Rabu, 31 Juli 2019

Obat Depresi: Menerima dan Membuatnya Merasa Berharga


Oleh Nita R. Fitriantini

Pernahkah kita merasa berada dalam keramaian tapi tetap terasa sepi? Bagi sebagian orang, hal ini mungkin saja sesuatu yang asing. Bagaimana bisa merasa sepi di tengah hiruk pikuk manusia?

Tapi, sejatinya kondisi ini banyak dialami oleh beberapa orang di sekitar kita. Mungkin dia adalah adik, kakak, teman, atau bahkan pasangan kita. Dan kita sering kali tidak menyadari kehadiran orang-orang yang kerap merasa kesepian ini meski saat kita ada di sisinya. Bagaiamana bisa?

Perasaan kesepian adalah bagian dari dimensi depresi. Dan orang-orang yang menghadapi depresi ini kerap tidak muncul di permukaan, sehingga mereka tetap tampil sebagai orang biasa yang seolah tak punya masalah.

Mereka bisa jadi sangat bersinar, digandrungi banyak orang, tapi mereka memiliki satu ruang hampa dalam dirinya. Sebuah ruang mirip sumur, dalam, gelap, sepi, dan tak ada yang tahu seberapa dalamnyanya. 

Ada di antara bingar, tapi hanya bisa berdialog dengan pikiran dan rasa yang jauh terkungkung dingin dan gelapnya sumur. 

Hendaknya kita lebih mahfum dengan berita-berita seputar selebriti papan atas yang secara mengejutkan mengakhiri hidupnya sendiri di tengah puncak popularitas. Yang tidak lain didorong oleh kondisi depresi yang dialami selama bertahun-tahun.

Penghujung tahun 2017, seorang idol kenamaan Korea menghembuskan nafas terakhirnya setelah menghirup karbon monoksida di sebuah kamar. Tentu publik tercengang, karena idol satu ini tengah bersinar. Sekali ia muncul dipublik, maka jutaan fans akan berjerit memanggil namanya, “Saranghaeo Oppa”. 

Rupanya, jutaan ungkapan cinta itu tidak cukup membuatnya merasa dicintai dan berharga. Ia tidak merasa cukup berharga untuk terus tampil di publik, begitu ujarnya pada sang sahabat. 

Sepeninggal sang idol, publik teringat pada salah satu lagu penyanyi bernama Lee Hi yang rupanya ditulis oleh sang Idol, berjudul “Breath”.

Liriknya begitu dalam, mengisahkan seseorang yang berjuang meregulasi berbagai rasa yang ada. Dalam lirik tersebut, penulis berkata pada dirinya sendiri untuk menarik nafas panjang saat merasa lelah, untuk mengucapkan "tidak apa-apa" saat melakukan kesalahan, dan kalimat pamungkasnya: you did a great job

Bayangkan, ia menulis itu untuk dirinya sendiri sebagai sebuah proyeksi atas kehampaan yang ia rasa atas segala pencapaian yang dipunya. Kondisi ini bisa jadi tidak disadari oleh orang-orang di sekelilingnya.

Maka mulai sekarang, mari kita lebih peka terhadap orang-orang terkasih di samping kita. Tunjukkan perhatian penuh ketulusan, dan menahan diri untuk mengomentari hal negatif di dalam dirinya. 

Memberikan saran ada adab dan ada waktunya. Jangan sampai komentar kita malah kemudian menjatuhkan percaya dirinya, karena itu disampaikan saat ia benar-benar dalam kondisi psikologis yang buruk, sehingga betul-betul ia hayati sebagai sebuah kehampaan. 

Tidak lupa, apresisasi sederhana atas apapun yang dilakukan oleh orang terkasih amatlah perlu kita biasakan. Memberikan apresiasi dan menerima kekurangannya akan membuat ia merasa berharga dan punya lebih dari cukup alasan untuk “tetap hidup”. 

Sumber gambar:

Share:

2 komentar:

  1. Kerren bu nita tulisan nya,, sukses terus buat bu nita 😘

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah berkunjung ke mindfulnesia.id, semoga artikel yang dibaca membuat anda semakin mindful dalam menjalani kehidupan :)

    BalasHapus