Minggu, 14 Maret 2021

Ketika Mencintai Bukan Lagi Sekedar Alat untuk Dicintai




Oleh Tauhid Nur Azhar 

V: 

Halo Pak Tauhid, apa kabarnya? Semoga baik dan sehat selalu ya pak.

Kalo berkenan saya mau menanyakan kelanjutan pertanyaan saya mengenai arti “cinta” menurut science setahun yang lalu pak.

Jadi kesimpulannya kalau kita bicara sains, cinta antara manusia itu semuanya selalu transaksional ya pak? Bagaimana dengan rasa cinta orangtua dengan anaknya yang rela berkorban nyawa?

Apa benar artinya jika semakin seorang manusia mengerti banyak berbagai ilmu pengetahuan mengenai bagaimana sistem kehidupan ini bekerja, berpikir logis rasional dan disertai rasa syukur penuh dalam menjalani hidupnya yang sesaat karena cukup memahami esensi dari hidup, ketika orang tersebut mencapai kemerdekaan secara bathin, maka orang tersebut lebih “mampu” mengasihi tanpa bersifat transaksional?

Yang artinya ketika manusia sudah mencapai kesadaran tingkat tinggi dalam hidupnya lebih mampu mengasihi manusia lain secara non transaksional karena kondisi bathinnya yang sudah cukup “penuh”.

Seperti cerminan Tuhan sebagai entitas yang membentuk ‘segalanya’ dan merupakan sumber ‘tak terbatas’ dari segala hal itu menjadikannya sebagai entitas kasih yang tak terbatas juga. Yang mana dibutuhkan entitas entitas lain yang masih berkekurangan, entah itu energi maupun informasi.

Maaf kalau bahasa saya agak dangkal, mengingat background saya yang non akademis, semoga Pak Tauhid bisa memahami maksud saya hehe.

Dan saya terbuka pak dengan penjelasan sains diluar peran agama supaya pikiran saya bisa lebih terbuka.

Mohon pencerahannya ya Pak.

Karena saya khawatir kalau menyampaikan sesuatu tanpa dasar dan salah pada banyak orang malah jadi batu sandungan.

Terima kasih sebelumnya ya pak Tauhid jika berkenan meluangkan waktu.

T: 

Siap. Alhamdulillah. Senang sekali bisa menyambung diskusi ini. Cinta yang selama ini kerap dibahas memang secara konotatif maupun denotatif kerap dikaitkan dengan kepemilikan dan berlakunya hak istimewa dalam relasi yang seolah disepakati. Di tataran ini tentu sifat transaksional tak terhindari dan menjadi sebuah keniscayaan yang senantiasa membayangi. Tetapi konsep cinta ini juga sebagaimana semua definisi dan persepsi di semesta, ia dinamis dan bertumbuh. 

Cinta transaksional itu berada di level dimana kita justru tengah mengarungi konsep mencintai secara solipsitik, mencintai diri sendiri yang memang merupakan fitrah kita juga untuk larut dalam egosentrisme. 

Kita cenderung mencintai dengan bermotif protektif dan reflektif. Apa yabg kita cintai adalah subjek ataupun objek yang memproyeksikan dan merefleksikan pemenuhan kebutuhan dan keinginan preferentif kita (sesuai kecenderungan dan selera yang dibangun dari proses belajar melalui pemaknaan terhadap pengalaman). 

Kita butuh hiburan yang dapat dipenuhi melalui pemahaman terhadap konsep dan nilai estetika, maka kita memburu kecantikan dan kerupawanan sebagai proyeksi objektifnya. Maka kita mengembangkan preferensi dan selera untuk menyukai berbagai kriteria subjektif pada objek tertentu sebagai sebentuk indikator bahwa cinta itu bersyarat dan memerlukan prasyarat. Ada ketentuan yang berlaku. Ini masih dalam domain transaksional, yang anehnya meski terkesan dangkal tapi esensial dan justru sangat fundamental, alias memang diperlukan dan dibutuhkam sebagai penunjang kehidupan. 

Maka manusia di otaknya dikaruniai memori primordial tentang warna, bau/aroma, bentuk tertentu yang terasosiasi dengan makanan, misalnya, adalah cara atau alat survival yang memang dikaruniakan untuk mengakomodir kebutuhan terhadap pemenuhan hajat hidup tersebut. Dalam salah sebuah riset terkait kompatibilitas genomik dan imunitas, ternyata orang cenderung memilih pasangan yang memiliki karakter imunitas saling bertolak belakang, agar dapat memiliki library gen imun yang lebih kompleks sebagai warisan kepada generasi penerusnya.

Artinya ketika kita mencintai sesuatu dengan berbagai term and condition yang diberlakukan, itu adalah kewajaran karena merupakan bagian dari kebutuhan primordial terkait dengan respon defensif untuk mempertahankan kehidupan. Yang tentu juga merupakan ekspresi lain dari mensyukuri nikmat hidup.

Dalam konteks cinta yang bertumbuh akan muncul suatu proses pengayaan yang diawali dengan bertambahnya pengetahuan akan esensi dari eksistensi. Kita akan selalu bertanya tentang hakikat keberadaan dan kehadiran dan mulai mampu mengidentifikasi beberapa faktor yang menghadirkan kelelahan dan keresahan yang mendistorsi hidup melalui gelombang kegelisahan, kecemasan, dan kekhawatiran. 

Lalu kita pun mulai menyadari bahwa respon agresi dan tindakan-tindakan preemptive yang dilakukan dengan alasan prevensi itu bersifat menyerang dan mendahului (kompetisi) seperti tergambar dalam idiom si vis pacem parabelum

Tapi justru dalam lautan distorsi itu cinta terpurifikasi. Seolah berbagai dinamika interaksi itu adalah sebuah rektor purgatory yang memberikan efek sentrifugal sehingga kita terpental ke alam Paradiso (Dante Alegori). Kita jadi memiliki referensi tentang kesementaraan dan relativitas, lalu mulai mencari kesejatian. 

Jadi semua itu proses, seperti tergambar dalam tingginya kadar hormon oksitosin di kelompok rubah Lyudmilla yg terepresentasi dalam sebentuk kuatnya ikatan kekeluargaan di antara rubah tersebut. Tetapi sebagai konsekuensinya, kehadiran kadar oksitosin yang tinggi itu juga mendorong munculnya sifat xenofobia di keluarga itu. Takut dan curiga berlebih pada sesamanya yang bersifat asing. Sesama dapat diartikan memiliki kepentingan dan kebutuhan yang sama, dan karena asing adalah kata lain bukan bagian dari kita, maka tentu ini akan mendatangkan potensi membahayakan bukan? 

Maka politik identitas secara psikologi massal juga dapat mengarah ke sana, menimbulkan ketakutan dan kebencian pada sesama yang dianggap dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan dan kepentingan.

Di sisi lain saat hubungan telah mampu melampaui motif egosentrisme dalam pemenuhan kebutuhan, maka akan lahir altruisme yang berdasar pada komponen empati sebagai bagian dari esensi eksistensi. Ketulusan dan keikhlasan yang dilambari kesabaran adalah tingkatan kesadaran di mana nalar telah mulai tercerahkan dalam memetakan tujuan. 

Kesementaraan dan kepentingan telah mampu ditempatkan secara proporsional agar dapat menjadi energi penggerak aktualisasi diri yang ditandai dengan kebermanfaatan dan kebermaknaan. Pada akhirnya hidup ini kan bermakna jika bermanfaat, dan itu diberi batasan "kalau sempat". Dan dalam kesementaraan itulah konsepsi cinta transaksional akan kandas karena semua dalam relativitas akan berbatas.

Dan kita tidak bisa meretas apalagi mengubah kepastian yang telah digariskan secara tegas. Maka kita akan mulai merasakan bahwa cinta dalam konteks melepas, berbagi, dan memberi justru membuat ruang luas yang membuat kita sulit kalah oleh lelah. Sulit marah karena salah. Sulit menyerah karena masalah.

Pandemi membuat sebagian dari kita rela mengorbankan rasa cintanya terhadap kebebasan berkumpul, bernafas tanpa masker, dan tak perlu mencuci tangan karena mereka termasuk kelompok beresiko rendah atau bahkan mungkin kelompok yang telah mendapat vaksin. Mereka mulai memikirkan esensi dari eksistensinya dan konsekuensi dari setiap pilihannya terhadap suatu konstelasi yang tak terkurung entitas personal individual. 

Di titik inilah mulai muncul kesadaran bahwa makna keberadaan kita hanya bisa "dibaca" melalui proyeksi yang terpantul dari subjek dan objek yang menerima pancaran "gelombang" kita. Kita adalah sekumpulan persepsi reflektif dari mitra interaksi kita. Di sanalah kita bercermin dan melihat bayang diri kita yang sesungguhnya.

Maka kita akan memulai "siaran" melalui gelombang aktivitas kita dengan harapan akan mendapatkan pantulan terbaik yang dapat melegitimasi niat yang telah dieksekusi. 

Kok masih terdengar seperti sebuah transaksi? 

Karena memang kita hidup dalam alam yang terbentuk dari proses interaksi. Tapi jangan khawatir, transaksi nirlaba akan membawa kita terbebas dari tekanan yang melahirkan kecemasan dan kekhawatiran. 

Di level inilah nalar sadar sesuai kadar akan menjadikan makna hidup berakar. Dan cinta serta proses mencintai sudah lagi tak peduli akan imbal balik ataupun apresiasi. Mencintai bukan lagi sekedar alat untuk dicintai, melainkan semata untuk mensyukuri eksistensi diri ❤️ 

Sumber gambar:

Share:

0 komentar:

Posting Komentar