Selasa, 25 April 2017

Esensi Surat Luqmān untuk Relasi Ayah dan Anak (Bagian 1)



Oleh Tauhid Nur Azhar

Sepeninggal Ayahanda tercinta saya banyak merenung dan menafakuri berbagai ayat dalam Al Quran terkait dengan hubungan anak dan orang tua. Entah mengapa saya terus mengulang-ulang mengkaji QS Luqmān yang bagi saya saat itu terasa benar mewakili segenap ungkapan rasa yang tengah melanda hati dan pikiran. Diawali dengan penjelasan tentang keutamaan Quran dan diisi dengan prinsip-prinsip dasar hidup yang dinasehatkan Luqmān pada anaknya melalui untai diksi berfrasa indah yang teramat menyentuh kesadaran. Sungguh hidup itu perlu pegangan dan pemetaan tujuan.

Prinsip dasar Luqmān untuk setia dan loyal pada satu nilai yang menjadi tujuan segenap hasrat dalam kehidupan yangg dibatasi dimensi ruang dan waktu, jugalah yang senantiasa diajarkan Ayahanda sejak saya masih berusia sangat dini. Maka mungkin saja ini alasan beliau menamai saya Tauhid. Dasar akidahlah yang membedakan hidup kita itu akan dapat dimaknai indah atau justru hanya ruang waktu yang terisi rangkaian musibah. Sedari kecil saya diajak Ayah berkelana untuk membangun pola pikir sistematis konstruktif, dengan konstruksi Tauhid sebagai kerangka acuan utamanya. Betapa banyak kebesaran Allah SWT beliau perlihatkan pada saya melalui perjalanan susur daerah aliran sungai Toraut di Doloduo Bolaang Mongondow sana. Betapa keindahan dan keramahan alam dan manusia beliau perlihatkan saat saya diajaknya berjalan 3 hari 3 malam dari Sulawesi Utara menembus rimba raya tropika menuju Sulawesi Tengah yang saat itu bahkan jalur tersebut nyaris tak terjamah.




Pada saat berjalan tertatih di tebing karang nan tinggi Teluk Tomini dengan latar belakang Gunung Tinombala yang tinggi menjulang, rasa kecil, bahkan teramat kecil di hadapan Sang Khaliq begitu nyata terasa memenuhi rongga dada. Keangkuhan dan kesombongan sontak runtuh, segenap daya dan upaya luruh dalam tasbih memuji ke-Agungan-Nya. Tak hanya lutut yang bergetar karena diserang rasa takut, tapi juga hati bergetar hebat melihat maha karya Allah yang sedemikian hebat. Saat bertemu dengan ketulusan manusia-manusia yang berjuang dan mengelola Rahmah sebagai amanah yang merupakan bagian dari barokah, yang tersisa hanya kagum dan hormat pada kebijakan yang mereka tunjukkan. Sungguh perjalanan demi perjalanan bersama Ayahanda ke segenap antero dunia menyadarkan saya tentang arti pentingnya menghargai sesama manusia dan makhluk Allah yang pada hakikatnya adalah guru bagi kita untuk mengenal Sang Maha Pencipta.

Luqmān : 18


وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Maka Ayah dengan caranya sesungguhnya kini saya sadari sepenuhnya tengah mengajari saya tentang memaknai hidup dan memberi nilai tambah pada waktu dan ruang yang pasti akan berlalu. Kita ini makhluk ∆t, yang tak kuasa menolak untuk terus maju dan menua serta menuju titik yang satu. Maka Ayahanda dengan sedikit kata dan tak berbunga lewat kalimat berima, mengajari saya tentang konsep bijak dan bajik. Orang bijak pasti berlaku bajik, maslahat bagi ummat, berkarya dan berguna bagi sesama sebagaimana hadist Rasululullah Saw. tentang indikator kemuliaan manusia. Maka mengisi hidup dengan karya dan kebermanfaatan adalah cara mengkonstruksi bahagia dan surga. Interaksi akan terbangun jika ada silaturahmi dan sinergi yang maujud dalam aksi untuk mengoptimasi potensi. Ini adalah bentuk rasa syukur dan perwujudan dari konsep sabar yang sebenarnya. Maka Ayah mengajari saya lewat contoh dalam bentuk berkarya tanpa banyak bicara, jujur dalam bersikap, ikhlas dalam bekerja, dan itu semua dikanalisasi dalam kesatuan gerak yang dipandu niat. Bukankah niat itu adalah penegasan terhadap tujuan paling hakiki?

Baca berikutnya di sini

Sumber gambar:
http://www.huffingtonpost.com/loren-kleinman/f-is-for-father-and-forgiveness_b_6219940.html
Share:

0 komentar:

Posting Komentar