Jumat, 26 Oktober 2018

#TerimaKasihTabloidBola


Oleh Duddy Fachrudin

Kebahagiaan utama anak laki-laki generasi tahun 90'an adalah bisa bermain bebas dan lepas di ruang terbuka, seperti mandi di sungai, menjelajah alas (hutan), mengejar layangan putus, main gundu (kelereng), dan tentu saja tidak ketinggalan untuk bal-balan saban sore di lapangan. Karena hobi saya yang terakhir yang akhirnya kemudian membuat saya setia menonton pertandingan sepakbola di layarkaca. Seusai Piala Dunia 1994, euforia sepakbola pun dimulai. Nama-nama seperti Roberto Baggio, Paolo Maldini, duet maut Romario dan Bebeto, Gabriel Batistuta, George Weah, dan Alan Shearer lebih saya hafal dibanding nama-nama pahlawan nasional.

Liga Italia menjadi tontonan wajib setiap minggu dan lebih utama dibanding melihat Yoko Si Pendekar Rajawali dan Ksatria Baja Hitam serta Power Rangers. Dan bacaan wajib seorang anak SD seperti saya, tiada lain tiada bukan, yaitu Tabloid Bola. Untungnya bapak saya tahu menahu kebutuhan anaknya dan dengan setianya membawakan Tabloid Bola setiap selasa dan jum'at. Gambar-gambar pemain bola dan juga poster dari Tabloid Bola saya tempel di kamar.

Pada tahun 1999, saya membuat kliping AC Milan, yang saat itu juara Serie A setelah bersaing dengan Lazio hingga pekan terakhir. Sumber kliping sebagian besar dari Tabloid Bola. Tahun terus melaju, dan muncul tabloid serupa seperti GO dan Soccer, saya masih tetap membaca Tabloid Bola. Ulasannya menarik, tulisannya berbeda, dan membuka jendela wawasan mengenai dunia sepakbola yang lebih luas.

Maka, Tabloid Bola bukan sekedar tempat dan sahabat mendapatkan informasi bola saja, melainkan teman belajar menulis bagi saya, khususnya ketika saya menjadi seorang jurnalis untuk sebuah majalah mahasiswa yang berkantor di Jakarta pada tahun 2007. Kemudian beberapa tulisan di buku "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia" dan "Hidup Bahagia Mati Lebih Bahagia" merupakan kisah-kisah inspiratif dari dunia sepakbola yang awalnya saya temukan di Tabloid Bola.

Hingga saat ini, tidak ada bacaan olahraga yang seasyik Tabloid Bola. Meski akhirnya mulai 2013, frekuensi dan membaca serta membelinya turun, saya masih menyempatkan membuka halaman-demi halaman Tabloid Bola yang tidak disegel ketika berkunjung ke Gramedia atau Togamas. Dan peradaban digital membuat pembaca Tabloid Bola, beralih ke portal-portal olahraga di detik.com, atau bola.net, panditfootball.com dan tentu bolasport.com (wajah Tabloid Bola online).

Membaca artikel "Edisi Terakhir Tabloid Bola, Terbit Hari Ini" memberikan inspirasi, bahwa suatu produk benar-benar diterima dan membekas di benak kita jika ia dibuat dengan ketulusan, passion, dan totalitas serta ikhlas. Inilah yang tercermin dari karyawan-karyawan Tabloid Bola (lihat video "Terima Kasih Tabloid Bola") yang merasakan sendiri engagement antara dirinya dengan pekerjaannya dan antara dirinya dengan rekan kerja serta lingkungan kerja. Maka apa yang telah Tabloid Bola persembahkan kepada kita selama 34 tahun ini adalah perwujudan syukur setiap individu yang bekerja di Tabloid Bola.

Dan kami beryukur memiliki teman dan sahabat yang tak kunjung lelah memberikan yang terbaik di setiap waktunya. Ah... Generasi-Z merasakan hal ini nggak ya, tapi inilah Generasi Milenial (Gen-Y) bertutur dengan jujur, bahwa Tabloid Bola adalah legend, asyik, dan benar-benar dibuat dengan rasa syukur yang luar biasa.

#TerimaKasihTabloidBola

Share:

0 komentar:

Posting Komentar