Jumat, 28 Juni 2019

Kedai Kopi & Menjadi Manusia (Bagian 1)


Oleh Hamzah Abdurahman & Duddy Fachrudin

"Pernah ada yang suka ngopi di sini, trus ajak keluarganya. Mereka bawa mobil dan dandanannya rapih. Sampai sini, ibunya terheran-heran dengan kedai kopi ini, dan ketika duduk pun terasa tidak nyaman. Mungkin ya terbiasa di kedai kopi mewah & ber-AC, mas."

Duo barista unik dan nyentrik itu senyum-senyum menceritakan kedai kopi tanpa nama di jalan Pekalipan yang saya kunjungi sambil menunggu spoor yang menjemput pukul 2 pagi.

Terkekeh kekehlah kami semua dengan lepas sementara Hp salah satu barista itu mendendangkan Iksan Skuter, "Sepertinya menjadi manusia adalah masalah buat manusia... "

Obrolan tengah malam itu berkutat pada persoalan manusia yang semakin ke sini semakin aneh. Semakin membeda-bedakan, semakin menilai, semakin menghakimi, dan semakin berada pada polaritas mencari kenikmatan dan menghindari penderitaan.

Padahal di kedai kopi itu justru saya merasakan kopi ternikmat selama ini. Harganya 1/2 dari yang biasa ada di kedai kopi ber-AC, ber-wifi, dan tentunya memiliki interior yang elegan.

Kedai kopi itu tanpa nama. Tersempil di balik gerobak nasi goreng dan makanan lainnya. Ruangannya apa adanya, namun segala jenis kopi mereka punya. Dan harganya? Hmm... level bumi dengan citarasa langit karena dibuat dengan penuh keikhlasan dan penuh cinta.

Lalu apa sebenarnya manusia? Siapa manusia? Sebuah pertanyaan dari jaman dahulu yang kerap kali ditanyakan oleh manusia itu sendiri. Bahkan semakin canggih peradaban manusia semakin mempertanyakan dirinya.

Manusia sejatinya mahluk yang lemah dan tak berdaya. Ketika ia lahir ke dunia hanya tangis yang dibawa. Sungguh manusia tak bisa apa-apa, tergeletak begitu saja dan membutuhkan orang lain untuk bisa bertahan dari ganasnya kehidupan.

Berbeda dengan binatang. Pitik (anak ayam) yang baru menetas dari cangkang telur tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeksplor dunia sekitarnya. Dengan gembira ia menikmati dunia berlari ke sana ke sini mengikuti ibunya. Dengan mudahnya juga ia beradaptasi dengan beragam cuaca. Bahkan beberapa hari kemudian ia dapat bertahan dari derasnya hujan, tanpa perlu memakai jaket ataupun pakaian.

Setelah beberapa bulan, Pitik yang telah tumbuh remaja memberi kebermanfaatan bagi manusia. Ia dengan ikhlas disembelih dan dijadikan ayam geprek lalu disantap secara mantap. Sementara dalam rentang usia yang sama manusia masih merengek dan menangis meminta ASI kepada ibunya.

Namun, dibalik ketidakberdayaan manusia, Tuhan memberikan rahasia berupa penglihatan pendengaran, dan hati. Tentu, binatang pun diberikan potensi yang sama, namun manusia memiliki sistem yang lebih canggih, kompleks, dan kapasitas yang lebih besar. Ini yang kemudian membedakan manusia dengan hewan. Sebutan Homo Sapiens pun disematkan. Mahluk yang cerdas karena akal sekaligus budinya.

Halaman Selanjutnya >>>

Sumber gambar
Share:

0 komentar:

Posting Komentar