Jumat, 28 Juni 2019

Kedai Kopi & Menjadi Manusia (Bagian 2, Habis)


Oleh Duddy Fachrudin

Hanya saja sebagai Homo Sapiens, kecerdasannya sering terlena karena tipu daya yang datang dari berbagai arah. Karena itu pula, Homo Sapiens yang juga Homo Socius berubah menjadi serakah, ambisi, penuh amarah, dan menumpahkan darah.

Jika di Amerika kita mengenal pertempuran Gettysburg (1-3 Juli 1863), perang saudara antara kubu Utara dan Selatan yang begitu brutal, maka di Indonesia kecamuk itu berlangsung ratusan tahun.

Setidaknya hampir 500 tahun konflik di tanah tersubur di negeri ini (bahkan dunia) berlangsung. Leluhur kita selama periode 1200-an hingga 1700-an saling menyakiti dirinya. Mereka tidak melawan penjajah Belanda, yang saat itu hanyalah serikat dagang atau VOC. Mereka melawan saudaranya sendiri.

Manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya, atau Homo Homini Lupus.

Setelah perang saudara di tanah Jawa, VOC mulai "bertingkah" dengan menetapkan pajak yang mengusik warga pribumi. Bisa dikatakan, saat itu pula Belanda mulai menjajah Nusantara.

Bahkan Para Londo ini mulai membuat sekat antara si kaya dan si miskin. Kota Lama Semarang dan Jembatang Mberok atau Gouvernementsburg yang dibangun 1705 menjadi saksi bahwa seolah-olah orang Eropa lebih tinggi kedudukannya dengan warga pribumi yang terdiri dari orang-orang Jawa, Cina, Melayu, dan Arab.

Ketidakadilan memunculkan perlawanan demi perlawanan demi mencapai kemerdekaan. Proses menuju ke arah sana penuh tantangan yang justru datangnya dari pihak sendiri. Epidemi inferioritas, mudahnya diadu domba, serta, mudah tertipu oleh kilauan tawaran jabatan yang diberikan penjajah dengan iming-iming gulden membuat orang-orang takluk sekaligus mendem.

Nirmawas dan kurangnya kewaskitaan diri terbingkai menjadi unconscious collective yang sampai saat ini terasa. Bahkan oleh Ronggowarsito, kekacauan yang disebabkan oleh hal ini memproduksi zaman kalatidha, zaman edan, penuh tipu daya, nirkewaskitaan.

Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndilalah karsa Allah, Begja-begjane kang lali, Luwih begja kang eling lawan waspada.

Maka pesannya jelas, kunci hidup di zaman kalatidha adalah mawas diri (mindful), belajar niteni pikiran, perasaan, niat, sekaligus syahwat.

Karena proses ini yang kemudian membuat manusia bertransformasi dari manusia yang menjadi masalah bagi manusia (termasuk alam semesta) menjadi manusia cerdas (Homo Sapiens) dan Homo Deus.

Homo Deus, adalah manusia tanpa sekat yang bergerak bebas berjalan dengan satu tujuan dan penuh cinta yaitu sebagai pemantul cahaya keagungan dan keindahan Tuhan.

Maka, belajar dan mengambil hikmah dari Jembatan Mberok adalah keniscayaan. Membebaskan diri dari label duniawi dengan memegang ilmu serta cinta kasih dan mawas diri adalah bekal Homo Deus menapaki misi penciptaan dirinya.

Maka dunia yang penuh derita telah berganti menjadi cantik seperti Bukit Brintik yang penuh warna warni. Tugas manusia adalah merawat kecantikannya dengan memperindah perilakunya.

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/duddyfahri/

Share:

0 komentar:

Posting Komentar