Selasa, 13 Maret 2018

Manusia Di Ruang Semesta (Bagian 1)


Oleh Tauhid Nur Azhar

Di keheningan atap dunia saya terhenyak. Selarik kesadaran merembes perlahan ke dalam benak. Dingin dan menyegarkan. Lalu seberkas cahaya yang terpantul dari kilau salju nan putih mengguncang mesin tanya dalam pikiran, apakah manusia itu? Di mana kita sesungguhnya berada? Dan mengapa?

Sejauh mata memandang hanya indah yang terhampar dalam sunyi seolah mengajak diri untuk larut merenungi. Perlahan air mata membulir, entah karena apa. Sontak semua kata kehilangan makna. Bahkan diri kecil yang tersuruk dan terpuruk di bentang ke Maha Akbaran Sang Pencipta ini tak kuasa menjawab tentang apa yang hendak dicarinya. 

Saya terduduk dan tertunduk lemas. Kesadaran yang meruyak merusak semua mimpi tentang nilai yang diyakini. Bahkan kini saya tidak yakin dengan diri saya sendiri. Benarkah saya ada di sini? 

Karena terbersit dalam otak saya bahwa saya dan disini, serta saat ini adalah sebentuk produk mental yang dihasilkan serangkaian mekanisme kognitif kompleks yang mengurai tanda dan data menjadi ada. Apakah saya ini sebentuk persepsi tentang saya yang dihasilkan oleh konspirasi indera dengan semesta? 

Lalu semesta itu apa? Mengapa saya ada? Lanjut saya bertanya, entah pada siapa. Bukankah saya "merasa" ada karena saya teraba, terlihat, terdengar, terhidu, tersakiti, terindui, ternikmati, terzhalimi, tersedihi, termarahi, dan tertawa-tawa sendiri semata karena sebuah pemahaman tentang proses interaksi dan pemahaman yang disepakati? 

Saya ini Maya karena menjadi Ada hanya karena merasa. Saya ini makhluk gagasan yang berkonsensus untuk merasa sebagai sebuah makhluk. Lalu apakah saya sebuah proyeksi lintas dimensi dari Sang Pemilik gagasan sejati? Apakah saya sekedar refleksi? Pantulan dari wujud yang Hakiki? Apakah saya bayangan tak berbatang tubuh yang hanya hadir bersyarat karena adanya wujud yang mewujudkan cahaya menjadi bayang bernama manusia? Saya meremas segenggam salju dan menamparkannya ke muka. Otak saya beku. Lidah saya kelu.

Ada listrik mengalir di sela sulkus sentralis yang memisahkan lobus parietalis dan frontalis di hemisferium otak saya. Nyetrum. Dan membuat kilau salju membutakan pandang dan membawa khayal berenang di lautan awan yang terbentang di depan sana. Raba, dengar, lihat, panas-dingin, gurih umami, juga pada gilirannya warna, renyah tawa, eksotika rupa, keseksian istri tercinta, serta duka dan air mata yang menyertai kecewa dan kehilangan adalah sebentuk kesepakatan belaka. Tentang makna dan yang dimaknai. 

Harapan adalah kesepakatan konspiratif antara memori yang berisi hasil belajar dan pengalaman dengan sensor nafsu yang menamainya kenikmatan. Maka bercinta secara fisik adalah bentuk prokreasi, proses regenerasi dan rekreasi. Anehnya pemenuhan harapan adalah hadiah yang didambakan (reward), bahkan menjadi motivasi kuat agar makhluk virtual ini manglih rupa menjadi robot pemuas diri (masturbating robot). 

Meski tak dapat dipungkiri bahwa segerombol sel-sel neuron haus dopamin yang berkumpul dalam nukleus akumben atau juga ventral tegmental area juga adalah motivator konstruktif yang tak kalah ciamik dengan motivator cantik sekelas Merry Riana dalam kehidupan nyata. Ingin bahagia adalah syarat bahagia, demikian kira-kira, dan itulah tugas mereka. Pemuas harapan. Pemupus kerinduan. Penuntas dahaga terhadap kenikmatan. 

Lalu makhluk virtual yang relatif dan terpolarisasi ini jatuh terpuruk dalam neraka dunia yang bernama konsep diametral. Dalam konsep yang menyiksa ini tersedia ruang untuk hadirnya sedih, marah, dan kecewa. Karena semua harapan akan punya pasangan antagonis yang dari seberang sisi terpolar seolah tersenyum bengis. Lalu saya dan anda mengenal tangis, juga mampu bertindak sadis bin bengis. Itulah kita, yang katanya manusia, dan sepakat meyakini kalau kita itu manusia.

Bersambung ke Manusia Di Ruang Semesta (Bagian 2, Habis)

Sumber gambar:
Dokumen pribadi (Tauhid Nur Azhar)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar