Sabtu, 27 Januari 2018

Mindful Learning: Mengelola Stres dan Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan

Buku Totto Chan

Oleh Duddy Fachrudin

Bagi anak-anak, buku ini adalah buku cerita anak yang mengisahkan seorang anak dan masa-masa sekolahnya yang menyenangkan. Bagi guru, buku ini dapat menjadi inspirasi bagi mereka untuk mengajar dengan lebih baik dan lebih menyenangkan. Dan bagi saya, buku ini adalah buku aplikasi mindfulness terbaik dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.

Buku ini berjudul "Totto-Chan: The Little Girl in The Window".

Tetsuyo Kuronagi alias Totto-Chan sendiri berhasil menceritakan petualangannya belajar di Tomoe Gakuen, sebuah Sekolah Dasar (SD) ajaib yang didirikan Sosaku Kobayashi. Uniknya Tomoe Gakuen sendiri berupa gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai dengan sistem pembelajaran yang bersifat student-centered sesuai minat siswa. Kurikulum yang diterapkan berbasis integrated intelligence (kecerdasan menyeluruh) yang terdiri dari beragam ilmu yang merangsang rasa ingin tahu siswa.

Totto-Chan dapat bersekolah di Tomoe Gakuen karena ia dikeluarkan dari sekolahnya gara-gara sering membuka dan menutup meja tempat ia duduk di kelas dan "memanggil" pemusik jalanan saat pembelajaran berlangsung. Gurunya mengeluh kepada ibunya, karena perilaku Totto-Chan sangat mengganggunya saat ia menyampaian pelajaran. Namun sesungguhnya, Totto-Chan berperilaku seperti itu karena ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Maka saat pertama kali masuk Tomoe Gakuen yang berupa gerbong kereta ia langsung menyukainya, termasuk ketika Mr. Kobayashi memintanya berbicara apa saja yang ia sukai pagi itu. Dengan mindful-nya, Kepala Sekolah itu mendengarkan Totto-Chan bercerita dari satu hal ke hal lainnya yang sebenarnya tidak saling berhubungan satu sama lain. Sampai akhirnya Totto-Chan sudah kehabisan cerita dan hari telah beranjak siang. Sosaku Kobayashi mendengarkan cerita seorang anak yang baru ditemuinya selama 4 jam, lalu ia berkata, "Nah sekarang kau murid di sekolah ini."

Begitulah mindful learning sudah tercipta sejak awal pertemuan Totto-Chan dan Sosaku Kobayashi. Ada paying attention, kesabaran, non-judgment, fokus, dan tentu saja rasa cinta (lovingkindness) seorang guru saat mendengarkan celotehan muridnya di awal pertemuan. Sosaku Kobayashi telah menjadi role model Totto-Chan seketika itu juga. Ia telah menjadi inspirasi seorang bocah yang dicap "nakal" oleh guru sekolah sebelumnya. Dan saya yakin Mr. Kobayashi pun telah menjadi idola bagi murid-murid lainnya.

Sosaku Kobayashi mendirikan Tomoe Gakuen karena kecintaannya pada dunia pendidikan dan anak-anak. Ia yakin bahwa setiap anak memiliki potensi atau watak yang baik. Lingkunganlah yang menyebabkan perilaku anak berbeda-beda. Maka sistem pendidikan di Tomoe Gakuen berupaya mengembangkan (cultivating) karakter siswa dengan proses pembelajaran yang holistik.

Salah satu yang khas dari pembelajaran ala Kobayashi adalah murid-murid diajak untuk iqro atau mengamati alam, misalnya mengamati dedaunan yang bergoyang dan semilir angin yang berhembus. Ia seolah memberi pesan kepada murid-muridnya untuk senantiasa "membaca" dan mengenal tanda alam sepanjang hidup mereka. Dengan metode ini, bagian-bagian otak, khususnya korteks prefrontal yang berperan sebagai fungsi eksekutif meningkat aktivitasnya.

Bersambung...

Sumber gambar:
https://sangkhay.blogspot.co.id/2016/02/sosaku-kobayashi-dibalik-kisah-totto.html
Share:

0 komentar:

Posting Komentar