Kamis, 18 Juli 2019

Mindful Parenting: Menata Ekspresi (Bagian 1)


Oleh Nita Fahri Fitria

Ayah, Bunda, pernakah mengalami kegagalan terbesar dalam hidup? 

Mari kita sejenak menelusuri apa yang kita rasakan saat itu. betapa kecewa dan hancurnya hati ini seolah dunia terhenti seketika. 

Itu dulu, nyatanya saat ini kita masih hidup dan masih bisa tertawa, bukan? Perlahan kita dapat bangkit dan menyembuhkan luka-luka yang menyayat hati dan bahkan bisa jadi kita saat ini sudah lebih baik dalam berbagai hal di banding saat itu.

Dalam kajian Psikologi, itulah yang disebut dengan resiliensi atau daya lenting. Kemampuan yang memungkinkan seseorang bersikap lentur sehingga ia bisa bangkit dari keterpurukan dan menata kembali hidupnya pasaca kemalangan tersebut. 

Menurut Grothberg, resiliensi bukanlah trik sulap, melainkan sebuah proses yang dibangun sejak masa kanak-kanak. Ya, sejak masa kanak-kanak. Jadi kemampuan untuk move on, untuk berdamai dengan masa lalu dan memaafkan mantan itu dibangun sejak anak dalam buaian.

Proses terpenting dari pembentukan resiliensi adalah menghadapi konflik, melakukan kesalahan, dan mengalami berbagai perdebatan. Jadi jika hari ini anak kita memecahkan gelas, berebut mainan dengan si adik, atau berdebat sengit soal siapa yang duduk di kursi depan dan belakang mobil, maka inilah kesempatan emas bagi kita untuk membentuk daya resiliensinya.

Salah satu cara terampuh adalah dengan menata ekspresi kita saat menghadapi berbagai keruwetan itu.

Kita kadang terlupa, ketika anak melakukan kesalahan lalu kita otomatis berteriak dan membuat anak trauma melakukan kesalahan. Belum lagi ditambah pidato 60 menit dengan kecepatan bicara layaknya Valentino Rossi saat bertanding di arena. Lalu tatapan penuh makna intimidatif dan tangan yang setia bertengger di pundak. 

Apakah ini efektif? Ya, efektif membuat anak takut dan mencari jalan pintas saat terkena masalah berikutnya. And we know that, short cut would never works.

Sumber gambar:
Share:

0 komentar:

Posting Komentar