Selasa, 10 Juli 2018

Menilai itu... Jahat


Oleh Duddy Fachrudin

Maka pernahkah kita berpikir untuk mau mencoba sekedar melihat, mendengar, merasakan, dan mendeskripsikan tanpa melibatkan penilain subjektif? 
(dr. Tauhid Nur Azhar, pemateri workshop "Mindfulness in Medical Education")

Terlepas dari judulnya yang juga "jahat" (karena menilai), topik ini memang perlu dikaji secara mendalam dan komprehensif oleh kita sebagai mahluk yang bereksistensi dan beraktualisasi serta memiliki peran kehidupan di dunia.

Setelah belajar bersama dalam workshop "Mindfulness in Medical Education" kemarin, kawan saya, dokter Hapsoro menyampaikan kepada saya bahwa penting bagi kita untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap suatu situasi atau, diri sendiri, atau orang lain.

Penilaian yang tergesa-gesa biasanya muncul dari suatu persepsi sempit tanpa memandang suatu hal lebih luas. Atau bisa juga hasil dari suatu prasangka, value, atau belief yang terlekat amat kuat dalam pikiran manusia.  Dan tentu ada upaya comparing, sehingga tidak jarang menilai adalah mempolarisasi pikiran menuju satu titik tertentu.

Ya. Saat menilai, divergent thinking kurang dilibatkan.

"Kamu bodoh...", padahal dia hanya belum dapat menjawab suatu pertanyaan.

"Kamu tidak mungkin sukses...", padahal dia hanya gagal dalam satu ujian mata kuliah.

"Teman-teman saya tidak ada yang peduli pada saya...", padahal hanya karena konflik dengan seorang teman di masa lalu.

Menilai itu jahat, karena menilai adalah kata-kata. Dan kata-kata bukankah sebuah do'a?

Prof. Sutejo Kuwat dari Undip, dalam suatu sesi pelatihan peningkatan kualitas dosen wali pun berpesan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru atau dosen agar melatih kualitas emosi dan tidak sering menyalahkan mahasiswa.

Maka saat menilai atau menghakimi, tidak ada lagi yang namanya empati.

Sumber gambar:
https://thequotes.com/quotes/541408
Share:

0 komentar:

Posting Komentar