Selasa, 25 April 2017

Esensi Surat Luqmān untuk Relasi Ayah dan Anak (Bagian 2)


Oleh Tauhid Nur Azhar

Maka bahagia dalam definisi Ayah saya yang bersahaja dan sederhana saja, adalah saat kita mampu mensyukuri apapun yang telah kita miliki. Maka sayapun merasakan betapa nikmatnya piknik dengan bekal seadanya di tepi batang sungai, memancing udang, dan menjelajahi gunung, danau, dan pantai serta larut dalam pesona mengingat-Nya. Sederhana. 

Luqmān : 8


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.”

Tetapi tentu saja pergulatan dalam hiduplah yang sesungguhnya menjadi media ujian bagi kita. Dinamika dan volatilitas yang menjadi keniscayaan makhluk sebagaimana tergambarkan antara lain dalam konsep termodinamika dengan entalpi, entropi, dan kalori yang senantiasa menyertai reaksi konversi energi adalah contoh indah tentang mencari model keseimbangan. Ayahanda mengajarkan dengan caranya bahwa hidup adalah persoalan keseimbangan, homeostasis bahasa ilmiahnya. Dan keseimbangan maknawiah itu baru dapat dicapai jika kita mampu menginternalisasi nilai-nilai yang termaktub dalam panduan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. 




Maka sholat dan zakat adalah persoalan kesadaran tentang keberadaan dan konsep dasar soal kepemilikan. Sholat adalah jalan membangun karakter yang ditandai dengan akhlaq mulia, berindikator tidak keji dan mungkar, sedangkan zakat adalah upaya konstruktif membangun logika bahwa kepemilikan tidak dapat melekat pada ruang dan waktu dan dapat dimanipulasi serta tereliminasi dari kehidupan semudah bulir air yang terevaporasi panas mentari yang datang merambat melalui proses konveksi. 

Maka berbagi dan berbuat baik bagi sesama adalah jalan keselamatan yang selalu ditawarkan utk segera dikerjakan. Dan sampai akhir hayatnya Ayahanda saya selalu berusaha tuntas menolong dan membantu dengan segenap potensi yang dimilikinya agar dapat menjadi manfaat bagi sesama. Menjadi bagian dari solusi,meski sangat menyadari adanya keterbatasan diri. Orientasinya satu, akhirat kelak yang akan menjadi bukti.

Luqmān : 4


الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“(yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat.”

Dan kini saya jadi mengerti, bahwa konsep menolong, membantu, dan bekerja untuk memberikan kebermanfaatan inilah bentuk syukur yang paling kongkret. Mensyukuri apa yang telah dimiliki. Bukankah potensi yang melekat pada kita adalah "apa" yang telah kita miliki? Kita sebagai manusia pilihan dari ratusan juta sel nutfah dan dilengkapi akal untuk menjadi makhluk prokreasi yang didapuk sebagai Khalifah yang bertugas menghadirkan Rahmah bagi semesta sekalian alam. 

Baca berikutnya di sini

Sumber gambar:
http://www.huffingtonpost.com/loren-kleinman/f-is-for-father-and-forgiveness_b_6219940.html

Share:

0 komentar:

Posting Komentar