Senin, 19 Februari 2018

Belajar Mindfulness dari Filosofi Kopi

Filosofi Kopi The Movie

Oleh Duddy Fachrudin

Sesuai janji saya pada artikel sebelumnya, saya akan menyajikan beragam metafora yang dapat menjadi sarana kita untuk memahami mindfulness secara komprehensif.

Nah, kata-kata dan dialog berikut merupakan metafora yang diambil dari film Filosofi Kopi. Didalamnya sangat kaya akan makna serta nilai-nilai kehidupan yang mengarah kepada pada konsep mindfulness.

0.
Ben: Kopi tubruk tuh kopi yang lugu, kopi yang sederhana, tapi kalo kita mengenal dia lebih dalam, dia akan sangat memikat. Kopi tubruk tuh sama sekali tidak mempedulikan penampilan, bikinnya pun gampang tinggal diseduh, tapi tunggu sampe kecium aromanya.

1.
Ben: Kopi yang enak akan selalu menemukan penikmatnya. 

2.
Pewawancara: Kenapa nama kedai ini Filosofi Kopi?
Ben: Karena setiap jenis kopi mempunyai filosofinya sendiri. Setiap karakter dan arti kehidupan dapat kita temukan dalam secangkir kopi. Selama ada yang namanya kopi, orang-orang dapat menemukan dirinya di sini.

3.
Pewawancara: Bagaimana menurut anda sendiri makna kopi?
Ben: Kopi itu adalah kehidupannya sendiri.

4.
EL: Benerkan aku bilang juga apa. ini kopi terenak yang pernah aku minum.
Pak Seno: Ah.. moso. Nak El bilang enak itu karena pemandangan di sini bagus. Atau Nak El bilang enak karena didampingi dua lelaki ganteng ini.

Jody: Pak Seno, saya punya kedai kopi di Jakarta. Meskipun saya sebenarnya tidak bisa begitu bikin kopi, tapi ini kopi terenak yang pernah saya coba Pak. Rahasianya apa ya...?
Pak Seno: Ya nggak ada. Kopi Tiwus itu ya sebetulnya kopi biasa aja.

Ben: Saya nggak percaya Pak. Bagaimana dengan cara memanggang? Pupuk? Tingkat kelembaban tanah? Kelandaian tanah? Nggak mungkin lah nggak ada rahasianya...
Pak Seno: Ini mungkin begini ya. Istri saya itu adalah wanita Gayo yang sangat mengenal kopi dan saya sendiri adalah petani kopi turun menurun, jadi sudah biasa mengolah tanah... Nah ini istri saya. Jadi gini Bu, anak-anak ini ingin tahu apa rahasianya kopi Tiwus, padahal nggak ada apa-apa kan...

Bu Seno: Pernah kami berpikir untuk pakai pupuk pabrik tapi ternyata kurang bagus untuk tanaman, jadi ya dirawat seadanya saja, sama seperti merawat mahluk hidup pada umumnya.
Pak Seno: Ya seperti kita, manusia... hewan... itu ya perlu disayang.

5.
Pak Seno: Seandainya Tiwus itu masih hidup..., sebenarnya kami berdua itu mau mengatakan sesuatu, bahwa sebetulnya kami ini orangtua yang tidak sempurna. Saya sebetulnya mau mengatakan satu hal, kami mau minta maaf. Minta maaf sama Tiwus.

6.
El: Kamu mau bandingin diri kamu sama Pak Seno? Ini bukan soal ilmu atau pengalaman Ben. Kamu bikin kopi pake obsesi, sementara Pak Seno Pake cinta, itu bedanya kalian berdua.

7.
El: Bikin kopi tuh emang nggak bisa cuma pake kepala ya, tapi emang harus pake hati. 

8.
Ayah Ben: Ben kalau kamu memang cinta dengan kopi, teruskan. Bapak nggak apa-apa di rumah sendirian. Di sini sudah tidak ada lagi kopi. Tinggal sayuran. Yang penting kamu sudah ingat bahwa kamu punya tempat untuk pulang.

9.
Jody: Ben.. Lu sama gue tuh ibarat hati sama kepala. Hati sama kepala selalu punya masalahnya sendiri-sendiri, tapi yang satu nggak bakalan bisa survive tanpa yang lain.

10.
El: Saya keliling Asia untuk mencari kopi dan... saya justru menemukan diri saya sendiri. Saya bertemu dengan banyak ahli kopi yang luar biasa dan berpengalaman, tapi yang paling berkesan adalah pertemuan saya dengan orang-orang sederhana yang mendedikasikan diri mereka demi cinta terhadap kopi dan mengajarkan saya untuk bisa berdamai dengan diri saya sendiri.

11.
Jody: Kita nggak bakalan bisa samain kopi sama air tebu, mau sesempurna apapun lu bikin perfecto, mau pake biji apapun, kopi tetaplah kopi, pasti ada sisi pahitnya.

12.
Ben: Woy lu ngapain... yang suruh foto siapa. Buat apa, gue ga butuh publikasi. Lu nikmatin tu kopi.

13.
Kopi Tiwus: Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.

Sumber gambar:
http://kritikusfilmgadungan.blogspot.co.id/2015/04/filosofi-kopi-2015-review.html
Share:

2 komentar:

  1. Mindfulness, sederhananya suatu cara untuk hidup "sadar" seutuhnya, menikmati momen demi momen dengan sikap penuh cinta kasih, menerima dan melepas, bersyukur, seimbang, dan sebagainya. Untuk bisa ke arah sana kita belajar untuk "menyelam" mengamati diri kita dalam usaha menemukan diri kita sesungguhnya.

    Jika mengacu definisi salah seorang pakar mindfulness, maka mindfulness merupakan keterampilan untuk memberikan perhatian dalam suatu cara tertentu, fokus, saat ini, dan tidak menilai. Apa itu mindfulness, lebih lanjut dapat dibaca di http://www.mindfulnesia.id/2017/03/apa-itu-mindfulness.html

    BalasHapus