Rabu, 11 April 2018

Tidak Ada yang Kebetulan... (bagian 2)


Oleh Derie Imani

“Duddy” ujarnya ketika saya berjabat tangan dengannya. Saya tidak mengira orang yang ada dihadapan saya ini justru menjadi mentor saya kelak. Pak Tauhid menjelaskan maksudnya mengundang Duddy siang itu, “Saya punya temen anaknya itu hiperaktif. Saya coba bilang untuk coba hipnotherapi dan berencana mengenalkan denganmu Dud,” ucap Pak Tauhid dengan santai.

Dirinya tidak langsung menjawab, Kang Duddy menunggu kalimat lanjutan dari Pak Tauhid, seolah ia tahu masih ada pesan lain yang ingin disampaikan.

“Kapan ada waktu Kang? Bisa bertemu dan ngobrol dulu?” tutupnya.

Hipnoterapi! Saya masih menerawang dan terus menyimak percakapan tersebut, Hipnosis? Apa saya tidak salah mendengar, ilmu yang biasa digunakan untuk membuat orang mengikuti orang yang melakukan hipnosis tersebut. Saat itu dibenak saya hanya tertuju pada aktifitas memanipulasi orang untuk menyerahkan barang berharga dan berujung tindak kriminal! Belum terbayang jelas apa itu hipnoterapi atau hipnosis.

Singkat cerita Kang Duddy menyepakati tanggal dan hari untuk bertemu dengan kolega Pak Tauhid. Saya masih penasaran dengan apa itu hipnoterapi, namun adzan Dhuzur sudah terdengar saat itu, dan akhirnya kami memutuskan untuk shalat dhuzur berjama’ah. Dalam hati saya masih sangat menyimpan penasaran yang luar biasa. Saya memperhatikan setiap gerakan Kang Duddy tidak ada yang spesial, dan dari aksesoris yang ia gunakan tidak ada gelang akar bahar atau kalung jimat yang ia kenakan. Ia bahkan ikut wudhu dan shalat. Saya penasaran dengan orang ini. Orang ini mampu menghipnosis orang lain, mampu mengubah pandangan seseorang akan sesuatu... hebat sekali! Saya harus tahu lebih jauh! ujar saya dalam hati.

Usai shalat saya memberanikan diri berbincang lebih jauh dan meminta kontaknya. Saya menawarkan diri untuk bisa diajarkan hipnoterapi, karena jujur saja saya masih tidak percaya dengan kemampuan yang ia miliki. Ia dengan santai menjawab, “Yah nanti kita ngobrol lebih lanjut yah,” diakhiri dengan senyuman.

Saya masih penasaran dan mencoba membuka jalur komunikasi pribadi dengannya melalui pesan singkat. Saya menunjukan ketertarikan yang tinggi dengan hipnoterapi. Landasannya satu: saya sangat tidak percaya dengan dunia seperti itu. Dunia yang katanya berbau mistik dan bisa memperoleh apapun yang kita inginkan dari orang lain, terlebih lagi saat itu ternyata di televisi mulai banyak program salah satu presenter Uya Kuya dengan teknik hipnosisnya yang mampu membongkar semua rahasia “korbannya”! Saya semakin penasaran, saya terus bertanya apa benar orang bisa dihipnosis dan menuruti semua permintaan kita? Saya bisa nggak ya dihipnosis?

Singkat cerita saya diberikan kesempatan untuk mengikuti private course dengan Kang Duddy. Tempat belajar atau bertemu kami cukup unik di sebuah food corner pusat perbelanjaan di daerah Balubur Bandung yang saat itu belum terlalu ramai dengan pengunjung. Kami melakukan pertemuan rutin dua kali dalam seminggu di sana. Kang Duddy membimbing saya dengan sabar dan memberikan pemahaman serta ilmu terkait dunia hipnoterapi yang jauh dari pandangan miring saya sebelumnya.

Hari demi hari Kang Duddy memberikan pelatihan dan contoh kepada saya. Saya sempat dibuat tidak bisa bangun dari kursi yang saya tempati karena pantat saya terasa lengket dan menempel di kursi tersebut hingga kedua mata saya yang juga sempat tidak bisa dibuka karena kelopak matanya merapat seakan terkena lem. Sebuah pengalaman yang berharga dan unik yang saya dapatkan saat itu.

<<<Before - Next>>>

Sumber gambar:
https://www.independent.co.uk/happylist/how-self-hypnosis-changed-my-life-a7980306.html
Share:

0 komentar:

Posting Komentar