Selasa, 15 Agustus 2017

Proklamasi, Mindfulness, dan Kesejahteraan Bangsa Indonesia (bagian 3)


Oleh Duddy Fachrudin




Konflik Bagian Diri

Jika kita bercermin atau melihat ke dalam diri kita sendiri, adakah karakter-karakter diri atau subkepribadian (bagian-bagian diri) kita yang mirip dengan karakter Golongan Muda atau Golongan Tua yang tergambar dalam perdebatan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan? Jawabannya pasti ada. Bahkan karakter Golongan Muda maupun Golongan Tua ada di dalam diri kita. Dan tak ayal perdebatan atau konflik pun sering terjadi.

Permasalahan psikologis utama yang terjadi pada diri manusia adalah konflik dalam diri. Dan hampir setiap hari manusia mengalami konflik. Saat bangun pagi, sebagian besar dari kita menengok jam lalu setelah mengetahui pukul berapa kita bangun, bagian diri kita berkata, “Oh masih jam 3 pagi”, lalu dengan refleksnya kita menarik selimut dan bersiap tidur kembali. Tiba-tiba sebelum kita terlelap lagi, terdengar sesuatu di dalam hati, “Hei... kenapa kau tidur lagi. Ayo bangun dan sholat tahajud.” Itulah konflik antar bagian diri, dan dapat kita temui dalam kehidupan sejak bangun hingga bersiap untuk tidur kembali.

Konflik lainnya dapat dijumpai saat seorang kepala keluarga yang ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan sesuai budaya di daerahnya anaknya namun terkendala dana. Di satu sisi perlu ada resepsi karena hal itu sudah menjadi budaya bagi masyarakat sekitar, namun hatinya berkata sebenarnya ia tidak memiliki uang yang cukup dan ingin resepsi sederhana saja. Akhirnya dalam forum keluarga, acara resepsi sesuai budaya daerah diputuskan untuk dilaksanakan meskipun harus berhutang. Pada hari-H satu keluarga berbahagia, namun setelah acara itu selesai, sang kepala keluarga sering terpikir hutang tersebut. Hati dan pikirannya gelisah dan tidak tenang.

Contoh lainnya, seorang kolega penulis menceritakan dirinya memiliki klien seorang pengusaha yang ketika datang ke kliniknya membawa mobil bagus dan berpakaian rapih. Namun ketika ditanya mengenai masalahnya, klien tersebut menuturkan, “Saya takut miskin.” Bagaimana mungkin seorang pengusaha yang penghasilan dari bisnisnya sangat berlimpah lalu mengatakan, “Saya takut miskin”?

Faktanya memang mungkin. Dan sesungguhnya, terjadinya konflik tersebut karena munculnya keinginan-keinginan yang ingin segera dipenuhi. Maka konflik itu terus terjadi jika orang itu tidak mengenali keinginan-keinginannya secara sadar, atau dalam perspektif lebih luas tidak memahami dirinya sendiri.

Mindfulness

Konflik dalam diri terjadi karena pertentangan antara dua atau lebih bagian diri dalam diri kita. Saat terjadi konflik antar bagian diri, kita perlu menyadari kehadiran bagian-bagian diri tersebut. Lalu memahami apa tujuan yang diinginkan bagian-bagian diri tersebut. Dan terakhir diri kitalah yang mendamaikan mereka dengan kebijaksanaan tertinggi.

Kata kunci yang tepat dalam hal ini adalah awareness atau kesadaran. Dalam disiplin ilmu psikologi terdapat berbagai pendekatan atau metode yang tepat dalam mengelola konflik berbasis kesadaran. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah mindfulness. Berbagai jenis latihan dalam mindfulness meliputi meditasi, melakukan satu aktivitas pada satu waktu (contoh makan hanya makan saja tidak disertai aktivitas lain), berlatih mendengarkan, berdoa, bertualang di alam, merenungkan penciptaan lagit dan bumi, melakukan suatu hal positif untuk pertama kalinya, mengembangkan sikap pemula (beginners mind) atau vuja de (melihat suatu hal yang pernah dilihat sebelumnya namun dengan perspektif yang berbeda), serta tai chi atau menari dengan harmonis.

Mindfulness berorientasi pada kesadaran, perhatian, dan penerimaan. Menjadi sadar dan memahami sepenuhnya serta menerima diri termasuk bagian-bagian diri perlu dilatih dan diupayakan. Mengapa? Agar kita tidak terpeleset dalam mengambil keputusan saat terjadi konflik internal. Maka untuk itu kita perlu memberi perhatian atau mengecek pikiran, emosi, maupun niat-niat yang muncul dalam keseharian.

Pikiran yang muncul biasanya bersifat otomatis karena hasil dari tautan-tautan memori sejak masa awal kehidupan yang kemudian berkolaborasi dengan stimulus yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Pikiran otomatis berpotensi menghasilkan perilaku yang reaktif, terburu-buru atau tergesa-gesa, dan cenderung tanpa pertimbangan.

Menerapkan mindfulness berarti meingijinkan jeda sesaat sebelum bertindak. Kita mulai mengamati pikiran atau apapun yang muncul lalu mengenalinya, menerimanya, menimbang berbagai konsekuensi yang mungkin muncul atas keputusan yang kita ambil, dan pada akhirnya merespon secara bijaksana (Carmody, Baer, Lykins, & Olendzki, 2009; Shapiro, Carlson, Astin, & Freedman, 2006). Respon tersebut merdeka atau terbebas dari segala belenggu kekecewaan atau kemarahan di masa lalu maupun kekhawatiran atau ketakutan di masa depan.

1 2 Sebelumnya <> Berikutnya 4 5 6

Referensi:
Carmody, J., Baer, R. A., Lykins, E. L. B., & Olendzki, N. (2009). An empirical study of the mechanisms of mindfulness in a mindfulness-based stress reduction program. Journal of Clinical Psychology, 65(6), 613-626, doi: 10.1002/jclp.20579.

Shapiro, S. L., Carlson, L. E., Astin, J. A., & Freedman, B. (2006). Mechanisms of mindfulness. Journal of Clinical Psychology, 62, 373–386.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar