es hawa di Waroeng Semawis, serta berdiskusi dengan pengelola Djikstra Library & Community Cafe, saya tiba di Tekodeko Koffiehuis. Di sebelah kedai kopi akulturasi itu terdapat Achterhuis, sebuah guest house.

Malam itu menunjukkan pukul 11. Taman Srigunting sudah ditinggalkan oleh pengunjungnya. Kopi Gendhis yang saya pesan di Tekodeko perlahan mulai habis.

Kata "achterhuis" kembali terngiang setelah saya melangkahkan kaki keluar Koffiehuis menuju sebuah "kapsul" di Sleep & Sleep yang saya sewa semalam untuk merebahkan tubuh.

Kapsul itu berdimensi 2x1x1,5.

Tak terasa, perjalanan malam di Kota Lama sesungguhnya adalah perjalanan kehidupan yang kelak akan kembali dan pulang.

Achterhuis, seperti yang diterjemahkan google translate, yaitu rumah untuk kembali (pulang). Dan rumah itu berdimensi hampir sama dengan "kapsul" yang saya sewa. Ya, achterhuis adalah rumah yang kelak akan ditinggali oleh tubuh kita yang tidak abadi.

Namun, sebelum kita menuju kesana, pulanglah pada ruang tersembunyi. Tempat Sang Maha Cinta meletakkan cahaya cintanya. Sebuah ruang rindu dimana manusia ingin selalu bertemu dengan-Nya.

Pulanglah ke dalam hati. Lalu menyelam mereguk saripati cahaya-Nya.

Pulanglah... ke achterhuis sejati.

Sumber gambar:
https://www.swanngalleries.com/news/2016/05/20444/attachment/718562/

Share:

0 komentar:

Posting Komentar