Senin, 14 Agustus 2017

Edisi Kemerdekaan: Proklamasi, Mindfulness, dan Kesejahteraan Bangsa Indonesia (bagian 1)


Oleh Duddy Fachrudin




Menyusul pernyataan kekalahan Jepang dari Sekutu di Kapal USS Missouri sehari sebelumnya, Rabu, 15 Agustus 1945 Pukul 22.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur 56, Golongan Muda yang dipimpin Chaerul Saleh berusaha meyakinkan Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan dengan sesegera mungkin. Sukarni yang juga termasuk Golongan Muda mendukung rencana Saleh. “Kita harus merebut kekuasaan!”, begitu ucapnya dengan lantang di depan para tokoh yang hadir malam itu (Soebardjo, 1978). Mereka menolak pemberiaan kemerdekaan dari Jepang yang seyogyanya direncanakan pada tanggal 24 Agustus 1945. Para tokoh yang termasuk Golongan Tua mendengarkan aspirasi mereka.

Malam semakin larut dan Golongan Muda terus menuntut Soekarno dan Hatta untuk secepatnya menyatakan kemerdekaan dengan cara mereka. Namun, Soekarno-Hatta yang mewakili Golongan Tua tidak sepakat dengan cara tersebut yang terkesan terburu-buru dan tidak terorganisir. Terlebih jika revolusi dilakukan secara tergesa-gesa dapat menimbulkan pertumpahan darah di kalangan rakyat sipil. Apalagi Soekarno berpendapat kekuatan mereka termasuk tentara Indonesia yang tidak banyak itu akan mudah dikalahkan tentara Jepang. Maka Golongan Tua memilih jalan kerjasama dengan pemerintah Jepang mengenai Proklamasi Kemerdekaan melalui PPKI atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Jiwa-jiwa yang bergejolak pada Golongan Muda tidak menerima hal itu. Mereka menganggap Soekarno dan Golongan Tua telah terbawa pengaruh Jepang dan mereka tidak menginginkan kompromi dengan PPKI karena jelas-jelas forum tersebut dibuat oleh Jepang. Golongan Muda mengambil tindakan nekat dengan “menculik” Soekarno dan Hatta pada pagi harinya ke Rengasdengklok.

Dibawanya Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok yang merupakan kota kecil dekat Karawang itu dengan maksud mengamankan dan meminta kedua tokoh itu dengan segera menyatakan kemerdekaan secara resmi tanpa pengaruh Jepang. Namun, Soekarno dengan didampingi Hatta tetap dengan rencananya. Siang itu kembali terjadi perdebatan sengit. Golongan Muda kembali menekan Soekarno. Mereka menginginkan revolusi dilaksanakan malam harinya. Soekarno sempat marah, namun beberapa detik kemudian mereda. Dengan tenang ia menjelaskan rencana Proklamasi Kemerdekaan yang telah dibuatnya di Saigon.

Semua orang mendengarkan rencana Soekarno. Pemimpin Revolusi itu merencanakan Proklamasi akan dinyatakan pada tanggal 17. Tentu, dipilihnya tanggal 17 bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut jatuh pada hari Jum’at yang merupakan hari yang penuh berkah dan memiliki banyak keutamaan di dalamnya. Angka 17 juga merujuk pada tanggal diturunkannya Al-Qur’an. Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam menunaikan sholat wajib lima waktu yang total rakaatnya berjumlah 17. Pada saat itu merupakan bulan Ramadhan yang melengkapi keistimewaan jika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dinyatakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Golongan Muda dan Tua lantas bersatu. Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Dan seorang Perwira Angkatan Laut Jepang bernama Laksamana Maeda pun turut membantu dengan “menyediakan” rumahnya sebagai tempat penyusunan teks proklamasi. Dengan segera, Soekarno, Hatta, dan Soebardjo, trio perumus teks proklamasi itu menyusun untaian kalimat demi kalimat bersejarah dalam secarik kertas.

Menjelang subuh, tanggal 17 Agustus 1945, teks proklamasi yang telah disusun dibacakan kepada para tokoh lainnya yang menunggu dengan antusias. Sajuti Melik lalu mengetiknya disaat yang lain menyantap sahur yang disediakan empunya rumah. Lantas kemudian terjadi diskusi mengenai siapa yang menandatangani teks tersebut. Dan akhirnya diputuskan bahwa Soekarno dan Hatta sebagai wakil bangsa yang menorehkan tandatangan pada naskah agung itu (Soebardjo, 1978).

Sinergi dan kolaborasi para tokoh dari dua Golongan dalam waktu yang terus memburu, memacu adrenalin memunculkan ide-ide, termasuk ide dari Sukarni yang memberi masukan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dilakukan di lapangan IKADA. Namun, sekali lagi dengan pertimbangan yang sehat, Soekarno menolaknya dengan alasan bahwa lapangan tersebut merupakan tempat umum yang memiliki potensi munculnya benturan antara rakyat dengan tentara Jepang. Soekarno mengusulkan pembacaan proklamasi dilakukan di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur 56 pada pukul 10.00 WIB.

> Berikutnya 2 3 4 5 6

Refensi:
Soebardjo, A. (1978). Lahirnya republik Indonesia. Jakarta: Kinta.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar