Kamis, 22 Oktober 2026

Belajar dari Merek Ayam Goreng Lokal Yogyakarta yang Digemari Mahasiswa Berkantong Tipis



Oleh Duddy Fachrudin 

Kemarin ketika mengikuti Chicken & Egg Run di Yogyakarta ada yang menyita perhatian saya. Setelah berlari kurang lebih 1 kilometer, dua orang yang usianya lebih tua, mungkin 10-11 tahun, menyalip saya. Keduanya memiliki badan berotot dan nampak berlari dengan santai karena sesekali terlihat mengobrol. Mereka berdua lantas meninggalkan saya di belakang karena saya kemudian menurunkan pace yang terlalu kencang di kilometer pertama. Khawatir jika glikogen dalam tubuh cepat habis, padahal masih ada 9 kilometer lagi.

Salah satu dari kedua orang tersebut muncul di beranda instagram. Benar orang ini, persis sekali. Rasa penasaran kemudian menyeruak ingin mencari tahu lebih lanjut. Konten instagramnya didominasi hasil jepretannya dan foto-foto lari. Namun di bionya tertulis salah satu brand ayam goreng. Ternyata setelah ditelusuri, ia seorang pemilik gerai ayam goreng cepat saji di Yogyakarta. Mereknya cukup terkenal, apalagi di kalangan mahasiswa yang berkantong tipis. Olive Chicken namanya.

Usia bisnis ayam goreng itu kini sudah 15 tahun dan gerainya di kota istimewa itu terus bertumbuh. Uniknya jumlah gerai yang semakin banyak itu bukan karena sistem waralaba atau franchise dan tanpa investor luar. Ia membangun usahanya selangkah demi selangkah, karena jika membuka sistem waralaba akan terbebani dengan balik modal atau return on investment (ROI).

Dalam mindfulness, model bisnis yang dijalankan Olive Chicken termasuk dalam sikap non-striving. Bahasa jawanya ora kemrungsung. Biasanya sikap striving memiliki karakteristik terburu-buru, jor-joran, dan ambisius, namun ora kemrungsung berarti memiliki arah dan tujuan yang jelas, positioning, dan kualitas yang terjaga, serta manajemen terkendali. Ekspansi bisnis pun tidak berlebihan, sehingga merek ini melekat pada kota Yogyakarta, meskipun tersedia juga di daerah Jawa Tengah, namun dibatasi. 

Kalau dalam filosofi Zen, bertumbuh bertahap secara sederhana dan organik merupakan bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan. Alih-alih terobsesi dengan hypergrowth melalui mekanisme marketing yang brutal sampai "membakar uang", model bisnis seperti ini menekankan kestabilan. Slow is smooth... smooth is fast. Mirip di dunia lari, agar bisa berlari cepat, justru porsi latihan paling banyak adalah easy run, bukan interval atau speed.      

Karena menganut sistem ini, maka beberapa investor terpaksa kecele memble mendapat penolakan untuk menanamkan uangnya. Bahkan infonya, usaha ayam goreng kesukaan mahasiswa berkantong tipis ini juga tidak memiliki hutang sama sekali, termasuk pinjaman kepada bank. Di saat bisnis lain memikirkan bagaimana membuka puluhan cabang baru, seperti gerai es krim M*x*e dengan modal pinjaman, maka Olive memilih untuk setia berproses memastikan ayam gorengnya selalu tersedia untuk mahasiswa berkantong tipis. 

Gambar: Foto pribadi       

Share:

0 komentar:

Posting Komentar